11. Ice in Her Veins

9.5K 392 62
                                        

Thank you buat yang udah vote. 🌚

Main basket di Maple Grove menjadi salah satu pengalaman yang tidak bakal kulupakan.

Setelah kurayu berulang-kali, Demi akhirnya berani memegang bola dan mencoba menembak. Anehnya, cewek itu bukan shooter yang payah. Dia bahkan, mungkin, shooter yang lebih jago daripada aku. Posisi tangannya benar, release form-nya benar, bahkan dia tahu kalau menjadi shooter yang baik adalah menguasai footwork lebih dulu. Namun, karena kami tidak berlatih situasi, aku tidak tahu apakah kualitas shooting Demi konstan atau tidak. Siapa peduli. Demi bukan pemain NBA yang dijewer kalau free throw-nya miss.

"Ini jari-jariku," kata Demi saat kutanya apakah cewek itu membohongiku kalau dia tidak pernah main basket. "Jari-jariku gerak lebih banyak daripada jari-jarimu setiap harinya. Pernah lihat jempol yang lebih kurus dan berotot daripada jempolku?" Jempol Demi memang sangat kurus dan panjang, urat-uratnya juga menonjol. "Aku mati kalau nggak nulis sehari aja."

Sudah seperti Kyrie Irving saja[1].

Kami mampir ke restoran pizza dengan interior ala Amerika untuk makan siang. Di mobil, sambil mendengarkan lagu-lagu pilihan Demi dan aku secara paralel—Demi menyetel lagu-lagu Taylor Swift dan aku menyetel lagu hip-hop apa saja yang ada di playlist-ku—aku sudah membayangkan makan satu piring pasta sendirian, demikian juga Demi. Tapi rencana itu batal saat kami masuk dan melihat satu keluarga yang memesan pizza ukuran raksasa untuk bertiga.

Demi dan aku membuat kontak mata. Lalu, seakan cewek itu mengerti apa yang kupikirkan, dia bertanya sambil menyikut lenganku, "Aku cuma kuat ngabisin enam, maksimal. Kamu kuat makan sisanya?"

Dan karena aku lapar, dan pizza itu terlihat sangat lezat, aku mengangguk saja dan langsung memesan.

Pizza itu setengahnya dilapisi topping pilihanku (meatballs), dan setengahnya lagi dilapisi topping pilihan Demi (Hawaiian). Aku berjengit saat Demi mencomot potongan nanas dari pizza-nya, lalu menyantapnya seperti nanas itu semacam kentang goreng atau sejenisnya. "Kamu bener-bener suka nanas?" tanyaku sambil mengambil seiris pizza Hawaiian Demi dan mencobanya. Nggak terlalu buruk, sebetulnya. Tapi pizza-ku masih lebih enak.

"Cuma kalau nanasnya dijadiin pizza."

Weird-ass.

"Kamu sendiri?" Demi menjilati jarinya, dan aku bersumpah sangat sulit untuk melihat cewek itu tanpa memikirkan kalau yang sedang dia jilati sekarang adalah, you know, itu-ku. "Beneran suka pizza? Setahuku pemain-pemain jago kayak kamu ada yang ngatur dietnya."

"Memang," ujarku. "Tapi bukan berarti aku nggak boleh makan apa-apa. Yang penting rajin nge-gym dan conditioning aja habis off season. Bukan berarti boleh makan sembarangan juga."

Aku sudah makan lima slice, sedangkan Demi baru tiga. Aku mengangsurkan pan pizza pada cewek itu, tapi dia mendorongnya padaku lagi. Katanya, "Kamu sepuluh, aku enam."

Untungnya melihat Demi makan membangkitkan nafsu makanku juga. Aku bisa menghitung dengan jari berapa kali aku melihat cewek itu makan. Kemarin, di Blue Reef. Lalu di Rockingdown, di restoran sushi itu. That's it. Cuma dua. Aku nyaris berpikir cewek itu bukan manusia, sampai akhirnya aku tahu kalau dia lumayan suka pizza. Mengesampingkan badannya yang mungil dan cenderung kurus, Demi makan cukup lahap, dan sekarang aku tidak perlu khawatir lagi kalau dia kurang makan di indekosnya.

Scream & ShoutTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang