22. Legends Never Die

5.4K 235 65
                                        

Vote? Huehehe. ( ͡° ͜ʖ ͡°) (7)

Pernahkah kamu merasa gugup untuk suatu hal yang seharusnya tidak membuatmu gugup? Kamu paragliding tanpa memedulikan ketinggian, divaksin tanpa ketakutan pada jarum suntik, berangkat ujian tanpa belajar, tapi kamu takut pada sesuatu yang sudah biasa kamu lakukan. Pergi ke sekolah, misalnya. Atau turun untuk sarapan bersama keluargamu.

Saat ini, aku sedang merasakan itu.

Aku takut pada Invitational.

Yeah, lucu, aku tahu. Aku takut main basket. Aku takut bertanding, padahal aku sudah kenyang naik bus dan pesawat cuma untuk gonta-ganti stadium.

Aku ingat sekali game profesional pertamaku. Aku main untuk Nanterre sejak kecil, kemudian pindah ke Levallois—Mets, timku yang sekarang. Aku main di under 11, dan aku merasa terintimidasi oleh stadium dan orangtuaku sendiri yang datang menonton. Aku berhasil melewatinya, tentu saja, dan sejak saat itu aku tidak ingat pernah nervous lagi. Sepertinya aku nervous saat main di world cup pertamaku, tapi itu bukan jenis nervous yang membuat perutku melilit dan kepalaku berputar-putar.

Invitational bakal menjadi game terakhirku sebagai Jaime si Joki, dan game terakhirku sebelum aku sepenuhnya memakai kostum Jaime Guichard lagi. Game ini adalah last resort-ku, pembuktian kalau kepulanganku memang berarti sesuatu. Aku tidak boleh kalah. Well, oke, aku memang nggak pernah kalah selama di Asia, tapi selalu ada kemungkinan buruk. Mungkin kemarin aku cuma beruntung. Aku mau bilang apa kalau lawanku di final nanti, katakanlah, Drew? Oke, oke, dia bilang dia tidak ikut, tapi Drew barangkali bukan satu-satunya pemain gila di kota ini.

Satu hari sebelum Invitational, aku nekat mengajak Marki dan Daniel satu-satu 1v1. Marki yang duluan maju. Kami main di halaman belakang vilanya, lapangan basket outdoor paling mulus yang pernah kulihat. Tidak licin, tapi mulus. And by that I mean clean, seperti baru. Segalanya tertata rapi dan simetris. Baru-baru ini kudengar Luka Dončić[1] bakal menggelar turnamen 3x3-nya sendiri, dan lapangan Marki sedikit-sedikit mengingatkanku pada lapangan Luka, meski lapangan Marki jelas tidak mengapung di atas danau[2].

Kubilang pada Marki dan Daniel agar tidak nge-poor karena aku mau mengetes apakah skill-ku betul-betul tidak karatan. Sebenarnya aku ogah bicara begitu pada Marki karena aku yakin aku masih lebih jago dari dia (disclaimer: aku belum pernah lihat dia main), tapi aku juga curiga kalau cewek itu cuma pura-pura pensiun.

Pada akhirnya, Marki kalah, tapi bukan dengan hopeless. Sekarang aku mengerti kenapa sampai ada satu podcast khusus yang mewawancarai Marki soal kenapa cewek itu memilih gantung sepatu terlalu awal. Marki bukan artis, tapi dia semacam kecipratan popularitas Daniel. Publik tertarik pada kisah cinta mereka lantaran Daniel, yang image-nya bad dan tampak seperti bisa menarik cewek secakep apa pun, memutuskan untuk pacaran dengan Marki yang, well... sama bad dan punya rizz-nya.

Cewek itu lompat terlalu tinggi dan punya tangan yang terlalu lengket, seperti bola tunduk padanya saat dia yang memegang kendali. Aku curiga Marki juga main game yang sama dengan Demi, tapi dia bilang kalau itu karena dia arsitek. Ada sentuhan magis yang exceptional dari para seniman yang juga merangkap atlet.

Lalu, game kedua: Daniel.

Secara mengejutkan, aku tetap menang melawan sepupuku. Cara main Daniel agak mengingatkanku pada Melo[3], apalagi blind pass-nya yang sambil nge-drag itu. Satu-satunya kemampuan yang rela kutukarkan dengan seluruh koleksi poster, alley-oop, serta varietas dunk­-ku. Entah Daniel punya mata batin atau apa, tapi dia bersumpah dia tidak nge-poor. Katanya, setelah aku ngotot kalau aku menang cuma karena beruntung, aku masih muda, energi kami sudah tidak sama, dan basket di Prancis, Eropa terutama, memang bukan sesuatu yang bisa diremehkan.

Scream & ShoutTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang