Dua tahun lalu.
Hari itu... adalah hari terburuk dalam hidup Niko.
Bagaimana tidak? Ia selalu membayangkan memiliki keluarga yang utuh, keluarga yang hangat—seperti pohon cemara yang kokoh diterpa angin. Namun, kenyataan menamparnya keras. Keluarganya hancur. Berantakan.
Saat itu, ia masih duduk di kelas 3 SMP, sementara Ocha, adiknya, baru kelas 1 SMP. Seperti biasa, mereka pulang bersama, berjalan berdampingan di bawah langit sore yang cerah.
"Kak! Aku dapet duit dari nenek, loh!" seru Ocha riang, mengayunkan tasnya ke kanan-kiri.
"Hah? Curang bener!" Niko mendelik, setengah kesal.
"Hahaha! Nenek bilang, kakak udah gede, jadi gak boleh jajan banyak-banyak!"
Niko berhenti melangkah, menatap adiknya dengan dahi mengernyit. "Di antara kita, siapa yang paling sering jajan, hah?"
"Enak aja! Dheiman tuh!" Ocha bersedekap, pura-pura marah.
Seperti biasa, pertengkaran kecil mereka berakhir dengan tawa. Karena mereka saling menyayangi.
Namun, keceriaan itu tak bertahan lama.
Begitu tiba di depan rumah, langkah mereka terhenti.
Dari dalam, terdengar suara bentakan. Bukan, bukan sekadar suara—tapi amarah yang meledak-ledak.
Niko dan Ocha saling berpandangan. Wajah ceria tadi berubah tegang. Mereka tak berani masuk.
Pintu tiba-tiba terbuka.
Sosok sang ayah muncul dengan wajah gelap, matanya menyala penuh amarah.
"Niko, Ocha," panggilnya datar, tapi menusuk.
Lalu, kalimat itu keluar.
"Ibumu selingkuh. Ayah mau cerai. Kalian ikut ayah, ya?"
Dunia Niko seketika runtuh.
Itu adalah satu-satunya kalimat yang tidak ingin ia dengar. Tapi apa boleh buat? Nasi sudah menjadi bubur. Masa depannya—masa depan mereka berdua—kini dihadapkan pada pilihan yang terlalu berat untuk anak seumur mereka.
*
*
*
Kembali ke masa kini.
Niko berjalan pulang, ransel tergantung di salah satu bahunya. Cuaca mendung, angin bertiup sejuk, membuat langkahnya otomatis lebih cepat.
Tapi, di balik dinginnya udara sore, ada sedikit kehangatan yang ia rasakan. Entah kenapa, hari ini ia senang. Ya... mungkin karena bisa menghabiskan lebih banyak waktu dengan Kouko, meski itu terjadi akibat bencana yang tidak diharapkan.
Butuh hampir satu jam untuk menata kembali buku-buku yang berserakan di perpustakaan, tapi anehnya, Niko tidak mengeluh seperti biasanya.
Begitu sampai di rumah, ia membuka pintu dan langsung disambut oleh wajah adiknya yang—seharusnya imut. Seharusnya.
Sayangnya, Ocha sedang dalam mode ibu kos.
"Gak ngeliat jam!? Nyangkut dimana, sih!" bentaknya frustrasi.
"Iya-iya, sori!"
"Kebiasaan banget!" Ocha masih kesal, tapi tiba-tiba ekspresinya berubah drastis. Matanya membelalak, jemarinya menunjuk sesuatu di belakang Niko. "Ka-Ka-Kak! Itu siapa!?"
"Ha?"
"Itu!" Ocha menatap tajam ke arah orang itu.
Bulu kuduk Niko langsung meremang. "Ocha ih, jangan main-main!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Forbidden Book [Rewrite]
Teen FictionSetelah dapet izin dari author aslinya, Wulan bakal revisi ni cerita jadi lebih menarik lagi, hehe. Jangan lupa pantengin aja terus, ya! Pokoknya bakal Wulan Revisi habis-habisan❤️❤️❤️ Niko Dheiman, remaja introvert yang menemukan kenyamanan di perp...
![Forbidden Book [Rewrite]](https://img.wattpad.com/cover/351357539-64-k311162.jpg)