Rumah megah yang menjulang di depan Nurjanah tampak seperti kastil dari telenovela yang pernah ia tonton di warung bakso.
Pintu gerbangnya tinggi, catnya mengilap seperti masa depan orang lain, dan patung singa di depannya menatap Nurjanah seolah ingin berkata, “Ngapain kamu di sini, Mbak?”
Jantungnya berdetak lebih cepat.
Mungkin karena gugup, atau karena sandal jepitnya tidak pantas menginjak paving selembut hati orang kaya. Ia mengelus tengkuk lehernya—bukan karena gatal, tapi karena firasatnya berisik.
Namun tekadnya sudah sekeras kerak nasi di bawah magic com: hari ini, dia harus menemui wanita itu.
Wanita yang katanya bisa membantu mengembalikan semangat hidup lelaki yang diam-diam ia cintai sejak Purwanto masih punya gigi depan lengkap.
Ruang tamu rumah itu memantulkan cahaya ke segala arah. Nurjanah merasa seperti upik abu yang tersesat di toko chandelier. Sofa-nya lebih empuk dari kasur kos, karpetnya seperti awan, dan bahkan tatakan gelasnya berlogo huruf E—entah untuk Evi, Elite, atau Ego.
Tapi Nurjanah mencoba teguh. Ia datang membawa niat suci dan bekal biskuit Roma kelapa di tas, kalau-kalau lapar menunggu.
Wanita itu akhirnya muncul. Langkahnya seperti iklan parfum yang disponsori Tuhan.
Rambutnya ikal mengilap, mirip mie goreng capcay tapi mahal.
Nurjanah menatap dengan kagum sekaligus sedikit ingin jambak—rasa yang kompleks, seperti cinta bercampur iri dan sedikit keringat dingin.
“Laki-laki tidak berguna,” gumam wanita itu.
Pelan, tapi menusuk.
Nurjanah membeku. Ia ingin berteriak, tapi yang keluar hanya suara batuk kecil yang tidak heroik sama sekali.
“Berguna atau tidak,” katanya akhirnya, “nyatanya kamu pernah jadi kekasihnya, dan sekarang dia sekarat gara-gara kamu.”
Nada suaranya tegas. Untuk sepersekian detik, dia merasa seperti pahlawan di sinetron. Lalu sadar: dia tetap pelayan.
Wanita itu menatapnya. Tatapannya tajam, tapi senyumnya seperti iklan skincare yang menipu.
“Kamu mencintai Purwanto?” tanyanya.
Pertanyaan itu seperti batu jatuh ke kepala Nurjanah.
“Aku akan menjaganya sampai dia kembali seperti dulu,” jawabnya mantap, sambil berharap kalimatnya tidak terdengar seputus asa itu.
“Kalau begitu, tidak ada yang bisa saya lakukan,” kata wanita itu, bangkit dari sofa dengan elegan yang menyebalkan.
Nurjanah tak tahan lagi. “Aku akan lakukan apapun!” katanya, lalu—tanpa aba-aba—bersimpuh di lantai seperti pemain sinetron episode ke-432.
“Tolong datang ke tempat Mas Pur. Dia benar-benar nggak mau hidup lagi sejak kamu menikah!”
Wanita itu menatap, lalu melipat tangan di dada. Senyumnya tipis.
“Kamu yakin mau melakukan apapun?”
“Iya,” jawab Nurjanah cepat. “Apa pun.”
“Hati-hati dengan kata ‘apa pun’. Dunia ini hobi menagih janji.”
Wanita itu mendekat, berbisik di telinga Nurjanah.
Kalimatnya pendek, tapi bikin bulu kuduknya berdebat: antara merinding atau kabur.
Sebelum sempat ia bertanya maksudnya, pandangannya berputar. Dunia berubah jadi buffering.
“Ya Tuhan,” desisnya, “kenapa aku kayak sinyal 3G?”
Tubuhnya limbung, dan di antara kabut kesadarannya, ia sempat melihat wanita itu tersenyum.
Senyum lebar, dengan gigi yang entah kenapa terlalu banyak untuk ukuran manusia normal.
Tawa menggema.
Nurjanah ingin berdoa, tapi keburu ingat kalau terakhir kali dia mengaji itu pas lomba antar-RT tahun 1985.
Lalu—gelap.
* * *
KAMU SEDANG MEMBACA
IYEMRELA
Misterio / Suspenso- dongeng modern tentang cinta, kelas sosial, dan karma yang tak pernah tamat - Iyem hanyalah gadis kampung biasa, sampai Madam Juliet-wanita berkuasa dengan gaya bicara seperti kontrak kredit macet-menjodohkannya dengan pewaris PT DEWO. Demi kelan...
