25. Agenda Tersembunyi [Revisi]

45 6 4
                                        


Pukul 10:00

Semua murid dan guru kembali ke sekolah setelah mengelilingi rute gerak jalan. Tak ada wajah lelah di sana—hanya senyuman yang merekah, menyambut pagi yang hangat, dan harapan agar nomor mereka terpilih untuk memenangkan hadiah.

Di dekat pentas, kerumunan murid berjoget riang mengikuti irama lagu yang menggelegar dari speaker, tawa dan teriakan bercampur, membentuk lautan kebahagiaan yang semarak.

"Yup! Nomor 024!" seru panitia dari balik mikrofon, disambut tepuk tangan dan sorakan.

Seorang siswa melonjak kegirangan, mengangkat tangan tinggi-tinggi sambil menunjukkan kertas nomornya. Yang lainnya tersenyum dan bersorak, menanti giliran mereka.

Namun... jauh dari pusat keramaian itu, di sisi lain lapangan yang teduh dan tenang, Niko dan Olivia duduk berselonjor di atas rerumputan yang lembut.

Pandangan mereka mengarah ke depan, ke hiruk-pikuk acara yang meriah itu. Namun apa yang mereka bahas di sana, bukan soal musik yang diputar atau hadiah-hadiah yang dibagikan, tapi... curhatan.

"Jadi... kamu ngakui dia cantik pas tau sisi lainnya?" Olivia bertanya gundah.

Niko mengangguk. "Ya... terus jadi canggung." ia mengusap wajahnya, gelisah. "Huh... ini yang kutakuti!"

"Iya lagi, Koukopedia juga misterius banget orangnya."

Keduanya terdiam sejenak, menyaksikan kerumunan yang bergerak mendekat ke panggung untuk menerima hadiah setelah nomor mereka dipanggil.

"Jujur aja, aku udah nyaman sama kami yang sekarang. Kayaknya gak perlu lebih dari sekedar teman," ungkap Niko tiba-tiba, menarik perhatian Olivia.

"Ha? Yakin?" tanyanya memastikan.

"Ya... maybe," jawab Niko ragu.

Olivia menggelengkan kepalanya. "Nik, kalau kamu emang sayang and suka sama dia, yaudah... nyatain aja. Emang kamu mau? Dia direbut orang?"

"Gak mungk-"

"Mungkin!" potong Olivia, sorot matanya tajam. "Dia bukan dia yang dulu! Dia udah berubah, Nik!"

"Emang kamu siap? Ngeliat Koukopedia yang sekarang deket orang lain, dan kamu gak bisa ngapa-ngapain? Selain nyimpan sakitnya doang?"

Niko merenung sejenak, tetap tenang karena apa yang Olivia katakan, tak ia percayai sedikit pun. Apalagi... mustahil Kouko dekat dengan orang lain, selain dirinya.

Di saat-saat itu, langkah yang menyapu rerumputan terdengar, makin jelas dan mendekat ke arah mereka.

Jovian.

Laki-laki itu penuh keringat, mengalir deras di sekujur tubuhnya.

"Dari mana aja?" tanya Olivia penasaran.

"Biasa, olahraga dalam tanda kutip," ucap Jovian menggoda.

Olivia menyipitkan mata, lalu memukul lengannya pelan. "Jov! Bisa nggak sih pagi-pagi jangan langsung cabul?!"

Jovian menyengir lebar, kemudian duduk di antara mereka. "Eh, ramalannya muncul, loh." katanya, membuat keduanya saling menoleh satu sama lain.

"Serius?" tanya Niko, memastikan.

"Hooh," Jovian membuka buku ramlannya, kemudian membacanya.

22 September, sedih menderita.

"Tragis, sih." ucap Niko setelah mendengarnya.

Setelah melihat bukunya, Olivia heran sampai keningnya mengerut. kenapa?

"Eh Jov, lu baca yang mana? 22 September 'kan?"

Forbidden Book [Rewrite]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang