"Kamu itu... seperti mawar," ujar Niko perlahan. "Indah untuk dilihat, tapi sulit untuk digenggam."
Kouko menunduk sebentar sebelum menjawab, suaranya datar seperti biasa. "Maaf, aku tidak seindah itu. Aku mungkin cuma tangkai berduri. Yang lebih sering melukai daripada memikat."
"Tidak!" seru Niko cepat, nadanya nyaris panik. "Bagiku... apapun kamu... kamu tetap yang paling indah dalam hidupku."
Hening.
Mata mereka bertemu sejenak sebelum akhirnya Kouko memecah sunyi—bukan dengan jawaban, tapi dengan membalik halaman novel yang tadi mereka baca bersama.
"Niko... ayo coba yang ini," katanya sambil menunjuk sebuah bagian.
Niko langsung menegakkan badan, bersiap.
"Ehem, aku mulai," katanya dengan nada dramatis. "Sayang, kalau kamu tahu... aku sudah menempuh ribuan kilometer hanya untukmu!"
Kouko menanggapi dengan ekspresi dingin, tapi tepat sasaran. "Aku tidak minta itu! Kamu melakukannya untuk dirimu sendiri!"
"Tidak! Aku melakukannya untukmu! Karena aku mencintaimu! Kouko!"
Diam.
Niko langsung menyadari apa yang dia ucapkan. "Eh... salah ya?"
Kouko menghela napas. "Huft... Niko, ini udah yang keempat kalinya kamu lupa nama karakternya."
"Ehe... sori-sori," Niko garuk-garuk tengkuknya, malu setengah mati. Tapi Kouko tampaknya tidak menyadari—atau pura-pura tidak sadar?
Dia menutup novelnya. "Udahan dulu ya. Kayaknya cukup buat hari ini."
Kouko berdiri dan mengembalikan buku ke rak. Niko masih duduk, merenung. Dadanya berdebar. Kalau Kouko sadar dia sengaja menyebut namanya dalam adegan itu... bisa gawat.
Beberapa menit kemudian, bel sore berdentang. Tanda kegiatan sekolah telah usai.
"Yah... kayaknya kita kudu pulang," gumam Niko sambil bangkit.
Kouko hanya mengangguk, mengemasi barangnya dengan tenang.
Saat mereka hendak menuju kantor guru untuk menyerahkan kunci, Niko memberanikan diri.
"Anu... Ko," panggilnya.
Kouko menoleh. Tatapannya datar, tapi ada sedikit rasa penasaran di dalamnya.
"Mau ikut? Aku sama Ocha mau makan di luar," tawarnya, sedikit gugup.
"Makan di luar?" Kouko tampak bingung. "Maksudmu, makan di luar rumah?"
"Iya. Literally di luar. Tapi bukan kayak... yang lagi kamu bayangin," Niko tersenyum kecil. "Gimana? Mau ikut?"
Kouko mengangguk pelan. "Boleh."
"Thanks, Ko. Ocha pasti seneng ada kamu!" ucap Niko, matanya bersinar bahagia.
Mereka berdua menyerahkan kunci perpustakaan ke Bu Rita, lalu keluar melewati gerbang sekolah—melangkah ke arah kota, ke tempat di mana sore itu mungkin berubah menjadi momen kecil yang tak akan dilupakan.
***
Pukul 14:20.
Niko dan Kouko duduk berdampingan di bangku kota.
Kencan? Entahlah. Tapi suasananya memang... terasa seperti itu.
Belum sempat Niko mencari topik obrolan, suara yang sangat dikenalnya memecah keramaian dari kejauhan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Forbidden Book [Rewrite]
Teen FictionSetelah dapet izin dari author aslinya, Wulan bakal revisi ni cerita jadi lebih menarik lagi, hehe. Jangan lupa pantengin aja terus, ya! Pokoknya bakal Wulan Revisi habis-habisan❤️❤️❤️ Niko Dheiman, remaja introvert yang menemukan kenyamanan di perp...
![Forbidden Book [Rewrite]](https://img.wattpad.com/cover/351357539-64-k311162.jpg)