Sementara Evi dan geng Ganesha sibuk dengan Proyek Julia™, dunia luar justru lebih sibuk dengan hal yang lebih penting: gosip.
Lebih tepatnya, gosip tentang Dewa dan Iyem yang katanya akan segera menikah.
Kunjungan Dewa ke lokasi syuting tempat Iyem bekerja membuat media bergetar seperti kipas angin rusak. Wartawan berlarian, kamera berkilat, dan headline esok paginya memuakkan sekaligus menghibur:
“Sang Dewa Menanti Sang Bidadari: Setia di Bawah Terik Cinta.”
Saat ditanya soal cincin berlian bermata biru di jari Iyem, Dewa hanya tersenyum. Senyum jenis itu — yang bisa membuat fans berteriak, tapi membuat manajer PR ingin mati. Ia sendiri bahkan tak tahu dari mana cincin itu datang. Namun karena kamera sudah terlanjur banyak, ia memilih opsi paling aman: diam dan tampak dalam.
Iyem tentu saja terkejut dengan kunjungan Dewa yang mendadak muncul seperti popup iklan skincare. Setelah penolakan lamaran malam gala itu, Dewa sempat hilang dari radar. Kini ia muncul lagi — lengkap dengan bunga, tatapan penuh dosa masa lalu, dan ekspresi “aku berubah, sumpah.”
Diam-diam, Iyem terharu membaca semua artikel tentang mereka. Tidak ada yang tahu kisah sebenarnya — bahwa cincin itu muncul begitu saja di jarinya. Bahwa dia sendiri tidak pernah tahu siapa yang memberikannya. Tapi manusia memang makhluk yang mudah terharu oleh kebetulan, terutama jika kebetulan itu berkilau dan difoto dari sudut yang tepat.
Sementara itu, di balik layar, Dewa sudah melapor ke ayahnya tentang niat suci menikahi Iyem. Si ayah — pria dengan ekspresi setajam kontrak bisnis — justru sumringah.
“Bagus, Nak. Akhirnya rencana kita berjalan juga,” katanya dengan nada yang membuat ‘rencana’ terdengar lebih menyeramkan daripada pernikahan itu sendiri.
Madam Juliet pun ikut mendukung sepenuh hati (dan setengah agenda tersembunyi). Bersama-sama mereka meluncurkan operasi PR terselubung — mengubah gosip menjadi kebenaran.
Foto-foto Dewa yang sabar menunggu di lokasi syuting dipajang di halaman depan tabloid dengan caption:
“Inilah Suami Idaman: Kaya, Tampan, Setia, dan Tidak Pernah Mengeluh Macet.”
Publik terpana. Manusia memang gampang jatuh cinta pada versi editan kehidupan orang lain.
Rumah baru Iyem pun jadi ziarah bagi paparazzi. Mereka mulai menanyakan tanggal pernikahan, lokasi resepsi, hingga rencana bulan madu. Evi yang sama sekali tak tahu menahu, terpaksa jadi juru bicara spiritual untuk gosip yang bukan miliknya.
“Kakak-kakak sabar ya, nanti dikabari kalau tanggalnya sudah fix,” katanya ramah — meski urat lehernya sudah mulai menonjol.
Pertanyaan pun makin tak masuk akal:
“Live streaming dong, Kak Evi!”
“Bajunya Chanel atau Dior?”
“Honeymoon-nya di Maldives apa ke puncak, Kak?”
Evi menatap kosong sejenak, seperti menimbang dosa apa di kehidupan sebelumnya yang membuatnya harus menjawab pertanyaan itu.
“Nanti ada konferensi pers kok. Udah dulu ya,” ujarnya sambil tersenyum profesional — senyum yang dalam dunia manajerial berarti “pergi sebelum saya melempar mikrofon.”
Namun di balik semua kegaduhan itu, ada satu sosok lain.
Seseorang yang tak pernah tertarik pada gosip, tapi tak pernah absen mengintai.
Pria itu adalah bayangan yang mengikuti perjalanan Evi ke Eropa — dan kini, ke Jakarta.
Ia duduk di dalam mobil hitam, mengisap rokoknya dalam-dalam seperti sedang menimbang dosa manusia. Begitu wartawan bubar, ia menjatuhkan puntung rokok ke jalan dan melaju pergi.
KAMU SEDANG MEMBACA
IYEMRELA
Mystery / Thriller- dongeng modern tentang cinta, kelas sosial, dan karma yang tak pernah tamat - Iyem hanyalah gadis kampung biasa, sampai Madam Juliet-wanita berkuasa dengan gaya bicara seperti kontrak kredit macet-menjodohkannya dengan pewaris PT DEWO. Demi kelan...
