Pukul 14:45 – Perpustakaan
Niko, Jovian, dan Olivia duduk melingkari sebuah meja kayu tua. Di atasnya, tiga buku ramalan terbuka, menampilkan tulisan yang terasa seperti teka-teki.
17 Juni, Bola kepala sekolah.
Mereka bertiga terdiam.
"Ini maksudnya apa?" gumam Olivia sambil melirik Niko, seolah mengharapkan jawaban darinya.
Niko mengangkat bahu. "Jangan tanya aku, aku gak tau," jawabnya kesal.
Hening. Tak ada yang berbicara selama beberapa detik.
Tiba-tiba, Jovian mengangkat tangannya. Olivia dan Niko langsung menatapnya penuh harap. Apakah dia sudah menemukan jawabannya?
Tidak. Dia hanya memperbaiki lengan bajunya.
"So... ini ada hubungannya sama kepala sekolah?" ujar Jovian akhirnya.
"Ya iya, jelas," Olivia mendesah lelah.
"Terus gimana? Tinggal ikutin dia aja, kan? Siapa tahu..."
"Jov, kepala sekolah bukan bocil. Dia bakal curiga kalau kita ngintilin dia ke mana-mana," potong Niko.
Olivia mengangguk. "Iya sih! Mending kita awasi dari jauh, gimana?"
Namun, Jovian menggeleng. "Aku sih ogah," ucapnya datar.
Niko dan Olivia melongo. Biasanya, Jovian selalu tertarik dengan urusan ramalan. Ada apa dengannya kali ini?
"Jov? Kau sakit?" Olivia menatapnya curiga.
"Nggak," sahut Jovian, lalu mendengus. "Cuma males aja liat tuh orang."
Niko menyipitkan mata. "Punya masalah sama kepala sekolah?"
Jovian mendadak bersemangat. "Jelas! Tuh orang genit banget sama murid cewek! Kau tahu nggak? Kemarin aku lihat dia mondar-mandir di depan toilet cewek. SUS banget, kan?"
"Eh, Jovi! Jangan sembarang!" Olivia menegur. "Kepala sekolah itu baik, tahu nggak?"
"Baik apanya? Cabul sih, iya!" Jovian mendengus.
Niko menutup wajahnya dengan tangan. Ramalan yang sulit dipecahkan saja sudah cukup menyulitkan, ditambah lagi perdebatan dua temannya yang makin memanas. Namun, kalau mereka terus berdebat di sini, ramalan itu bisa saja keburu terjadi.
Ia bangkit dari kursinya, membuat Olivia dan Jovian otomatis menghentikan adu argumen mereka.
"Sudah, daripada kalian debat nggak jelas, mending kita cari tahu langsung!" seru Niko.
"Ayok!" ujar Jovian dengan antusias, diikuti Olivia yang masih setengah kesal.
Namun, baru beberapa langkah menuju pintu, beberapa orang murid masuk ke perpustakaan.
Mata Niko melebar. Melihat perpustakaan tiba-tiba ramai.
Kouko, yang sejak tadi sibuk di belakang meja tugasnya, dengan sigap melayani mereka satu per satu. Namun, melihat jumlahnya yang banyak, Niko mendadak ragu.
"Duh... gimana, nih?" gumamnya, jelas kebingungan.
Olivia melirik Kouko, yang tetap tenang meskipun mulai kewalahan.
"Nik, kau di sini saja," ujarnya.
"Hah? Serius? Kalian bisa handle sendiri?"
Olivia tersenyum kecil. "Ih, sepele banget!" katanya sambil menyikut Niko pelan. "Kasihan Koukopedia, ntar dia kerja sendirian."
KAMU SEDANG MEMBACA
Forbidden Book [Rewrite]
Novela JuvenilSetelah dapet izin dari author aslinya, Wulan bakal revisi ni cerita jadi lebih menarik lagi, hehe. Jangan lupa pantengin aja terus, ya! Pokoknya bakal Wulan Revisi habis-habisan❤️❤️❤️ Niko Dheiman, remaja introvert yang menemukan kenyamanan di perp...
![Forbidden Book [Rewrite]](https://img.wattpad.com/cover/351357539-64-k311162.jpg)