16. Tonight the Streets Are Ours

9.8K 383 102
                                        

Vote? Huehehe. ( ͡° ͜ʖ ͡°)

[⚠️]

Jantungku mencelus.

Dan kemudian, detaknya menyebar, mencapai telinga dan kedua kakiku sendiri.

"Mungkin ini kedengaran aneh karena sejak awal hubungan kita cuma bisnis, tapi akhirnya aku luluh juga. Nggak apa-apa kalau kamu nggak bisa suka sama aku. Mungkin perasaan ini bakal hilang setelah kamu pergi, seiring berjalannya waktu."

Aku mengerem mendadak.

"What the hell?" Sepertinya Demi sudah ketularan aku.

Beruntung kami berkendara di jalan yang cukup sepi.

Seketika itu juga, aku menepikan mobil dan benar-benar menarik rem tangan, pertanda aku serius ingin bicara dengan cewek itu.

"Don't," aku bernapas, "say that."

"Say what?" kata Demi, tercekik.

"Kalau aku nggak bisa suka sama kamu!" teriakku. "Aku bisa suka sama kamu, oke? Aku udah suka sama kamu! Astaga! Kamu ini!"

Saking frustrasinya aku, aku mulai memaki-maki dalam bahasa Prancis. Masa bodoh Demi tidak mengerti. Cewek ini bikin aku gemas. Aku ingin menciumnya, membuka mulutnya lebar-lebar, lalu berteriak ke dalam perutnya.

"Kamu kira ngapain aku capek-capek nawarin buat jadi pelarianmu? Kamu kira aku se-unemployed itu?" lanjutku, berapi-api.

"Ku-kukira, kamu..." Demi tergagap.

"Apa?" Aku benar-benar tidak bisa menunggu Demi selesai gelagapan karena kesabaranku sudah habis.

"Kukira kamu cuma... kamu tahu... perlu aku buat..." Demi sengaja tidak melanjutkan.

"I need you to like me," aku yang menyelesaikan untuknya. "Aku perlu kamu buat suka aku balik, oke? Makanya aku ngejar-ngejar kamu! I was hooked the first time I saw you!"

Demi kehilangan kata-kata.

Begitupun aku. Energiku langsung habis dalam sekejap. Aku mengenyakkan tubuh pada jok tanpa keinginan untuk menyetir lagi. Aku bakal mengantar Demi, tentu saja, tapi tidak sebelum cewek itu meluruskan pikirannya yang entah sejak kapan bengkok. Kalau Bart yang membengkokkannya... I don't know anymore, man. Aku bakal menghabisinya di Invitational, itu yang pasti, kalau dia ikut.

"Why?"

Aku menoleh. "Huh?"

"Kenapa aku?" Demi menghindari mataku. "Aku cuma cewek biasa, Jaime. Kuliah aja aku males-malesan. Aku bukan model, bukan artis. Hobiku cuma nulis, itu pun bukan nulis sesuatu yang life-changing. Pembacaku nggak sebanyak itu sampai tulisanku harus difilmin. Apa yang kamu cari dari aku?"

"Apa yang kamu cari dari aku?" aku menggeram. "Aku juga cuma pemain basket biasa. Yeah, aku main di pro A, terus apa? Aku cuma anak ingusan yang baru lulus SMA, kuliah juga cuma biar Maman seneng, itu pun aku belum kuliah. Wemby udah teken kontrak sama NBA, punya dua juta followers, punya fans, punya haters, bikin Prancis bangga. Apa yang kamu cari dari aku?"

Demi cemberut. "Jangan bandingin kamu sama dia."

"Kenapa?" aku mendengus. "Kamu aja bandingin dirimu sendiri sama orang lain, orang yang prestasinya lebih nggak jelas, lagi."

Scream & ShoutTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang