28. A Date Before Sunrise [Revisi]

44 7 6
                                        

"Serius? Ini yang ngomong dia?" Jovian menyimak rekaman yang Olivia ambil saat bersama Kouko kemarin.

"Hooh, gimana? Udah jelas, kan?"

Jovian menggeleng-geleng, bingung. "Kalau aku jadi Niko, udah kutembak tuh si Kouko!"

"Bener, kan?" Olivia menyimpan ponselnya, ikut kesal. "Entah deh, Jov! Bingung banget sama tuh orang!"

Ia mengalihkan wajah, kesal sendiri. "Padahal mereka itu saling suka! Tinggal nunggu confess doang!" kepalanya mulai menggeleng, tak mengerti. "Gak paham aku!"

"Emang rekamannya mau diapain? Kasih ke Niko?" tanya Jovian.

Olivia memutar matanya, bibirnya monyong. "Rencananya sih... iya. Tapi kayaknya gak usah deh."

"Sini, babang Jovi aja yang ngasih!" ucap Jovian dengan semangat, mulai bangkit dari bangku yang mereka duduki.

"Jangan ah!" tegas Olivia, menatapnya tajam.

Jovian duduk lagi, pura-pura takut. "Ih, galak banget, Mbak. Padahal niatnya mulia."

"Apaan sih niat mulia? Cuma pengen liat reaksi Niko doang, kan?"

Jovian mengangkat tangan, menyerah. "Hehe..."

"Ketawa lagi!" Olivia memukul bahunya pelan.

Hening.

Olivia menghela napas, kemudian menatap kosong ke depan. Kendaraan memenuhi jalanan kota, sedangkan para wajah lelah tak memberi celah kosong di atas trotoar.

Sore itu, kota sangat ramai, namun entah kenapa... Olivia terus dihantui kerisauan soal hubungan keduanya, yang mempengaruhi mereka berempat.

"Kadang aku mikir," katanya pelan, "Niko itu terlalu takut kehilangan. Tapi dia malah gak mau bertindak."

Jovian yang sedang asyik menatap ponselnya mengangguk pelan. "Sepakat. Emang itu sifat buruknya—overthinking tapi gak mau gerak."

Olivia terkekeh. Sekian lama ia dan Jovian sering bertengkar karena hal sepele, tapi kali ini... entah kenapa, rasanya menyenangkan bisa berada di sisi yang sama.

Namun, perasaan itu langsung buyar saat Jovian tiba-tiba berseru...

"Widih! Ini sih terlalu dibesar-besarkan!" kata Jovian sambil memiringkan ponselnya ke arah Olivia.

Layar itu menampilkan sebuah video sosmed—seorang influencer tutorial, namun... dengan pakaian yang sangat terbuka.

Olivia sempat melirik sepersekian detik sebelum buru-buru menutup mata dan menjauh.
"Jov, ah! Mata suciku terkontaminasi!" katanya kesal.

"Hehe, sori," ucap Jovian enteng, bahunya naik-turun seolah tak berdosa. "Tau-tau FYP-nya begini, bukan salahku."

Ia kembali tenggelam dalam scrolling-nya, senyum-senyum sendiri seperti anak kecil yang baru saja usil.

Tak lama berselang, Niko dan Kouko akhirnya tiba, menenteng beberapa kantong plastik setelah cukup lama berbelanja. 

Dari raut wajah mereka yang tak lagi kaku dan tegang, Olivia langsung berspekulasi—mereka pasti sudah baikan.

Ia cepat-cepat berdiri, antusias. "Dapet semua?"

Niko menghela napas, lalu menggeleng pelan. "Ada sih... cuma nggak sesuai kebutuhan."

"Oh, gitu ya?" Olivia mengangguk, lalu melirik keduanya, matanya bersinar penuh rasa ingin tahu. Ada senyum tipis terselip di wajahnya. Ia pun berbisik ke arah Niko, mencondongkan tubuh sedikit. "Kalian... baikan, ya?"

Forbidden Book [Rewrite]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang