35🐣

604 29 0
                                        

Bagai tengah menggoda seorang balita, Zeline berlenggak-lenggok di belakang Elvano yang menggendong Nole si kucing hitam di pangkuannya.

Cowok itu ikut tertawa oleh candaannya.

Ciluk ba. Kira-kira seperti itu lah lelucon Zeline saat ngebercandain kucing Elvano.

Terkadang nongol kiri, terkadang nongol kanan di balik bahu Elvano, sambil berpegangan di pundak tegap itu. Kucing tersebut seperti paham sedang dibercandai, kepala dan matanya pun ikut bergerak ke arah dimana Zeline berada.

"Nolee, BA!"  Nongol kanan.

"NOLE, BA!" Nongol kiri.

Yang merasa senang justru Elvano sendiri di sana, diam-diam ia tertawa kecil merasa dirinya yang sedang dibercandain.

Masih menggodai kucing tersebut, lama-kelamaan gerakan Zeline semakin cepat alias brutal.

Mengeratkan pelukannya di antara pundak dan leher kokoh itu, Zeline semakin gencar menggodai kucing hitam tersebut. Tanpa ia sadari sudah membuat Elvano yang tadinya biasa saja berubah menjadi panas dingin, karena punggungnya terus tergesek sesuatu.

Jantungnya berpacu lebih cepat dari sebelumnya, entah mengapa tiba-tiba ada perasaan aneh bergejolak dari dalam tubuhnya.

Wajar, Elvano masih normal. Bayangkan saja, saat tubuh bagian sensitif kita tergesek oleh sesuatu ambigu yang membuat koneksi lain terhubung dengan cepat menjadi sebuah perasaan yang begitu di luar dugaan. Ah, kalian tahu apa maksudnya?

Akhir-akhir ini Zeline sering memancing hasratnya.

Ini aneh, tapi tidak aneh. Kalian paham tidak sih maksudnya?

"Argh." Lelaki itu meringis pelan, Zeline semakin membagongkan baginya.

Alis Elvano sudah menukik tajam berusaha menahan gejolak aneh dari dalam tubuhnya. Namun, perlakuan Zeline semakin di luar nalar. Sekarang cewek itu malah berbisik di dekat telinganya, hanya untuk memanggil Nole si kucing hitam itu.

"Nole ...." Sangat membuat bulu kuduk semua meremang.

Praktis saja, tangan satunya yang bebas itu spontan menarik tubuh Zeline hingga tepat di depannya, bahkan jatuh di pangkuannya, dan wajah mereka bertemu satu sama lain, yang hanya berjarak beberapa senti saja.

Kucing yang  berada di pangkuan Elvano sebelah kiri itu, mendadak jadi nyamuk.

Melihat manik Elvano yang berbeda dari sebelumnya, membuat Zeline menatapnya dengan kedua alis bertaut.

"Kenapa?" tanyanya.

Nyaris hanyut dalam tatapannya, Elvano gelagapan daat diberi pertanyaan, praktis saja dengan gelagatnya yang kebingungan, mendorong tubuh Zeline yang masih berada di pangkuannya itu, turun dari sana.
"Kamu kenapa?" Zeline masih bertanya.

"Jangan kayak gitu, berat." Elvano beralibi.

Perkataanya justru membuat Zeline mesem-mesem sendiri.

"Kemaren-kemaren kata kamu Zeline kurus kering, gak ada berat-beratnya. Kok sekarang kamu ngomong berat? Bener kann Zeline emang berattt."

Dikala gadis lain ingin nangis karena badannya berat, Zeline justru merasa senang dirinya yang kurus berhasil disebut berat.

Karena tidak punya alasan lain, Elvano pun hanya bisa mengiyakan saja perkataannya.

"Iya, lo berat."

Elvano yang tadinya datar, dan mengalihkan pandangan ke arah, sambil berdiri, menuruni Nole dari gendongannya. Seketika dibuat melotot, kala Zeline yang tiba-tiba loncat ke tubuhnya. Ya reflek saja tangannya mencekal tubuh gadis itu.

My Dear Cousin (End!) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang