21- Koma, Cut!

29 3 1
                                        

Pada malam pesta ulang tahun itu, Iyem sudah dijaga seolah negara kecil baru saja memproklamasikan kemerdekaannya.
Evi menugaskan tiga pengawal pribadi—rekomendasi dari papanya yang pengacara. Katanya, demi keselamatan Iyem. Padahal diam-diam, Evi cuma ingin berjaga kalau ada kejadian aneh lagi, seperti malam gala tempo hari.

Iyem sempat protes, tentu saja.
Menurutnya, pengawal hanya dibutuhkan oleh presiden, bukan oleh perempuan yang ulang tahunnya masih bisa ditiup dengan lilin supermarket. Tapi Evi menatapnya dengan ekspresi manajer yang tidak mengenal demokrasi.

“Keselamatan kamu tanggung jawab aku. Kamu kerja apa yang harus kamu kerja, aku jaga apa yang harus aku jaga,”
katanya dengan nada yang membuat semua alasan terdengar konyol.

Iyem pun menyerah. Ada hal-hal di dunia ini yang tidak bisa dimenangkan oleh logika, terutama kalau berhadapan dengan Evi.

Sekarang, di balik balutan gaun putih gading yang berkilau di bawah lampu gantung, Iyem tampak seperti versi upgrade dari dirinya sendiri—versi yang akan membuat para mantan berdoa agar reinkarnasi itu nyata. Aula penuh dengan tawa, bunga, dan orang-orang yang menganggap kehadiran mereka adalah hadiah.

Evi berdiri di kejauhan, memperhatikan setiap gerak Iyem dengan tatapan seperti penjaga museum yang waspada: satu retakan kecil, dan seluruh sejarah bisa runtuh.

Dan di antara kerumunan, mata Iyem menangkap sosok lelaki itu.
Ia berdiri dengan tenang, mengenakan setelan abu-abu, memegang segelas anggur seperti seseorang yang tahu rahasia semua orang di ruangan ini.

Eddy.

Nama itu melintas di benaknya pelan, seperti lagu lama yang tiba-tiba diputar ulang di radio.

Iyem tersenyum lalu melangkah mendekati pria yang sedang mengobrol dengan seorang tamu.
Langkahnya pelan, tapi hatinya riuh—seolah sedang menuju altar, bukan meja koktail.

“Mas Eddy?” sapanya, nyaris berbisik tapi cukup untuk membuat pria itu menoleh.

Eddy menatapnya dan tersenyum. “Cindy. Selamat ulang tahun. Kamu cantik sekali malam ini.”
Suaranya tenang, tapi kalimatnya punya efek seperti parfum mahal—menyelinap, samar, dan bertahan lama.

Iyem tersipu. Ia sudah menantikan momen ini sejak pertemuan mereka di restoran. Selama dua bulan, tak ada kabar, tak ada pesan, bahkan emoji pun tidak. Tapi sekarang, di tengah pesta dan lampu kristal, semuanya terasa masuk akal lagi. Kadang, Tuhan memang suka bercanda dengan waktu.

“Akhirnya kita ketemu lagi, Mas,” ujarnya, hampir lega.

Eddy malam itu tampak seperti versi hidup dari lukisan yang dilapisi rahasia. Tuxedo abu-abu yang ia kenakan membuatnya tampak seperti bangsawan yang tersesat di pesta rakyat, tapi betah.
Iyem berusaha menjaga pandangan tetap sopan, tapi sepertinya matanya punya niat lain.

Eddy menatap ke arah tiga pengawal bersetelan hitam di dekat Iyem.

“Pengawal kamu banyak sekali,” katanya sambil tersenyum.

Iyem nyengir malu. “Itu kemauan Evi. Katanya, biar aku nggak diculik lagi. Padahal aku rasa yang butuh pengawal justru dia, biar nggak stres tiap hari.”

Eddy mendekat sedikit, lalu berbisik lembut.

“Kamu memang kelihatan seperti istri raja malam ini.”

Iyem mendadak lupa cara bernapas. Pipinya memanas, dan seluruh neuron otaknya sepakat untuk tidak bekerja sementara waktu.
Ia cepat-cepat berpura-pura sibuk menyapa tamu lain—lebih aman daripada berhadapan langsung dengan kemungkinan jatuh cinta lagi.

Namun dari jauh, matanya tak berhenti mencari sosok itu.
Eddy dikerumuni beberapa wanita glamor dengan tawa mengalun manja. Iyem mendesah kecil. Kadang yang paling tampan di ruangan juga yang paling sulit dilupakan, dan paling menyebalkan untuk disaksikan sedang tertawa dengan orang lain.

IYEMRELATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang