Jaime Desjardins-Guichard
Can we meet? |
Aku tidak tahu kapan persisnya aku mulai mengorok semalam karena saat aku terbangun paginya, matahari sudah bersinar terang-benderang.
Aku mengernyit, lalu menghalau sinar dengan selimut dan berguling untuk menjangkau ponsel di nakas. Kepala dan badanku rasanya remuk semua, tapi aku harus mencambuk otot-otot malas ini karena ada yang ingin kubicarakan dengan Demi.
Aku bertanya pada cewek itu apakah kami bisa bertemu, dan setelah aku meninggalkan ponselku untuk di-charge selama aku mandi, Demi akhirnya membalas.
Demi Ruwata
| Bart ngajak aku ngopi sore ini.
Really, Bart? Setelah only-Heaven-knows-what yang kamu lakukan dengan cewek mabuk itu di toilet? Cowok tolol. Brengsek. Idiot. Aku menyesal kenapa tidak langsung menendang burungnya di Dooms-Day kemarin.
Barangkali ada gunanya juga Anna menuangkan wiski sialan itu ke dalam gelasku. Aku jadi mabuk dan kepengin pulang, lalu tanpa sengaja memergoki Bart yang tidak tahu kalau aku sudah pernah main belakang dengan ceweknya. Wait. Kenapa jadi aku yang terdengar jahat di sini? Demi dan aku main belakang karena Demi muak dengan tingkah Bart. Awalnya aku juga tidak mengerti karena aku cuma tertarik pada Demi, tapi akhirnya ketahuan juga kenapa Demi sampai menginginkan rebound dari stranger di kelab.
Jaime Desjardins-Guichard
Come on. |
Sebentar aja. |
Aku melihat Demi sedang mengetik, jadi aku, masih telanjang hanya dengan handuk melilit pinggang ke bawah, memelototi layar ponselku sampai balasan itu muncul:
Demi Ruwata
| Fine.
| Bring condom kalau mau macem-macem.
Aku mendengus.
Enak saja.
We'll be fucking raw when I'm finally all over her.
➖
Demi tinggal di indekos kecil yang kelihatannya cukup bersih dan decent. Ada pekarangan sempit dengan air mancur di pertemuan empat paviliun yang menghadap satu sama lain seperti huruf X. Kamar Demi terletak di paviliun yang cukup dekat dari gerbang indekos, jadi aku tidak perlu masuk lagi saat mobilku menepi dan Demi melongokkan kepalanya dari serambi.
Cewek itu celingukan dengan panik sebelum berjingkat keluar dan membuka satu-satunya pintu selain pintu pengemudi.
"Ngapain kayak mau maling gitu?" Aku mengerutkan hidung saat Demi menarik sabuk pengaman melintang di dadanya.
Kuputar persneling, dan kemudian mobil sudah berbelok lagi ke jalan raya, menuju parlor kopi favorit Demi.
"Ada tetanggaku yang nanyain kamu waktu kamu anter aku pulang habis final Constantine Cup."
Aku menoleh pada cewek itu tanpa melepaskan pandangan dari jalan raya. "Kok, Bart jadi ganteng? Gitu, kan?"
"Narcissist," Demi mengerang.
Aku menyalakan tape dan lagu pertama yang diputar secara acak adalah Love U Like That-nya Lauv. Terakhir kali aku mendengarkan lagu ini adalah saat aku di pesawat, dalam perjalanan ke Indonesia. Dan sekarang, dengan Demi di sampingku, mendadak artinya jungkir-balik.
Kurasakan pipiku memanas.
Demi bilang parlor kopi itu berlokasi di Pyxis, kota tetangga Basalt. Aku pernah mendengar Pyxis dari Marki dan Daniel. Katanya rumah orangtua Marki ada di sana. Kalau Basalt dikelilingi pantai, jalan raya di Pyxis diapit hutan musim gugur yang meranggas. Aku membayangkan ada rusa yang mengintip dari balik pepohonan, tapi kata GPS parlor kopi itu sudah dekat. Cepat-cepat aku menyalakan sein dan memasuki pelataran parkir kafe yang lengang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Scream & Shout
Romansa🔞⛔️🔞⛔️🔞⛔️🔞 --- Setelah kelulusannya, Jaime memutuskan untuk pergi dari Paris dan tidak kuliah. Cowok itu telah memilih jalan hidup sebagai joki turnamen basket jalanan yang nomaden di Asia, meskipun diam-diam dia masih ingin main di EuroLeague...
