Pagi itu udara Jakarta tampak lebih lembab dari biasanya — entah karena cuaca, atau karena rumah besar itu menyimpan terlalu banyak rahasia yang belum punya ventilasi.
Bude Tien sudah bangun lebih pagi dari ayam tetangga sebelah, dan kini duduk di dapur karyawan dengan secangkir teh yang rasanya seperti air ketel suam-suam kuku. Sambil menunggu Iyem bersiap-siap, matanya menangkap sesuatu di meja: setumpuk majalah mengilap yang semuanya menampilkan wajah wanita yang sama — kulit porselen, bibir merah darah, senyum yang tak jelas tulus atau menantang.
Tulisan besar di sampul depan menegaskan dugaannya:
“Madam Juliet: Perempuan di Balik Harta, Rahasia, dan Skandal Para Sultan.”
Bude Tien tertegun. Ia bukan tipe orang yang suka membaca. Ia lebih sering membaca kuitansi, struk belanja, atau tulisan di pembungkus gorengan. Tapi kali ini, rasa ingin tahunya melawan takdir. Ia mengambil majalah itu dan mulai membaca seperti murid SD yang baru menemukan huruf vokal.
Madam Juliet, begitu tertulis di halaman pertama, adalah pengusaha sekaligus miliarder paling misterius di Asia Tenggara.
Kekayaannya sering membuat kalangan sultan dan konglomerat “gerah”—sebuah istilah sopan dari “iri campur takut.” Konon, Madam Juliet pernah menyindir para pejabat dan taipan yang malas bayar pajak. Hasilnya, gosip bertebaran lebih cepat daripada saham jatuh.
Namanya makin melambung saat masuk daftar Forbes sebagai orang terkaya nomor tujuh se-Asia Tenggara.
Nomor tujuh, tapi efeknya seperti nomor satu.
Karena di negeri ini, tidak ada yang lebih mengganggu para sultan selain perempuan sukses yang tidak minta izin sukses.
Belum lagi soal kecantikannya.
Istri-istri pejabat mulai gelisah, para dokter estetika mendadak sibuk. Mereka berdoa semoga Madam Juliet hasil karya pisau bedah, bukan anugerah Tuhan.
Sayangnya, doa mereka tidak dikabulkan.
Alih-alih menua, Madam Juliet justru makin berkilau seperti perabot baru yang dipoles dosa.
Dari artikel lain, Bude Tien membaca: semua berawal dari suaminya, seorang pejabat yang dulu punya jabatan penting. Madam Juliet memanfaatkan waktu luang dengan belajar bisnis dan investasi, membangun jaringan, lalu menyalip suaminya dengan senyum profesional.
“Kepercayaan adalah mata uang paling berharga,” begitu katanya dalam salah satu wawancara.
Kalimat yang langsung membuat Bude Tien meneguk tehnya — pahit.
Tapi bagian yang paling menarik datang di akhir artikel:
Madam Juliet dikenal sangat tertutup soal kehidupan pribadi. Ia tidak pernah menyinggung keluarganya, bahkan anak semata wayangnya pun jarang disebut.
Beberapa gosip bilang anak itu belajar di luar negeri.
Gosip lain bilang… anak itu sudah tidak ada.
Tak ada yang tahu mana yang benar — dan entah kenapa, kalimat itu membuat tengkuk Bude Tien terasa dingin.
Ia menutup majalah dengan napas panjang.
Semua yang baru saja ia baca terasa seperti dongeng mahal — semacam Cinderella versi Forbes.
Kini ia mengerti kenapa Madam Juliet jarang bicara basa-basi.
Perempuan seperti itu tak butuh kata pengantar; setiap langkahnya sudah berbunyi keras.
Tiga hari sudah Bude Tien tinggal di rumah megah itu bersama Iyem, namun Madam Juliet belum juga muncul. Setiap kali ia bertanya pada staf rumah tangga tentang kedatangan sang madam, jawabannya selalu sama, manis tapi kosong:
“Kalau ada di agendanya, Madam datang.”
Bude Tien mendengus pelan, menatap langit-langit kamar yang bahkan lebih mewah dari ruang tamu kepala sekolahnya dulu.
“Tiga hari di rumah orang, belum juga masuk agenda,” gumamnya.
Nada suaranya bukan marah — lebih seperti seseorang yang baru sadar betapa mahalnya sebuah jadwal dalam hidup orang kaya.
Malam nanti, tentu, sesuatu akan bergerak: langkah sepatu yang terlalu pelan untuk manusia biasa, aroma parfum yang datang sebelum pemiliknya terlihat. Tapi untuk sekarang, rumah itu tetap tenang — seperti panggung yang menunggu tokoh utamanya muncul.
KAMU SEDANG MEMBACA
IYEMRELA
Mystery / Thriller- dongeng modern tentang cinta, kelas sosial, dan karma yang tak pernah tamat - Iyem hanyalah gadis kampung biasa, sampai Madam Juliet-wanita berkuasa dengan gaya bicara seperti kontrak kredit macet-menjodohkannya dengan pewaris PT DEWO. Demi kelan...
