Evi belum berani menceritakan rencananya kepada Iyem. Ia tahu betul, gadis itu bisa panik hanya karena rambutnya rontok tiga helai, apalagi kalau diberitahu bahwa sahabat sekaligus manajernya mungkin terjebak kisah reinkarnasi abad keenam belas. Untuk sementara, kebenaran akan disimpannya sendiri—setidaknya sampai dia menemukan bukti, atau mati mencoba.
Pagi itu, Evi bersiap menuju bandara. Aura pahlawan lokal terpancar dari langkahnya: koper satu, tiket satu, beban eksistensial lima kilo. Kedua orang tuanya menyambut dengan senyum lega—bukan karena bangga, tapi karena anak itu akhirnya bisa menghasilkan uang sendiri tanpa menodong tabungan keluarga.
“Hebat kali anak kita ini,” kata Papa Maruli Pardede sambil menepuk pundaknya.
“Makanya, dari dulu kutahu dia bukan tipe sarjana, tapi tipe yang langsung kaya,” sahut Mamanya.
Evi hanya tersenyum kecut. Kalau doa bisa berbentuk sarkasme, maka itu barusan adalah berkat yang sah.
Dalam perjalanan ke bandara, mobil melaju perlahan di tengah kemacetan. Evi menatap ke luar jendela—mobil-mobil berdesakan seperti kehidupan: semuanya ingin lebih dulu, padahal ujungnya tetap sama—lampu merah dan frustrasi.
Tanpa sadar, kelopak matanya turun.
Thomas menatap tubuh pria yang sudah membiru. Wajahnya tenang, tapi matanya bicara banyak: kebingungan, ketakutan, dan sedikit lapar. Polisi di sebelahnya, Harry, berbisik, “Menurutmu pembunuhan?” Thomas menatap lagi mayat itu, lalu menggeleng. “Saya tidak yakin, Harry. Tapi seseorang sudah lebih dulu tahu jawabannya.”
Evi terbangun mendadak, napasnya tersengal. “Apa-apaan itu barusan…” gumamnya. Ia meraih ponsel dan menekan nomor Eddy.
“Mas, aku mimpi aneh lagi. Ada mayat, ada polisi, ada aku.”
Eddy diam sejenak, lalu terdengar tarikan napas dalam dari seberang.
“Sepertinya penglihatanmu makin kuat. Di sana, kamu akan lihat lebih banyak. Hati-hati, Evi.”
Kalimat terakhir itu menggantung lama di kepalanya. Hati-hati dari apa? Dari kebenaran, atau dari dirinya sendiri?
Belum sempat menjawab, semesta langsung memberi contoh. Dari arah kiri, sebuah truk kontainer menyambar dengan kecepatan absurd.
“AWAS, PAK!!” teriak Evi, refleks seperti guru olahraga kesurupan.
Supir langsung injak rem sekuat tenaga. Bunyi ciettttt! disusul gedebug! dari mobil di belakang. Dunia bergoyang.
Setelah semuanya berhenti, Evi masih terpaku.
“Bapak nggak apa-apa?”
Supirnya tersenyum lega. “Nggak, Mbak. Saya sudah biasa ditabrak kehidupan.”
Kecelakaan itu membuat mereka terlambat dua jam dan hampir ketinggalan pesawat. Tapi Evi selamat—dan dalam hidup, itu sudah cukup spektakuler.
Di dalam kabin kelas bisnis, Evi menatap menu makan malamnya: pasta mediterania dengan nama yang tidak bisa diucapkan. Ia menyeruput jus tomat, menatap langit-langit pesawat, dan menggumam:
“Kalau ini takdir, setidaknya takdirnya enak.”
Lalu ia memejamkan mata, berharap mimpi selanjutnya tidak mengandung mayat atau truk. Tapi siapa tahu—kadang hidup lebih absurd daripada tidur.
Thomas menatap wanita muda yang berteriak histeris di depan kamar hotel. Gaunnya tampak kusut, rambutnya berantakan, tapi wajahnya—oh, wajahnya menyimpan tragedi berlapis.
“Lorenzo! Buka pintu! Aku tahu kamu di dalam!”
Dua polisi menahannya, tapi wanita itu menangis, memohon seperti yang biasa dilakukan para kekasih di babak terakhir kisah cinta yang buruk. Thomas mendekat, menghela napas panjang—ia selalu benci bagian ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
IYEMRELA
Детектив / Триллер- dongeng modern tentang cinta, kelas sosial, dan karma yang tak pernah tamat - Iyem hanyalah gadis kampung biasa, sampai Madam Juliet-wanita berkuasa dengan gaya bicara seperti kontrak kredit macet-menjodohkannya dengan pewaris PT DEWO. Demi kelan...
