12- Dinner, Darling, dan Daya Listrik Nasional

62 4 0
                                        

Saking gugupnya membayangkan kencan pertamanya, Iyem sudah duduk di depan meja rias selama satu jam dengan sisir di tangan. Gugup karena malam ini bukan sembarang kencan—ini kencan pertama yang disahkan oleh pasal empat perjanjian cinta.
Setelah kesepakatan dengan Dewa dan berbagai pihak yang terdengar seperti panitia tender nasional, mereka akhirnya setuju makan malam di hotel berbintang lima. Sebuah kencan yang lebih cocok disebut acara kenegaraan kecil, tapi Iyem menelan semua protesnya.

“Kamu tidak apa-apa kalau kita dinner di sana?” tanya Dewa di telepon semalam.
“Makanannya enak, Mas?” balas Iyem polos.
“Aku tidak tahu selera kamu. Mau coba dulu di sana?”

Nada suaranya lembut sekali, seperti disponsori oleh parfum mahal. Iyem sampai berpikir, apakah semua anak konglomerat berbicara seolah sedang membacakan puisi cinta di iklan asuransi?

Ia masih menatap wajahnya di cermin, membayangkan percakapan itu. Di belakangnya, Bude Tien dan Lisa sudah duduk manis selama satu jam tanpa suara. Tak jelas apakah mereka kagum, prihatin, atau sekadar terjebak dalam tontonan manusia yang sedang jatuh cinta pada konsep kencan.
Sesekali keduanya saling pandang, seolah berkata tanpa kata: Dia yang gila, atau kita yang sabar berlebihan?

Namun apapun alasannya, keduanya bahagia. Karena bagaimanapun, sahabat kecil mereka—si anak juragan material dari kampung—malam ini akan berkencan dengan lelaki paling ngetren di bumi +62.
Lisa bahkan sudah bersumpah diam-diam akan memastikan lelaki itu tak bisa lepas dari pesona Iyem. Kariernya bergantung pada keberhasilan cinta orang lain—suatu profesi yang tidak pernah diiklankan di LinkedIn.

Ketika Madam Juliet menanyakan nama baru untuk gadis itu, Lisa spontan menjawab,

“Bagaimana dengan nama Cindy?”
Madam tersenyum tipis.
“Hmm… Cindyemrela.”

Nama itu lahir begitu saja—seolah Tuhan sedang bercanda.

Dalam perjalanan menuju hotel, telepon Iyem berdering. Di layar, nama Madam Juliet muncul seperti pengingat utang pajak.

“Iyem, mulai sekarang nama kamu adalah Cindy,” kata Madam datar.
“Iya, Bu,” balas Iyem refleks.
“Say it.”
“Nama saya Cindy.”
“With English, please.”
“My name is Cindy.”
“Good.”

Sambungan langsung terputus. Tidak ada ucapan selamat atau doa agar kencannya sukses.

Iyem menarik napas panjang. Dalam hati ia mengumpat dengan sopan. Aku lebih suka namaku sendiri. Setidaknya ‘Iyem’ terasa seperti manusia, bukan brand kosmetik baru.

Lisa yang duduk di sampingnya menatap wajah Iyem yang berubah muram.

“Kamu baik-baik saja, Yem?”
Iyem tersenyum lelah.
“Baik, Mbak Lisa. Tapi… my name is Cindy.”
Lisa ikut tersenyum getir.
“Oke, Cindy. Nice to meet you.”

Aji yang menyetir di depan pura-pura fokus ke jalan, padahal ikut mendengar semuanya. Ia sempat menatap wajah Iyem lewat kaca spion dan bergumam pelan dalam hati:

“Perjalanan hidupmu tidak akan mudah, Nak. Sekalipun ketenaran dan kekayaan sudah di tanganmu.”

Dan sore itu, mobil yang membawa mereka ke hotel tampak seperti kereta kencana menuju dunia yang indah, absurd, dan sedikit beracun.

Tak ada satu pun manusia yang tidak menoleh ketika Iyem melangkah masuk ke lobi hotel. Gaun hitam rancangan desainer ternama itu membuatnya tampak jauh lebih dewasa daripada umurnya. Tidak ada yang akan percaya bahwa gadis itu baru SMA. Rambut hitam panjangnya dibiarkan terurai, berkilau bagai iklan sampo dekade sembilan puluhan.
Lisa berjalan di sampingnya dengan dada sedikit membusung; malam itu, ia merasa seperti manager of destiny.

IYEMRELACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang