30. Resep, Rasa, dan Ocha![Revisi]

30 6 6
                                        


Pukul 11:30

Mi goreng kedua mereka pun selesai. Niko, Kouko, Olivia, dan Jovian kembali berkumpul di meja, kali ini mencoba versi yang dimasak dengan lebih banyak minyak.

Ketiganya mulai menyantap. Tekstur mi kini lebih lembut dan basah, tak lagi kering seperti sebelumnya.

"Wow!" Olivia menutup mulutnya, terkejut oleh paduan rasa yang menari-nari di lidahnya. "Koukopedia, ini enak banget!"

Jovian mengangguk cepat, ikut larut dalam kelezatannya. "Gila sih... speechless gue."

Ia menggeleng tak percaya, lalu tangannya refleks memukul-mukul meja makan. "WOW! Gila, enak banget!"

"Jov, gak usah kumat ah!" sahut Olivia, memukul lengannya dengan spontan.

Niko mengangguk kecil, lalu menyisipkan komentarnya, tenang seperti biasa. "Udah pas. Pasti yang beli bakal suka."

Komentar mereka semua positif, namun...

"Kayaknya ada yang kurang," ujar Kouko tiba-tiba, sorot matanya tajam menganalisis rasa.

"Buset!" Jovian sontak menoleh, menatapnya penuh keseriusan. "Ko! Ini udah enak banget, sumpah gak bohong!"

Kouko membuka mulut hendak menjawab, tapi Jovian lebih dulu memotongnya.

"Gue, sebagai anak konglomerat yang biasa makan makanan fancy, ngakuin ini enak. Banget, malah!"

Olivia dan Niko terkekeh. Kouko hanya diam, memandangi Jovian dengan tatapan datarnya yang khas.

Ia memang begitu—teliti dan perfeksionis. Bahkan yang sudah nyaris sempurna pun, masih ingin ia sempurnakan lagi.

Saat Kouko membuka mulutnya untuk bicara, Jovian langsung panik. Wajahnya tegang, seolah sudah siap disemprot habis-habisan.

"Kita rehat sejenak," serunya cepat, memotong sebelum Kouko sempat berkata apa-apa.

Tanpa menunggu reaksi, ia langsung berlari kecil menuju sofa.

Niko dan Olivia tak bisa menahan tawa. Tawa mereka pecah, mengiringi aksi kabur Jovian yang dramatis tapi konyol.

Keempatnya kini berada di ruang tamu. TV besar menyala, tapi acaranya tak jelas—Jovian memegang remot, merasa paling berkuasa.

"Lah, kok channel-nya dikit amat?" gerutunya. Matanya berkeliling, mencari sosok pemilik rumah. "Eh, yang punya TV mana dah?"

Niko melirik ke bawah—Kouko sedang terlungkup di karpet, mencoret-coret buku kecil. Resep-resep baru memenuhi halamannya.

"Ko, udah dulu, istirahat. " ujar Niko lembut, sedikit khawatir.

Tanpa menoleh, Kouko menjawab, "Iya, sebentar lagi selesai kok."

Matanya tetap fokus, tangannya menari dengan pena. Seolah-olah inspirasi akan kabur kalau ia berhenti menulis.

Di sisi lain, Olivia mulai frustasi. "Ya ampun, Jov! Apa sih yang ditonton?!"

"Ya gak ada yang bagus," jawab Jovian santai. Tapi Olivia sudah keburu merebut remot dari tangannya.

"Sini! Aku aja." Ia langsung membuka aplikasi Netflix.

"Nah, dari tadi kek!" ketus Jovian.

Setelah masuk ke akunnya, Olivia melirik ke Niko. "Nik, mau nonton apa?"

"Ya... terserah, apa aja," jawab Niko santai.

Tiba-tiba, Jovian merebut remot balik. "Oh! Nih! La La Land! Bagus banget, sumpah."

Forbidden Book [Rewrite]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang