Sudah enam bulan berlalu sejak Isabella dinyatakan koma.
Koma yang sama setiap hari, tapi dengan jadwal kunjungan yang konsisten: jam tiga sore, Detektif Thomas.
Isabella masih dalam kondisi vegetatif-sebuah istilah medis yang terdengar sopan untuk "tidak ada kemajuan." Tapi bagi Thomas, setiap kedipan lampu infus adalah tanda harapan.
Ia datang saban hari, duduk di kursi yang sama, bercerita tentang kasus-kasus remeh, keluhan rekan kerja, dan kadang tentang harga tembakau yang naik. Sering kali ia memperhatikan gerakan samar di kelopak mata Isabella-seolah wanita itu mendengar dan menertawakan kebosanan hidupnya dari alam lain.
Kadang jari Isabella bergerak saat Thomas menggenggam tangannya.
Bagi dokter, itu refleks saraf.
Bagi Thomas, itu sinyal.
Cinta memang sering salah tafsir, bahkan ketika yang dicintai tak bisa bicara.
"Isabella, aku akan kembali lagi besok."
Itu kalimat perpisahan wajibnya setiap sore.
Seperti doa harian bagi orang yang tak tahu lagi cara berdoa.
Dokter sudah lama pesimis.
"Kemungkinannya kecil sekali, Detektif."
Thomas hanya tersenyum tipis. Ia tak butuh statistik; ia hanya butuh alasan untuk datang lagi besok. Ia membayar seluruh biaya rumah sakit Isabella dengan sabar yang bahkan malaikat pun akan iri. Dalam pikirannya, Isabella bukan koma-hanya tertidur lama. Dan pada malam ketika ia mendengar bisikan lembut memanggil namanya, ia yakin itu bukan halusinasi. Itu panggilan.
Kasus kematian Lorenzo dan Arthur akhirnya dibekukan.
Bukti yang ada tak lebih dari kebingungan administratif: dua jasad membusuk tanpa sebab, satu ibu yang tertidur tanpa tenggat waktu.
Thomas, Chris, dan Bruno kini duduk di ruang arsip, menumpuk map ke dalam kotak kayu-sebuah pemakaman administratif untuk kasus yang tak selesai.
"Apa kita akan pernah bisa membuktikan kalau mereka dibunuh?" tanya Bruno, dengan nada yang lebih cocok untuk khotbah Minggu.
Thomas tak menjawab. Ia tahu, dalam dunia yang dijalankan oleh rumor dan aristokrat, kebenaran hanyalah tamu yang datang tanpa undangan.
Penyelidikan tentang leluhur Madam Anne pun buntu. Elisa, nenek buyut yang dikenal jahat, lenyap dari catatan sejarah. Julia-si kembaran yang konon baik hati-bahkan tak meninggalkan kuburan yang jelas.
"Kenapa aku merasa semua ini gara-gara wanita itu," gumam Chris, setengah bercanda, setengah takut kalau kata-katanya benar.
Thomas menatap kedua koleganya.
Ia ingin menjawab bahwa kejahatan memang sering memakai parfum mahal dan nama keluarga tua.
Tapi yang keluar dari mulutnya hanya helaan napas panjang-
dan tatapan kosong ke arah jendela, seolah sedang mencari tanda-tanda dari langit yang sudah terlalu muak dengan manusia.
"Evi!" seru Alice begitu melihat mata sepupunya terbuka.
Evi menatap sekeliling dengan tatapan kosong yang masih setengah hidup.
"Gua kenapa? Ini di mana? Jangan bilang gua di neraka, ya."
"Ya Tuhan, lo bikin jantungan orang!" bentak Alice-tapi nadanya lebih mirip orang lega ketimbang marah.
Selama dua jam terakhir, Alice sudah menyiapkan skenario terburuk: mengurus repatriasi jenazah dari Inggris ke Jakarta. Ternyata cuma pingsan. Hidup memang suka berlebihan.
KAMU SEDANG MEMBACA
IYEMRELA
Mystery / Thriller- dongeng modern tentang cinta, kelas sosial, dan karma yang tak pernah tamat - Iyem hanyalah gadis kampung biasa, sampai Madam Juliet-wanita berkuasa dengan gaya bicara seperti kontrak kredit macet-menjodohkannya dengan pewaris PT DEWO. Demi kelan...
