17. Unpredictable [Revisi]

44 9 0
                                        


Pukul 10:00.

Bel berbunyi nyaring, menandai dimulainya jam istirahat. Seolah tersadar dari lamunan, Niko segera bangkit dari tempat duduknya dan melangkah keluar kelas.

Di koridor, dua sosok sudah menantinya—Jovian dengan gaya sok santai, dan Olivia dengan tangan bersedekap, wajahnya setengah sebal.

"Nik... Oliv gak mau ikut lagi njir!" buka Jovian, langsung tanpa filter.

"Ck! Pengadu!" Olivia memelototinya dengan kesal.

Niko menarik napas pendek, lalu menatap Olivia dengan nada lembut, "Kenapa lagi sih, Liv?"

"Huh... gak apa-apa, Nik. Cuma... takut aja, hehe." Olivia mencibir manja, bibirnya manyun ke depan.

"Heleh, alasan! Pasti takut image-nya keganggu," sela Jovian cepat, menahan tawa.

"Diem ah, Jov!" Olivia melayangkan cubitan angin yang gagal kena.

Seperti biasa, keduanya mulai adu mulut lagi—dan seperti biasa pula, Niko hanya bisa geleng-geleng kepala. Cekcok kecil mereka memang bikin pusing.

"Stop. Pelase, cukup," ucap Niko, setengah lelah. Ia menatap keduanya dengan tatapan memohon. "Kantin yuk?"

Mendadak sunyi. Jovian dan Olivia saling melirik, terkejut. Niko ngajak ke kantin? Itu hal yang cukup langka untuk seorang Niko Dheiman.

***

Di kantin.

Seperti biasa, tempat itu sudah ramai. Suara obrolan bercampur dengan aroma makanan ringan yang memenuhi udara. 

Untungnya, dewi fortuna masih berpihak—mereka menemukan satu meja kosong di pojok yang cukup nyaman dan sedikit lebih tenang dari area lainnya.

Dua gelas susu coklat dingin dan satu kopi kaleng mendarat di atas meja. Tanpa banyak kata, mereka mulai melanjutkan diskusi.

Aneh rasanya, membahas hal serius di tempat seberisik ini. Niko lebih suka tempat sunyi, tapi entah kenapa, hari ini ia tidak keberatan.

"Jadi, kita gerak jam sepuluh lewat dua lima, kan?" tanya Jovian, menyandarkan punggung ke kursi sambil menyesap susu coklatnya.

Niko mengangguk pelan. "Hooh," jawabnya singkat, sebelum kembali meneguk kopi kalengnya.

Mereka lalu melirik ke arah Olivia. Gadis itu tampak cemas, bibir digigit, mata menerawang ke arah kerumunan.

"Liv? Gak apa-apa?" tanya Niko, nada suaranya sedikit lembut dari biasanya.

"Huh? Eh... iya?" Olivia terlonjak kecil, seperti baru sadar dari lamunan.

"Paling juga mikirin reputasi," celetuk Jovian, setengah bercanda.

Tapi anehnya, Olivia tidak membalas. Tak ada adu mulut, tak ada cubitan di lengan. Dia hanya diam, memalingkan wajah.

Itu cukup membuat keduanya saling pandang.

Lalu, dari belakang mereka, terdengar percakapan yang lebih keras dari yang lain. Sekelompok siswa—laki-laki dan perempuan—tengah mengobrol dengan nada panas.

"Eh! Ntar kita tangkep aja tuh si Wulan! Gerem gua, cok!"

"Iya, bener tuh. Udah kayak paling bener aja gayanya!"

"Kapan? Jam olahraga?"

"Gaskeun!"

Tiga kata terakhir itu cukup untuk membuat ketiganya saling melirik. Jelas—itu rencana perundungan. Tapi masalahnya... ini bukan bagian dari ramalan yang sedang mereka pecahkan. Ini di luar skenario. Di luar jobdesk.

Forbidden Book [Rewrite]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang