This is weird.
Sudah tiga hari sejak Demi terakhir menghubungiku, dan itu menggangguku lebih dari apa pun.
Selesai nge-gym, aku buru-buru mandi dan menge-scroll Insta untuk mengirimkan meme pada Demi, dan aku melakukannya dalam keadaan telanjang, seperti biasanya, hanya dengan handuk melilit pinggang ke bawah.
Secara personal, aku sendiri tidak mengerti kenapa cewek itu selalu bikin aku kepengin melakukan hal-hal konyol pada pagi hari, setelah mandi.
Dan, coba tebak, apa respons Demi?
Emoji hati.
Hati merah.
Yang artinya cewek itu cuma menge-like DM-ku.
Brengsek.
Aku turun ke bawah untuk sarapan bersama Marki dan Daniel, tapi entah karena mereka sudah tua dan insting punya anak mereka sudah mulai tumbuh, atau karena mukaku saja yang jelas-jelas tidak enak dilihat, aku disambut dengan pertanyaan yang membuat mood-ku semakin jelek, "What's with that face?"
"What face?" sahutku, dongkol.
"Bruh, you got dumped?" kata Marki.
Aku tersedak telur mata sapiku.
Di seberang meja, Daniel mengangsurkan segelas air dengan sikap yang lebih laid back.
"Thanks," aku menggerutu, lalu mengambil satu teguk dan menusuk roti panggang dengan garpu. "I did not," ujarku kemudian, "get dumped."
Kupelototi Marki.
"Mukamu kusut begitu," komentarnya. "Mana HP-mu ditaruh di atas meja terus."
She's right. Seperti Demi bakal membalas DM-ku dengan kata-kata asli saja.
"Jujur aja, Jaime." Marki melipat kedua lengannya. "Kamu lagi jalan sama cewek belakangan ini?"
"Yeah, tapi dia cewek orang."
Gantian, sekarang giliran Daniel yang tersedak telur mata sapinya.
Marki memberikan gelasnya sendiri pada Daniel. "Told you," kata cewek itu, lalu salah satu sudut bibirnya tertarik ke atas, menudingku. "He's a more of a womanizer than you are."
"Were," Daniel mengoreksi.
"Maca cih?" Marki mengerucutkan bibirnya, lalu mencubiti pipi Daniel, gemas. "Aku nggak tahu kamu ngapain aja selama di Jakarta, tapi, yeah, aku percaya, kok."
"Jaime." Daniel memilih untuk mengabaikan Marki dan menatapku. Tajam-tajam. "How?"
"Kita ketemu di DD waktu aku pertama kali dateng ke sini," jelasku, malas-malasan. "Terus karena dia perlu pelarian dari pacarnya yang tolol, she asked me to take her on a date, but—"
"Nggak usah diterusin," Daniel memotong.
"Kita udah tahu kelanjutannya," tambah Marki.
Daniel menunjukku dengan dagunya. "Dia nggak salah."
"Aku nggak bilang dia salah?" Marki meletakkan kedua tangannya di pinggang. "Aku cuma bilang he's a better womanizer than you are."
"Were!" Daniel menggeram. "God! Kamu ini susah banget dibilangin!"
Pasrah terjebak di antara debat soon-to-be-parents ini, aku hanya bisa mendesah dan kembali menyantap sarapanku. Ya, ya, ya. Cute. Kutusuk sosis dengan garpu, lalu diam-diam kulirik ponsel, berharap ada nama Demi di situ.
KAMU SEDANG MEMBACA
Scream & Shout
Roman d'amour🔞⛔️🔞⛔️🔞⛔️🔞 --- Setelah kelulusannya, Jaime memutuskan untuk pergi dari Paris dan tidak kuliah. Cowok itu telah memilih jalan hidup sebagai joki turnamen basket jalanan yang nomaden di Asia, meskipun diam-diam dia masih ingin main di EuroLeague...
