8- Madonna dari Blora

54 5 0
                                        

Seperti pekerja kantoran yang sudah tahu posisi printer dan cara berpura-pura sibuk, Iyem mulai terbiasa dengan ritme hidupnya di tahun pertama sekolah Jakarta.
Pelajar normal biasanya hanya pusing dengan tugas dan kegiatan ekstrakurikuler.
Iyem? Ia menjalani super ekstra kurikuler: duta acara sekolah, model sambilan, sekaligus penulis paruh waktu. Hasilnya: sibuk, kelelahan, tapi bahagia dengan gaya yang sedikit menyerupai selebriti.

Popularitas datang lebih cepat daripada nilai rapornya.
Setiap hari, daftar fans dan haters bertambah seperti tagihan listrik di akhir bulan.
Ada penggemar rahasia yang sembunyi di balik akun palsu, ada pembenci yang gemar memantau setiap unggahan untuk mencari kesalahan tanda baca.
Iyem kini jadi simbol sekolah-meski tak seorang pun tahu simbol apa. Mungkin simbol bahwa kecantikan kadang lebih kuat daripada kurikulum.

Julukannya: Madonna dari Blora.
Apa pun yang ia kenakan akan segera diikuti. Bahkan logat Jawanya yang dulu ditertawakan kini jadi tren linguistik baru:
"Mas, jangan lupa PR!" ujar anak-anak borju dengan lidah medok hasil latihan.

Di mata mereka, Iyem imut sekaligus seksi-kombinasi langka di sekolah yang lebih banyak menghasilkan murid pandai tapi berjerawat.
Sebelum Iyem muncul, posisi itu dipegang oleh Sophia, kakak kelas satu tahun di atasnya.
Sophia bukan sembarang primadona: wajah cantik, nilai tinggi, bahasa Inggris seperti presenter internasional, dan piala debat nasional berderet di lemari sekolah.
Ia dikenal sebagai gadis yang bisa mengalahkan lawan debat tanpa meninggikan suara, cukup dengan senyum yang menghina secara akademis.

Namun sejak kedatangan Iyem, sinarnya meredup seperti lampu taman di siang bolong.
Dan tak ada yang lebih menyakitkan bagi seorang bintang selain menyadari bahwa panggungnya kini dipakai orang lain tanpa izin.

Ketika pihak sekolah menunjuk Iyem menggantikan posisi "duta besar acara sekolah," Sophia mencoba protes dengan sopan.
Jawaban guru hanya sesingkat tamparan:

"Kita beri kesempatan ke yang lebih muda, ya."

Seberapa "tua" seorang remaja berusia tujuh belas tahun?
Kalimat itu menempel di kepala Sophia seperti lagu iklan yang tak mau hilang.
Sejak hari itu, ia mulai mempercayai hal-hal yang dulu ia remehkan-seperti filler, botoks, dan tiket promo ke Seoul.

Ibunya, seorang penganut garis keras estetika, langsung mendukung.

"Lebih muda, lebih bagus perawatannya, sayang!"
Begitulah logika keluarga yang menganggap kebahagiaan bisa di-top up lewat hidung mancung baru.

Namun bencana sejati datang bukan dari jarum suntik, melainkan dari pengkhianatan.
Evi, tangan kanan sekaligus ajudan pribadinya, tiba-tiba berpindah kubu.
Begitu Iyem membuka "lowongan manajer pribadi"-entah ide dari mana-hampir delapan puluh persen siswa mendaftar, termasuk Evi.

Siapa yang menolak kesempatan menjadi manajer Madonna sekolah?
Selain honor yang entah dibayar dengan apa, posisi itu menjanjikan gengsi sosial dan-yang lebih penting-foto Instagram eksklusif di belakang panggung acara.

Evi akhirnya terpilih.
Alasannya sederhana: Iyem ingin manajer yang tangguh, dan Evi memang seperti centeng pasar yang lahir dari batu bata.
Tapi alasan sejatinya lebih licik:
Ia ingin tahu kenapa musuh sekolah selalu punya pengikut fanatik.

Kabar itu membuat Sophia seperti kehilangan naskah hidupnya sendiri.
Dulu semua sorot mata tertuju padanya, kini ia bahkan tidak masuk dalam frame.
Ia mulai menanyakan hal-hal eksistensial yang biasanya hanya muncul di tengah krisis paruh baya:

"Apa artinya hidup kalau tidak ada yang memperhatikan eyeliner-mu?"

Apakah ia cemburu pada Iyem?
Mungkin.
Tapi Sophia lebih seperti ilmuwan yang tersinggung oleh hasil eksperimen yang tak logis.
Ia, sang juara debat, kalah oleh gadis yang dulu tak tahu perbedaan antara "kata benda" dan "benda di tangan."
Dan karena akal sehatnya menolak kalah dari keajaiban, Sophia memutuskan satu hal:
ia akan mencari tahu siapa sebenarnya Iyem Purwanti.

Sophia bukan tipe gadis yang menyerah hanya karena popularitasnya menurun. Ia seperti bunga plastik di ruang tunggu klinik kecantikan: mungkin tidak hidup, tapi tetap menolak layu.

Diam-diam, ia memerintahkan ajudan ayahnya untuk "menyelidiki" latar belakang gadis yang telah merebut panggungnya.
Bagi keluarga Sophia, kekuasaan dan gosip punya nilai tukar yang sama. Maka dalam waktu dua hari, semua data tentang Iyem mendarat di tangannya-lengkap dengan nama ibu tiri, alamat rumah kontrakan lama, hingga jumlah uang di celengan kalengnya.

Sophia membaca berkas-berkas itu sambil tersenyum.
Akhirnya ia menemukan senjatanya.
Hari itu juga, ia melangkah ke sekolah dengan langkah yang berisik-jenis langkah yang biasanya dimiliki orang yang sudah menyiapkan adegan penghinaan besar-besaran.

Ajakan Sophia untuk makan di kantin membuat seluruh sekolah terbelalak.
Dua primadona di satu meja - itu seperti gerhana matahari total, langka dan menimbulkan desas-desus.
Beberapa siswa bahkan pura-pura antre hanya agar bisa mendengar percakapan mereka.

Sophia meletakkan setumpuk berkas di meja, dengan gaya pengacara muda yang baru lulus pelatihan arogansi.
"Baca saja," katanya datar.

Iyem menatap tumpukan itu sebentar, lalu mulai membaca.
Wajahnya tidak berubah sama sekali.
Ia hanya menggeser berkas itu kembali seperti orang yang baru membaca menu rumah makan padang.

Ketenangan itu membuat Sophia gelisah.
Ia menunggu jeritan, air mata, atau minimal ekspresi terkejut. Tapi tidak ada.
Iyem hanya menyilangkan tangan di dada, lalu bertanya lembut,

"Lalu, kamu mau apa dari aku?"

Sophia tertegun. Ia tidak menyangka anak kampung itu bisa bertanya balik seperti manusia.
"Keluar dari sekolah ini," katanya, tegas seperti sedang menawarkan diskon terakhir.

Iyem menarik napas panjang. "Kalau aku keluar, kamu akan bahagia?"
"Iya," jawab Sophia, tanpa ragu.

"Apakah ini karena Evi?" tanya Iyem akhirnya.

Senyum Sophia menegang. "Kau sudah ambil semua yang aku punya."

Iyem memandangnya lama. Ia ingat hari pertama Evi melamar menjadi manajernya - dengan gaya yang lebih mirip preman terminal daripada sekretaris.

"Lo butuh manajer kayak gue. Gue butuh bos kayak lo."
Begitu katanya.
Iyem tertawa saat itu. Ia menerima lamaran itu bukan karena profesionalisme, tapi karena kalimat itu terdengar jujur dalam kebodohannya.

Sejak hari itu, Evi benar-benar berdedikasi. Ia memastikan Iyem menyelesaikan tulisan untuk majalahnya, menolak tawaran pemotretan yang tidak perlu, bahkan menyiapkan teh saat sang Madonna sedang buntu menulis.
Bagi Iyem, Evi lebih dari sekadar manajer - ia penyeimbang di dunia yang semakin terasa seperti sandiwara tanpa sutradara.

Kini, di depan Sophia, Iyem merasa tak perlu menjelaskan semua itu.
Gadis di hadapannya tampak terlalu cantik untuk diajak berlogika, dan terlalu marah untuk diajak damai.
Namun harus diakui, amarah Sophia memang indah: tersusun rapi, dengan diksi yang terlatih.
Kemarahan yang terdidik.

"Baiklah," kata Iyem pelan.
"Aku keluar dari sekolah ini."

Ia berdiri, menepuk rok seragamnya, lalu melangkah pergi dengan tenang.
Sophia hanya terpaku, memandangi punggung itu menjauh.
Ada sesuatu yang aneh di dadanya - rasa lega yang terasa seperti kekalahan.

Iyem berjalan keluar kantin, menatap langit siang yang terlalu biru untuk hari yang buruk.
Ia tersenyum kecil, lalu bergumam pada diri sendiri,

"Kadang yang kalah justru yang paling tenang."

* * *




IYEMRELACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang