19. Apa itu Cinta? [Revisi]

41 9 1
                                        


Pukul 15:25.

Mata tajam Kouko sesekali melirik ke arah jam dinding perpustakaan. Dia punya rencana besar bersama Olivia selepas sekolah, dan dia tak ingin melewatkannya.

Niko, di sisi lain, tengah fokus menyusuri lorong rak buku, memastikan semua tersusun sesuai kategori.

Saat berbalik, ia melihat Kouko masih duduk di mejanya—tatapannya terpaku pada jam dinding. Bibirnya bergerak pelan, seperti sedang menghitung setiap detik yang lewat.

Ngapain dia? Aneh banget...

Karena penasaran, Niko pun mendekat.

"Kouko, kamu lagi ngapain?"

Kouko menoleh perlahan, lalu kembali menatap jam. "Aku... sedang menunggu."

"Nunggu? Siapa?" tanya Niko, kini duduk di meja sebelahnya, memperhatikannya dari samping.

Kouko tak menjawab. Ia masih menghitung dalam diam.

Saat bel sekolah berbunyi, ia langsung berdiri dan merapikan barang-barangnya dengan tergesa-gesa.

Niko, yang belum puas dengan jawabannya, cepat-cepat menahannya. "Wait, mau ke mana sih? Kok buru-buru banget!"

"Niko, minggir," ujar Kouko mencoba menghindar.

Tapi Niko tetap bertahan, lalu meraih tangannya. "Ko! Bentar!"

Kouko akhirnya berhenti. Ia berbalik, namun pandangannya tetap tertuju pada jam dinding.

"Kamu kenapa sih? Kok buru-buru banget?"

"Aku... ada urusan," jawabnya singkat.

Niko terdiam. Nada bicara Kouko dingin—sangat berbeda dari biasanya.

"Urusan?"

"Iya. Dan kamu tidak boleh ikut. Juga tidak boleh tanya-tanya lagi," ucapnya tegas.

"O-Ok.."

Perlahan, genggaman tangan Niko mengendur. Kouko menarik tangannya, lalu segera pergi meninggalkan perpustakaan.

Niko terdiam. Sikap dingin Kouko barusan—itu sudah lama tak ia lihat. Dan sejujurnya, itu cukup mengusik.

Tapi dia tahu... dia tak punya hak untuk menggali lebih dalam.

***

Di Kota.

Dalam perjalanan menuju toko buku yang disebutkan Olivia, gadis itu tak henti-hentinya menginterogasi Kouko soal kejadian di perpustakaan.

"Jadi... kamu bilang ke Niko kalau dia nggak boleh ikut? Terus nggak boleh tanya-tanya juga?"

Kouko mengangguk, membalas ringan, "Aku tidak salah, kan?"

"Ya... nggak juga sih. Tapi, Koukopedia..."

Olivia menahan ucapannya. Langkah mereka pun terhenti sejenak. Kouko menatapnya—tatapan dingin, tapi tak kehilangan sisi lembutnya.

"Kalau kamu gitu terus... ntar Niko bisa sedih, lho."

Wajah Kouko berubah cemas. "Serius? Aku bisa membuatnya sedih?"

"Yaa... walau Niko bukan tipe yang lebay sih," Olivia menaruh kedua tangannya di bahu Kouko, menatapnya lembut. "Tapi tetap aja, kita nggak apa yang lagi dia rasain. Jadi, jangan diulang, ya?"

Kouko mengangguk perlahan. Mulai sadar bahwa ia mungkin kelewat dingin tadi.

Maklum, urusan hati bukan keahliannya. Bahkan, dia sendiri tak benar-benar paham dengan perasaannya. Untungnya, Olivia ada di sana untuk membantunya memahami itu.

Forbidden Book [Rewrite]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang