35. Dia Masih Menunjukkan Kelasnya [Rewrite]

28 5 4
                                        


Pukul 13:30

Teriknya matahari tak mampu meredakan semangat festival. Musik, mini game, dan berbagai kegiatan lain tetap berlangsung meriah, seolah cuaca bukanlah halangan.

Di sudut lain, tepatnya di gerai perpustakaan, Niko duduk seorang diri sambil menggulir layar ponselnya. Sesekali ia tersenyum kecil, bahkan terkekeh pelan, sebelum seseorang menghampiri.

"Nik? Sendirian aja, Koukopedia mana?" tanya Olivia heran.

Niko menoleh santai, mengangkat kedua bahunya. "Entah. Katanya mau ke WC, sih." Ia melirik jam di layar ponsel. "Tapi kok belum balik, ya?"

"Huh..." Olivia duduk di sebelahnya, wajahnya letih tapi masih menyisakan semangat festival. "Jovi?"

"Lagi OTW. Katanya sih."

Olivia menggeleng, pandangannya menatap keramaian di depan. "Aneh ya? Entah kenapa... festival kali ini rasanya beda banget, kayak ada yang spesial gitu."

Niko menurunkan ponsel, kini memperhatikan gadis di sampingnya. Olivia tersenyum kecil.

"Soalnya... bisa ngerasain festival bareng kalian."

Niko ikut tersenyum. Hangat. "Kalau mau jujur, aku juga sama kok, Liv."

"Serius?" Olivia menoleh cepat, penasaran.

Niko hanya mengangguk. Tak perlu banyak kata. Itu sudah cukup menjawab semua perasaan yang belum sempat terucap.

Tak lama, acara yang paling dinanti banyak siswa pun dimulai: Ranking Satu, kompetisi adu pengetahuan yang diikuti tiga puluh murid dari berbagai kelas. Semua peserta duduk berjejer dengan papan tulis mini di tangan, siap menulis jawaban terbaik mereka.

Olivia langsung antusias. Sementara Niko... awalnya ingin tetap di sana, menunggu Kouko yang belum juga kembali. Tapi setelah beberapa bujukan, ia akhirnya ikut juga, meski dengan semangat setengah hati.

Setibanya di lokasi, suasana sudah riuh. Tiga puluh peserta telah siap. Suara panitia memecah udara, menyemangati penonton dan peserta.

"Para peserta, kalian siap!?"

"SIAP!" sahut peserta serempak.

"OK! Kita mulai!"

Kompetisi dimulai. Murid-murid dari gedung A dan B bersaing dalam satu arena. Sorak sorai, tawa, dan celetukan mengiringi setiap ronde. Suasana begitu hidup khas festival sekolah.

Beberapa ronde berlalu. Dari kerumunan peserta, satu nama mulai mencuat: seorang siswi dari gedung B. Penampilannya sederhana, tapi jawabannya cepat dan presisi. Ia menjawab nyaris tanpa ragu. 

Semua mulai memperhatikannya. Dominasi gadis itu begitu mencolok, hingga beberapa penonton mulai memindahkan fokus dari peserta unggulan gedung A ke dirinya.

"Siapa dia?" tanya Niko penasaran, matanya mengikuti gerakan gadis itu di arena.

Olivia menggeleng. "Gak tau. Tapi kayaknya... dari gedung B."

"Gedung B?" Niko terkekeh kecil. "Maksudnya... gedung buangan?"

"Nik ih!" Olivia memukul pelan bahunya. "Jangan ngomong gitu lah! Mau gedung A kek, B kek... kita tetap satu sekolah tau!"

"Iya, iya... canda kok." Niko tertawa kecil, meski matanya masih tertuju pada gadis itu.

Tiga puluh menit berlalu. Kini hanya tersisa sepuluh besar. Dan gadis dari gedung B itu... masih belum kehabisan bahan bakar.

Namun saat jumlah peserta menyusut jadi lima, satu nama lain muncul ke permukaan—secara tiba-tiba.

Dia duduk di sudut arena. Tak mencolok. Tak ada yang menyadari kehadirannya sejak awal.

Forbidden Book [Rewrite]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang