Sirene ambulans saling bersahutan, tak memberi jeda untuk diam. Udara dingin menembus kulitku. Entah itu dari luar, atau dari AC mobil. Dadaku lemas, namun napasku terasa lancar dan segar.
Kubuka mataku yang setengah tertutup, lalu aku sadar, aku sedang memakai alat bantu pernapasan.
"Periksa matanya!" kata seseorang yang tak kukenal. Dia membuka mata kiriku, memastikan aku masih bersama mereka. "Dia masih sadar!" katanya lagi. Jelas, aku masih sadar! Dasar kalian ini!
Entah kenapa kepalaku terasa sakit, seperti hendak hilang ingatan. Mataku tak bisa terbuka lebar, bahkan aku cuma bisa berbicara dari hati walau aku merasakan kalau mulutku cukup lebar untuk mengeluarkan suara.
Tiba-tiba, sesuatu memasuki mulutku, rasanya ingin muntah tapi tidak bisa! Sebuah selang panjang, melewati tenggorokanku dan berhenti di rongga dadaku, mungkin sekitar paru-paru.
Suara mesin menyala, bisa kurasakan selang yang masuk ke tubuhku tadi bekerja. Kini aku bisa bernapas sendiri, ajaib!
Suara-suara di sekitarku panik, aku tidak tahu kenapa. Tapi... mereka semua tampaknya sangat sibuk.
"Periksa tekanan jantungnya!"
"Terus turun pak!"
"Astaga! Lakukan sesuatu!" seseorang membuka kancing kemejaku, meletakkan suatu benda yang sedingin es di dada kiriku. "Masih ada! Cuma lemah!" katanya panik.
Lemah? Apa yang mereka katakan! Aku tidak selemah itu tahu!
Seseorang datang lagi, kini membuka mata kananku, jelas, aku bisa melihatnya walau samar-samar.
"Dia masih sadar pak!"
"Bagus!"
Jelas! Aku masih sadar tahu! Kalian saja yang tidak mengerti!
Tiba-tiba saja, banyak wajah-wajah yang tak kukenal memandangiku dari atas. Siapa mereka? Kenapa mereka memakai masker? Mereka itu dokter, ya? Salah satu dari mereka membuka kemejaku, bisa kurasakan hawa dingin yang begitu menusuk dari AC mobil.
Lalu aku merasakan sesuatu yang menempel di sekujur tubuhku, mereka yang melakukannya? Tidak bisa dipercaya! Tubuhku ini, bukan untuk disentuh!
Pandanganku mulai kabur, kantuk menyerangku dari segala sisi. Mataku terpejam sejenak, kemudian aku spontan membukanya. Niko? Aku melihatnya sekilas, tapi... kenapa dia ada di sini!
Tiba-tiba saja mading sekolah berada di depanku. Ini aneh, maksudnya... kenapa bisa? Wajahku menoleh ke samping, memastikan. Pagi, sejuk, dan tawa murid-murid memenuhi koridor sekolah.
"Hey, kau anak pindahan dari SMA Tri Guana 'kan?"
Aku sontak menoleh ke sumber suara, ke dada seseorang, lalu kusadari kalau dia lebih tinggi dariku. Kupandangi wajahnya, seorang guru wanita dengan rambut hitam yang dikucir.
"Iya," kataku.
Dia tersenyum sinis, entah kenapa aku langsung jengkel. Mungkin murid-murid di sini juga merasakan hal yang sama, atau cuma aku seorang? Karena belakangan ini pergaulan sedang kubatasi.
"Kau Kouko Kasandra kan?" tanyanya lagi, suaranya medok, aku langsung mengerutkan kening. Tidak salah, cuma ada yang kurang.
"Kouko Cassandra," aku membetulkannya, dan dia tersenyum lagi.
Kupandangi bet nama di dada kirinya, Rita Amanda, itu namanya, itu nama guru yang membuatku jengkel sesaat.
"Apa yang kau lakukan di sini? Nyari ekskul?"
Dia bisa menebaknya? Keren! Aku pun mengangguk, lanjut melihat mading sekolah. Lalu tanpa kuduga sebelumnya, dia meraih tanganku, membawanya ke sudut bawah mading. Di sana terdapat surat keanggotaan bakti sekolah, salah satunya mengatasi perpustakaan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Forbidden Book [Rewrite]
Ficção AdolescenteSetelah dapet izin dari author aslinya, Wulan bakal revisi ni cerita jadi lebih menarik lagi, hehe. Jangan lupa pantengin aja terus, ya! Pokoknya bakal Wulan Revisi habis-habisan❤️❤️❤️ Niko Dheiman, remaja introvert yang menemukan kenyamanan di perp...
![Forbidden Book [Rewrite]](https://img.wattpad.com/cover/351357539-64-k311162.jpg)