32- Air Doa Serbaguna

26 2 1
                                        

Bude Tien terperanjat mendengar penuturan geng Ganesha tentang rencana mereka pindah rumah. Refleks, tangannya melayang ke lengan Ika.

"Enak banget nyuruh orang ngomong ke Madam Juliet! Kamu pikir beliau itu kayak Tole tukang sayur?!" bentaknya. "Aku mau ketemu Tole aja kudu mandi dulu, dandan dulu, semedi dulu!"

Ika langsung bungkam. Begitu juga dengan yang lain. Mereka hanya bisa saling melirik seperti murid SD ketahuan nyontek bareng.

Bude Tien menatap wajah satu per satu anak-anak yang dulu masih berseragam SMP—dan sekarang, sudah jadi sekumpulan perempuan muda dengan hidup yang lebih rumit daripada sinetron religi. Tapi di mata Bude Tien, mereka tetap anak-anak baik yang harus dijaga. Kalau sampai ada yang celaka, dia tak akan pernah memaafkan dirinya.

Sebetulnya Bude Tien sudah lama mencium ada yang aneh di rumah itu. Terutama malam Jumat Kliwon tanggal tiga belas kemarin. Ia mendengar sendiri dentuman di atap rumah—sesuatu yang tak pernah berani diakuinya pada siapa pun. Menurut kepercayaan orang dulu, kalau dengar suara begitu tengah malam, jangan tidur. Itu artinya ada kiriman. Kiriman yang hanya ditujukan pada satu orang.

Malam itu Bude Tien terbangun, dan entah kenapa pikirannya langsung melayang ke kamar Iyem dan anak-anak. Ia jalan pelan, mendekat ke pintu. Samar-samar, terdengar gumaman panjang dari dalam kamar—seperti orang sedang membaca mantra. Sekujur tubuhnya merinding, apalagi saat aroma melati menyeruak lembut dari celah pintu.

Ia mencoba mengetuk. Terkunci. Jadi Bude Tien duduk di depan pintu sambil menajamkan telinga. Gumaman itu makin pelan, lalu lenyap. Ia tak berani pergi. Hingga subuh, ia masih duduk di sana, mematung seperti patung penjaga rumah yang pensiun setengah hati.

Sekarang, menatap wajah Iyem yang duduk di hadapannya, perasaan itu datang lagi. "Kamu juga mau pindah, Yem?"

Iyem menoleh, mengangguk pelan. Bude Tien terdiam beberapa detik, lalu berkata pelan, "Kalau gitu, jawab dulu satu hal. Apa yang terjadi malam itu? Kenapa saya dengar kayak ada yang ngaji... atau nyebut-nyebut nama Tuhan?"

Spontan semuanya menatap Bude Tien dengan mata bulat.

"Kok Bude tahu?" tanya Ika bingung. "Suara apaan?"

Bude Tien malah balik nanya, "Memang kalian bersuara?"

Mereka serempak menggeleng. Iyem juga kelihatan bingung, seolah baru sadar ia ikut dalam episode mistik yang tak ada skrip-nya.

Ika maju pelan, menunduk, lalu berbisik ke telinga Bude Tien, "Bude, itu alasan kami mau pindah. Rumah ini aneh. Serem. Dan kayaknya, Iyem dalam bahaya."

Bude Tien menatap Ika tanpa berkedip. Kali ini, gadis itu tak terlihat sedang bercanda.

"Kita harus pindah secepatnya. Sebelum terlambat."

Bude Tien menarik napas panjang. "Apa yang sebenernya terjadi malam Jumat itu?"

Dengan pasrah, Ika pun menceritakan seluruh kejadian: dentuman, tubuh Iyem yang melayang, lingkaran tangan, darah dari mulut—semuanya. Bude Tien mendengarkan tanpa berkedip, seperti sedang menyusun laporan ke polisi metafisika.

Satu nama langsung muncul di kepalanya: ibu tiri Iyem di kampung.
Hanya perempuan itu yang cukup tega mengirim sesuatu sejauh ini.

"Waktu itu, kalian baca apa?" tanya Bude Tien lagi. "Saya denger kayak doa. Tapi nggak jelas."

Ika berpikir keras, mengingat detik-detik ketika tubuh mereka bergetar. "Kalimat yang kepikiran cuma satu... tiada Tuhan selain Allah."

Yang lain sontak menatap Ika bersamaan.

IYEMRELATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang