17- Ratatouille dan Rahasia yang Dihidangkan Dingin

42 3 2
                                        

Setelah kejadian di malam gala, Madam Juliet mengeluarkan dekrit yang bahkan kedengaran lebih tegas dari pasal hukum negara:
Iyem tidak boleh bertemu siapa pun — termasuk Dewa, tunangannya sendiri.
Satu-satunya makhluk hidup yang diizinkan menemaninya hanyalah Bude Tien, beberapa staf rumah kastil, dan seekor kucing liar yang belum sempat diusir.

Evi dan Lisa juga terkena imbasnya.
Dua manajer karbitan itu dilarang mendekat, bahkan bayang-bayang mereka pun mungkin akan dipanggil satpam jika melintas di depan pagar.
Namun Evi, dengan semangat wartawan infotainment yang baru dapat bocoran gosip eksklusif, tak henti mengirim pesan ke Iyem—lebih sering daripada notifikasi Shopee.

Sementara itu, di kamarnya, Iyem menatap layar ponsel dengan wajah cemas tapi berbinar.
Ia menunggu satu hal: balasan pesan dari pria misterius yang sudah membuatnya kehilangan selera makan dan, mungkin, separuh logika.

“Oh Tuhan, tidak mungkin,” gumamnya pelan.
Ia berusaha menenangkan diri.
Ini bukan cinta—setidaknya belum. Ini cuma... rasa penasaran dengan sedikit bumbu deg-degan.

Lalu, notifikasi muncul.
Pesan dari dia.

Hai, maaf, aku baru liat pesan kamu.
Bagaimana kalau ketemu pas makan siang?

Iyem menatap layar seperti baru melihat wahyu.
Dengan kecepatan jari yang hanya dimiliki oleh perempuan yang sedang panik tapi pura-pura santai, ia segera membalas pesan itu.
Setidaknya sekarang ia tahu, pria itu bukan ilusi optik.

Setelah beberapa kali berganti pakaian—dari gaun bunga-bunga, ke jumpsuit formal, lalu kembali ke piyama karena panik—akhirnya pilihan jatuh pada setelan paling aman di dunia: jeans biru, kemeja putih, sneakers, dan topi.
Gaya “aku nggak niat tapi aku cantik tanpa usaha.”

“Ingat, ini bukan kencan, Yem,” batinnya sambil menatap cermin.
Sayangnya, bibirnya malah tersenyum malu sendiri.

Masalahnya satu: keluar dari rumah kastil di bawah pengawasan Madam Juliet sama saja seperti mencoba kabur dari markas CIA.
Untungnya, ia punya sekutu: Bude Tien.

Awalnya, Bude Tien menolak mentah-mentah ide gila itu.
“Lawan aturan Madam Juliet? Itu bukan ide, Yem. Itu surat kematian!” katanya sambil mengipas diri dengan serbet.
Tapi seperti kebanyakan perempuan setengah baya yang sedang jatuh cinta, logika Bude Tien bisa dilunakkan dengan satu hal: laki-laki.

Dan laki-laki itu bernama Ramlan — satpam kastil yang sejak enam tahun lalu memuji masakan Bude Tien dengan ketulusan yang hanya dimiliki oleh pria lajang berumur empat puluhan.

Jadi, demi cinta dan sedikit intrik, siang itu Bude Tien mengerahkan seluruh bakat dapurnya.
Ia memasak jengkol balado teri medan, kombinasi maut yang bahkan bisa melumpuhkan sistem keamanan negara.
Aromanya saja sudah cukup untuk membuat Ramlan kehilangan kesadaran spiritual.
Begitu masakan tersaji, penjaga pintu sibuk menelan air liur, dan Cindy—eh, Iyem—berhasil kabur dengan anggun melewati gerbang kastil.

Dunia boleh penuh aturan, tapi jengkol buatan Bude Tien lebih berkuasa daripada hukum.

Di luar, matahari bersinar terlalu cerah untuk hati yang penuh rahasia.
Iyem berdiri di depan restoran bergaya modern dengan papan nama besar: WEST VIRGIN.
Nama yang terdengar seperti brand pembersih wajah, tapi interiornya ternyata memesona.

Pelayan menyambutnya dengan senyum profesional.
“Untuk dua orang, Kak?”
Iyem mengangguk gugup, seolah sedang melakukan transaksi ilegal.

Begitu diantar masuk, matanya langsung menangkap sosok yang membuat jantungnya berdetak pelan tapi tajam.
Eddy.
Duduk santai sambil membaca koran, tampak seperti iklan parfum yang lupa tayang di televisi.

IYEMRELACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang