24. Entrez dans l'Arène

5.5K 247 49
                                        

Vote? Huehehe. (  ͡° ͜ʖ ͡°) (9)

Sebenarnya, Ocean Boys masih punya satu kesempatan lagi melawan Gasher andaikata mereka tidak langsung tereliminasi setelah kalah di match kedua. Rest in peace, bud. Padahal aku kebelet ingin melawan mereka dan mengulangi poster attempt-ku lagi.

Berhubung pool A anggotanya paling sedikit, tinggal satu tim tersisa yang harus kami lawan sebelum melaju ke semi-final. Tim itulah yang mengeliminasi Ocean Boys semalam. Kedengarannya nggak enak banget, huh? Padahal Gasher yang bikin Ocean Boys ketar-ketir. Pasti sia-sia mendaftar ke turnamen hanya untuk dapat lawan perdana seperti Gasher.

Lucky us, though, dapat lawan perdana seperti mereka.

Hari kedua, sudah tidak terlihat jejak-jejak Ocean Boys di mana pun, bahkan di ruang ganti. Meja mereka kosong, kecuali sebuah vas kaca yang tidak menganggur lama-lama sebelum dialihfungsikan menjadi asbak oleh salah satu pemain Feels Good Inc., yang punya probabilitas besar menjadi lawan Gasher di semi-final. Ada Renaissance di pool B, dan IDNZ, tim yang baru naik daun, di pool C. Kami sama-sama nggak tahu siapa yang bakal menjadi pemenang grup, tapi mereka punya potensial besar.

"Cuma satu match doang hari ini?" Rafael mencebikkan bibirnya sombong. "Duh, rugi aku bawa dua sepatu."

"Dia lagi pamer," Alec menjelaskan dengan rendah hati. "Mamanya baru beliin dia sepatu Melo. Tolol banget, padahal sebentar lagi keluar third gen-nya."

Yeah, yeah, aku lihat itu. Maksudku, siapa sih yang nggak? Dari tadi kaki Rafael terpentang di atas meja, memamerkan sepatunya yang beda warna sebelah. Sejujurnya, aku sendiri kurang suka gonta-ganti sepatu. Di dressing room klubku ada rak khusus sepatu yang masing-masing levelnya diurut berdasarkan ukuran. Baik aku maupun teman-temanku tahu siapa yang biasanya memakai sepatu yang mana. Kurasa itu salah satu perks paling asyik dari go pro. Sepatu bukan lagi masalah, kecuali kamu naksir sepatu yang kebetulan nggak sesuai kriteria klubmu—bisa jadi warna atau karakteristik atau personal ick lain. Nah, itu bebanmu sendiri untuk membelinya, dan kemungkinan besar tidak bisa memakainya di pertandingan. Rugi? Likely, tapi itu tidak menghentikan sisi konsumtifku dari memboros di sepatu, meskipun yang kupakai tetap itu-itu saja.

"Oh my God!" pekik Demi, lalu mengangsurkan ponselku dan menyentuh dahinya dengan gaya dramatis. "Kalian lawan Stormbringer!"

"Betul!" kata Alec riang, bahkan sambil nyengir.

"Mereka itu siapa?" aku bertanya dengan polosnya.

"Tim fakultasku!" kata Demi mengentak-entak. "Fakultas ekonomi punya tim basket, namanya Stormbringer."

"Baguslah," aku berkomentar pendek.

"You have to win this for me." Request Demi kali ini agak sarat dendam. Dia kelihatannya lebih ingin aku menghabisi Stormbringer daripada mantan pacarnya—ada apakah gerangan? "Kalau kamu menang, aku bakal ngerjain laporanku tiap hari, pagi dan malam," tandasnya kemudian.

"Uh... oke." Kutatap Alec, tapi cowok itu hanya mengangkat bahu seakan bilang this one's easy. "Want me to dunk on 'em?"

"Yang penting menang," kata Demi.

O... ke.

Gasher, aku, dan Demi cukup beruntung untuk kebagian tempat duduk di tribun selama dua game terakhir sebelum game kami sendiri. Game IDNZ cukup seru menurutku. Mungkin karena lawannya juga bukan tipe helpless yang gampang menyerah. Aku mendukung IDNZ—karena aku tahu dari cara mereka main kalau mereka yang bakalan bertahan—dan Demi mendukung Oppenheimer, tim lawan—karena cewek itu baru saja menonton Oppenheimer. Berkat penjelasan Calvin, akhirnya aku paham kalau banyak tim dadakan di turnamen jalanan seperti ini, in spite of slot Invitational yang selalu terisi setengahnya.

Scream & ShoutTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang