15. Caught Up in a Blaze

7.3K 325 70
                                        

Thank you yang udah vote. 🤹🏻

Main tengah malam di By the Beach ternyata lebih bikin meriang daripada berendam air es di Jacuzzi.

Salahku juga kenapa main tengah malam, tapi aku tidak menyesal karena bertemu pemain eksentrik macam Drew. Aku sudah mencuri ilmunya; kupraktikkan langsung segera setelah cowok itu pulang. Aku tidak mandi lagi setelah pulang dan bangun dengan badan gatal-gatal dan berbentol bekas gigitan nyamuk. Wajar saja mengingat Indonesia negara tropis, apalagi Basalt dikelilingi pantai dan dekat dengan hutan yang menanjak ke Pyxis. Aku cuma tidur tiga jam, lalu bangun karena tidak tahan badanku lengket, dan kemudian langsung mandi dan nge-gym lagi.

Maman sempat khawatir soal jadwal latihan fisikku yang padat, tapi aku meyakinkan Maman kalau ini mungkin belum apa-apa dibandingkan atlet yang sudah berkarir di pro-nya pro. Aku cuma nge-gym dua kali sehari, lalu latihan, itu juga tidak seminggu penuh. Ada rest day saat weekend, tapi sejak pergi dari Paris rest day-ku lebih sporadis. Sebisa mungkin aku mencoba agar latihanku seimbang dengan training yang kujalani di rumah. Saat ini aku cuma bisa pasrah kalau selama berpetualang di Asia, menggunakan gym yang ada dan lapangan-lapangan mirip map video game itu, ternyata belum cukup.

Aku yakin tidak begitu, tapi tidak ada salahnya berjaga-jaga.

Jadwalku hari ini adalah latihan bareng Gasher di gym. Invitational sebentar lagi, jadi aku benar-benar harus memastikan kami bakal menang sebelum aku terbang ke Paris. Tim yang berpartisipasi kurang-lebih sama, tapi Invitational lebih eksklusif karena kebanyakan slot sudah diberikan kepada tim-tim terkenal. Gasher, untungnya, menerima undangan. Kata Calvin untuk men-secure undangan pertama kali kami harus memenangkan turnamen yang namanya Bayside lebih dulu, tapi turnamen itu sudah selesai sebelum aku datang.

Aku penasaran apakah pacar Demi ikut.

Oops. Salah. Maksudku mantannya.

Aku mengundang cewek itu untuk menemaniku latihan di gym, tapi dia malah ogah-ogahan. Katanya dia bakal datang kalau tidak sibuk atau kalau aku sudah memastikan tidak ada Anna di gym. Kutanya dia memangnya dia sibuk apa kemarin, tapi aku justru dihadiahi pukulan di lengan. Menulis, that is. Pakai tanya segala. Demi tidak serius memukulku, tapi dia sangat serius soal aku harus memastikan tidak ada fans-ku yang berkeliaran di gym, begitu dia menyebutnya.

"Kalau kamu Bart, kamu pasti langsung bilang aku insecure," kata Demi. "Well... don't get me wrong. Aku suka cowok-cowokku terkenal, tapi rasanya nemenin latihan di private gym gitu terlalu intimate buat di-butcher orang lain."

Sok tahu. Daripada Demi, yang lebih insecure di sini aku. Temanku, yang satu tahun lebih tua dariku, sudah main di NBA, menerima banyak penghargaan, di-notice pemain-pemain jago, bahkan punya jutaan followers di Instagram. Aku masih punya satu tahun lagi untuk menyusulnya, tapi aku harus benar-benar jago atau benar-benar beruntung untuk terpilih di antara ribuan kandidat lain.

Omong-omong, aku masih menyembunyikan identitasku dari Demi.

Selama ini, aku selalu melihat Demi sebagai orang yang datar. Dari situlah sumber pikiran kalau cewek itu misterius berasal. Dia tidak sedih putus dari Bart. Dia tidak melihatku seperti Anna melihatku—Anna melihatku sebagai cowok, tapi Demi melihatku sebagai ladang bisnis. Demi bukan pemalu, tapi cewek itu sangat private dan caranya bicara selalu terkesan penuh teka-teki. Sampai saat ini, aku belum tahu novel macam apa yang cewek itu tulis.

Scream & ShoutTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang