Jono duduk di ruang kerjanya yang setengah gelap, hanya diterangi cahaya bulan yang menembus kaca jendela. Dari balik tirai, Jakarta tampak seperti papan sirkuit raksasa: berkilau, berisik, dan entah kenapa selalu hidup lebih lama dari penghuninya.
Ia menatap kota itu lama, seolah sedang mencari wajah seseorang di antara neon dan debu.
Dunia mengenalnya sebagai sutradara flamboyan - pria yang tahu cara menata adegan menangis dengan pencahayaan yang seksi. Namun tidak banyak yang tahu, di dalam kepalanya, Jono masih anak kecil yang ditinggalkan ibunya di stasiun, menunggu kereta yang tak pernah datang.
Dia bukan anak dari kisah bahagia.
Dia adalah hasil dari satu malam mabuk dan kesalahan dua orang dewasa yang terlalu yakin cinta bisa dikejar pakai visa pelajar.
Ayahnya, produser Amerika yang sukses, hanya meninggalkan nama di akta kelahiran dan rasa ingin muntah di hati ibunya.
Sementara ibunya-mahasiswi yang tak sempat lulus karena melahirkan dirinya-berjuang di bawah garis kemiskinan sampai akhirnya menyerah, menitipkan anaknya dari satu keluarga ke keluarga lain seperti amplop yang tak tahu alamat tujuannya.
Dalam hidupnya, Jono belajar bahwa kasih sayang punya tanggal kadaluarsa, dan uang bisa memperpanjang masa simpannya.
Masa remaja Jono dihabiskan dengan hal-hal yang orang dewasa pura-pura tidak tahu.
Ia merokok bukan untuk gaya, tapi untuk mengisi paru-paru yang kosong.
Ia belajar menulis skenario bukan karena suka, tapi karena itu satu-satunya cara untuk berbohong secara legal.
Dan seperti kebanyakan tokoh di filmnya kelak, ia tumbuh dengan dua hal yang sama: rasa bersalah dan humor yang sarkastik.
Namun malam-malam sunyi selalu menagih janji yang sama: "Kalau aku sukses, aku akan temukan Ibu."
Sebuah janji sederhana yang lama-lama terdengar seperti kutukan.
Jono pernah mencarinya. Menyewa detektif, membuka catatan rumah sakit, bahkan menyogok biarawati di panti sosial.
Hasilnya nihil. Ibunya seolah menguap dari dunia, meninggalkan aroma doa dan sedikit hutang listrik.
Hingga suatu hari, Jono bertemu Madam Juliet-wanita yang memiliki semua hal yang ia kejar: kuasa, uang, dan tenang yang mengintimidasi.
Dalam tatapan Juliet, Jono menemukan sesuatu yang lebih menakutkan dari masa lalunya: seseorang yang tahu segalanya tentangnya.
Suatu sore, sambil memutar anggur di gelas kristal, Juliet berkata lembut seolah menawarkan diskon:
"Kau ingin menemukan ibumu, bukan?"
Pertanyaan itu menancap lebih tajam dari candu apa pun yang pernah ia cicipi.
Dan karena hidup memang ironi, tawaran itu datang dengan syarat.
"Aku akan bantu kau temukan ibumu, Jono. Tapi sebagai gantinya, suatu hari nanti... kau bantu aku membentuk seseorang. Gadis muda. Dia akan kuberikan padamu nanti."
Jono menatapnya lama. Ia tahu tidak ada yang gratis di dunia ini, apalagi dari tangan wanita yang bisa menyalakan atau mematikan karier seseorang dengan satu telepon.
Namun rasa rindu membuat orang bodoh menjadi berani.
"Baik, Juliet," katanya akhirnya. "Aku akan lakukan apa pun."
Juliet tersenyum tipis. Senyum orang yang tahu sudah memenangkan perang tanpa menembakkan peluru.
Tiga bulan kemudian, Jono benar-benar menemukan ibunya.
Tapi hanya di atas tanah, di sebuah pemakaman kecil di pinggiran kota.
Nisan itu sederhana-lebih sederhana dari doa yang dulu ia ucapkan.
Dan saat itu juga, ia tahu, perjanjiannya dengan Juliet sudah resmi menjadi kutukan.
Ia kembali ke Jakarta dengan mata merah dan hati kosong.
Juliet menyambutnya dengan sepotong kalimat yang seolah ditulis langsung oleh iblis yang berpendidikan:
"Kau sudah menemukan ibumu. Sekarang, waktunya kau menepati janji."
Jono tak bertanya lagi. Ia hanya mengangguk, karena begitulah cara orang kalah mencintai.
Hingga suatu pagi yang pengap, Juliet akhirnya menelpon.
Nada suaranya dingin dan berlapis logam.
"Gadis itu sudah siap. Namanya Cindy. Buat dia terkenal."
"Terkenal?" tanya Jono, setengah geli.
"Ya, terkenal. Tapi jangan sekadar dikenal-buat dia diingat."
Juliet mematikan telepon, meninggalkan gema di kepala Jono seperti kalimat sutradara buruk yang tak tahu cara menutup adegan.
Jono terdiam lama. Dalam kepalanya, banyak hal sudah ia ciptakan-film, kisah, karakter.
Namun untuk pertama kalinya dalam hidup, ia merasa justru ia-lah yang sedang disutradarai.
Beberapa minggu kemudian, ia melihat gadis itu-Cindy-di depan kamera.
Dan entah kenapa, sesuatu di mata gadis itu membuat Jono merinding.
Ada keheningan yang ia kenal, semacam luka yang tidak tahu harus berteriak atau tersenyum.
Senyum Cindy seperti milik orang yang pernah mati, lalu diberi kesempatan kedua hanya untuk membuat penonton menangis.
Jono tahu malam itu, hidupnya tidak akan pernah sama lagi.
Dan mungkin, Juliet juga tahu.
* * *
KAMU SEDANG MEMBACA
IYEMRELA
Misterio / Suspenso- dongeng modern tentang cinta, kelas sosial, dan karma yang tak pernah tamat - Iyem hanyalah gadis kampung biasa, sampai Madam Juliet-wanita berkuasa dengan gaya bicara seperti kontrak kredit macet-menjodohkannya dengan pewaris PT DEWO. Demi kelan...
