28- Charlotte Vs Julia

32 2 3
                                        

Thomas menatap keluar jendela rumah sakit dengan wajah yang nyaris sama pucatnya dengan tirai di belakangnya. Enam bulan sudah berlalu sejak Isabella terbaring di sana—dan dunia tampaknya tidak tergesa untuk mengembalikannya.

Dokter sudah kehabisan istilah untuk menjelaskan kebuntuan medis, jadi kini mereka menyebutnya: menunggu keajaiban.
Istilah yang terdengar ilmiah, tapi sebenarnya hanyalah bentuk sopan dari kalimat: kami tidak tahu apa-apa.

Thomas berjalan mendekati ranjang, menggenggam tangan Isabella yang dingin.
“Isabella,” bisiknya, suaranya pelan seperti orang yang sedang meminta maaf pada roh.
“Apa yang harus aku lakukan?”

Airmatanya jatuh—karena bahkan pria paling rasional pun bisa luluh oleh diam seorang perempuan.
“Bangunlah, Isabella,” katanya parau. “Aku mohon, bangunlah.”

Dan entah karena doa, kesetiaan, atau kebetulan yang kejam—jari-jari itu bergerak.
Thomas membeku. Dunia pun seolah berhenti di detik itu.
“Isabella!” serunya.

Kelopak mata itu terbuka, dan senyum kecil muncul di wajah pucatnya.
“Thomas,” bisik Isabella, selembut suara yang datang dari masa lalu.

Thomas hampir kehilangan nalar. Ia mencium tangan Isabella, lalu wajahnya, bahkan bibirnya—dengan kelegaan yang tampak sedikit kebablasan untuk ukuran seorang detektif.
Isabella membiarkannya. Mungkin karena masih lemah, mungkin karena bingung, atau mungkin karena... tidak ingin sendiri.

“Apa yang terjadi?” tanyanya akhirnya.
“Kau tak ingat apa pun?” balas Thomas cepat.

Isabella mencoba mengingat. Malam itu—suara keras di atap, rasa sakit yang menghantam tubuhnya, dan Arthur... ya, Arthur.
Matanya langsung menajam. “Dimana Arthur?”

Thomas menunduk. Pria seteguh dia pun bisa kehilangan logika di hadapan seorang ibu yang baru sadar dari koma.
“Arthur baik-baik saja,” katanya lirih. Bohong pertama, dan pasti bukan yang terakhir.

“Aku ingin melihatnya.”
“Nanti, kalau kau sudah pulih.”

Tatapan Isabella menembus pertahanannya. “Kau yakin Arthur baik-baik saja?”
Thomas hanya mengangguk. Doa panjang bergema di kepalanya: semoga kebohongan bisa terdengar seperti harapan.

Namun Isabella tak bodoh. Ia mengenali getar suara Thomas—dan kepedihan yang disembunyikan di matanya.
“Apa yang sebenarnya terjadi dengan Arthur?” suaranya berubah, rendah dan bergetar.

Thomas menelan ludah. Ia tahu, tidak ada kalimat yang bisa menyembuhkan hati seorang ibu. Tapi kebenaran, kadang, harus keluar meski berlumur dosa.
“Isabella... waktu aku menemukan kalian, Arthur sudah tidak bisa diselamatkan.”

Isabella menatapnya, membeku, lalu pecah dalam tangis yang membuat ruangan itu terasa lebih sempit dari penjara.
“Tidak! Dia tidak mungkin mati! Aku tidak pernah berbuat jahat padanya! Kenapa dia harus membunuh anakku juga?! Kenapa?”

Thomas tertegun. “Siapa, Isabella? Siapa yang ingin membunuh kalian?”
Namun Isabella hanya menggeleng, menangis seperti anak kecil yang baru kehilangan langit.

Thomas memeluknya. Pelukan seorang pria yang tak tahu cara menenangkan dunia. Isabella mencoba menolak, tapi akhirnya pasrah dalam tangis. Hingga lelah. Hingga diam.

“Di mana Arthur dimakamkan?” suaranya kecil, tapi menggigit.
Thomas menatapnya lama. “Isabella...”
“Aku ingin melihatnya. Tolong bawa aku ke sana.”

Tatapan mata itu membuat Thomas tak berani menolak. Ia tahu, beberapa luka hanya bisa diredakan dengan melihat lubangnya sendiri.

Hari itu juga, ia membawa Isabella keluar dari rumah sakit.
Ketika mereka tiba di depan gerbang pemakaman, Isabella tertegun. Ia mengenali tempat itu—pemakaman keluarga Madam Anne.
Thomas langsung menjelaskan, dengan nada hati-hati seperti orang yang baru saja belajar berdusta dengan elegan.

IYEMRELACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang