13. Demam Terbaik! [Revisi]

50 8 2
                                        


Hari itu, langit mendung bergemuruh, seakan lelah menahan beratnya air yang siap tercurah. Hujan turun satu per satu, membasahi kota yang tak pernah berhenti bergerak.

Pukul 05.30 pagi.

Niko terbangun dengan napas tersengal, keringat dingin membasahi tubuhnya. Rasa lemas menjalari setiap sendinya. Ada apa ini?

Dengan susah payah, ia mengangkat tangannya dan menempelkannya ke keningnya sendiri.

Sial! Panas!

"De-demam?" gumamnya pelan, nyaris tak percaya.

Tenggorokannya kering, dadanya terasa sesak, dan tubuhnya seakan terbakar dari dalam. Ia menarik napas panjang, mencoba menyangkal kondisinya, namun kenyataan berbicara lain—ia benar-benar sakit.

Dengan langkah gontai, ia keluar dari kamarnya yang hangat. Udara pagi yang dingin langsung menyergap, membuat tubuhnya menggigil samar. 

Di dapur, aroma makanan menguar lembut, dan di sana, adiknya, Ocha, tengah sibuk membuat sarapan.

"Kak? Tumben jam segini udah bangun," seru Ocha heran, tanpa menoleh.

Niko tak menjawab. Ia hanya melangkah menuju meja makan, napasnya berat, terdengar kasar di udara.

"Kak?" Ocha kini menoleh, alisnya bertaut. "Kakak kenapa?"

"Gak apa-apa... cuma capek," jawab Niko lemah.

Tapi Ocha tak mudah percaya. Dengan cepat, ia mendekat, menempelkan telapak tangannya ke kening sang kakak.

Sekejap kemudian—

"Ih! Panas banget!" serunya kaget, langsung menarik tangannya kembali.

Hening.

Mereka saling menatap. Sejenak, hanya suara hujan yang terdengar di luar.

"Kak! Pokoknya istirahat di rumah! Titik!"

Niko tersenyum tipis, hampir mengejek. "Ngatur," gumamnya, berusaha bangkit dari kursi.

Namun, tubuhnya tak bekerja sama. Pandangannya berkunang-kunang, lututnya melemas, dan sebelum ia sempat menyeimbangkan diri, tubuhnya kembali terhempas ke kursi dengan cukup keras.

"Kak!" Ocha langsung panik. "Udah deh, jangan bandel!"

"Tapi... aku gak mau bolos."

"Ck! Batu banget sih!" Ocha menghela napas, lalu tanpa banyak bicara, ia merangkul Niko, membantunya berdiri. "Pokoknya tidur! Nanti aku siapin obat."

Dengan pasrah, Niko membiarkan dirinya dipapah kembali ke kamar. Keringat masih mengalir di pelipisnya. Tubuhnya lelah, tapi pikirannya tak bisa diam. Di tengah kesadarannya yang semakin kabur, satu pertanyaan terlintas di benaknya—

Bagaimana kalau ada ramalan hari ini?

Apakah Jovian dan Olivia bisa mengatasinya?

Pukul 06.50.

Niko kembali terbangun. Badannya masih terasa berat, tapi lebih baik dibanding sebelumnya. Ia bangkit perlahan dari tempat tidur, berjalan keluar kamar. Hujan masih turun, menyelimuti pagi dengan udara dingin yang menusuk.

Di dapur, Ocha langsung menoleh begitu melihat kakaknya muncul.

"Kak! Bandel banget deh!" serunya, setengah kesal, setengah khawatir.

Tanpa menunggu jawaban, ia melangkah mendekat, kali ini lebih tegas. "Nih, minum! Terus tidur lagi," katanya, menyodorkan sebuah pil dan segelas air.

Niko menerima dengan senyum tipis. "Thanks, Cha. Tapi... aku harus sekolah."

Forbidden Book [Rewrite]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang