"Yang benar aja! Rugi dong!" Keluh Jovian dengan ekspresi kesal pada Olivia.
"Alah.. cuma satu doang aja kok!" Olivia menarik lengan Jovian dan memeluknya dengan lembut. Tatapannya tertanam sebuah harapan kecil, setelah bedaknya raib disita guru. "Jovi! Murah kok, cuma 200.000!"
"Murah dengkulmu!" Celetuk Jovian.
"Oh gitu?!" Olivia menghempaskan tangan Jovian, membuang wajahnya dengan perasaan marah. "Cih! Pelit!"
Kondisi ruangan C-305 terasa sangat sunyi setelah kepergian Niko dan Mira ke seminar. Ryan sedari tadi tak henti-hentinya merasa cemas, seperti telah terjadi sesuatu di luar sana.
Olivia menegur Ryan yang duduk sembari memainkan jari-jarinya di atas meja, teguran pertamanya diabaikan lalu melanjutkan dengan teguran kedua.
"Ryan! Budek, ya?!" Ucap Olivia.
Ryan menoleh ke sumber suara, melihat wajah Olivia dengan alis melengkung tajam ke bawah. "Apa?"
"Kau kenapa? Kok gelisah gitu?" Tanya Olivia penasaran.
"Gak apa-apa, kok!" Ryan menundukkan kepalanya lalu mengatakan sesuatu yang membuat hatinya gusar. "Entah kenapa, perasaanku jadi gak enak,"
"Maksudnya?"
Ryan kembali menatap wajah Olivia dan berkata. "Firasatku bilang, kalau Mira harus tetap di sini dan gak usah pergi ke seminar,"
"Hah?" Olivia melongo bingung mendengarnya. "Apa yang kau bilang?"
"Huh ... aku bilang, seharusnya Mira gak usah pergi! Soalnya perasaanku langsung gak enak,"
Mendengar kata-kata Ryan barusan, Jovian langsung menghampirinya dan duduk di sebelahnya. Ia berusaha menenangkan Ryan yang sedang jatuh dalam suasana kekhawatiran.
"Kalem aja, gak sudah parno gitu!" Jovian mengelus pundak Ryan dengan hangat. "Memangnya kau punya something gitu, sama Mira?" Tanyanya tiba-tiba.
Ryan tergelak kecil sebelum menanggapinya. "Yah.. dia satu-satunya orang yang membantuku berteman sama banyak orang,"
"Owh.. pantas aja!"
"Apa?"
Jovian tersenyum lebar. "Soalnya kau protektif banget sama Mira,"
Ryan menyeringai dan berkata. "Untung kau sadar, hehe.."
Tiba-tiba ponsel Jovian berdering, dengan sigap ia menggapai sakunya dan mengeluarkan ponselnya dari dalam. Jovian melihat nomor tak dikenal menghubunginya. Dengan rasa ragu dan bingung, ia mengangkatnya.
"Ha-Halo? Siapa ya?" Tanya Jovian ragu.
"Bu Rita!"
Jovian menurunkan ponselnya, memberitahu Olivia dan Ryan dengan suara pelan. "Bu Rita!" Ia kembali merespon ponselnya. "I-Iya? ada perlu apa ya, bu?"
"Niko, dia kecelakaan," Kata Bu Rita, membuat ketiganya kaget.
Dalam keheningan sejenak, Ryan mengambil ponsel Jovian. "Bu Rita! Kalau Mira?"
"Mira juga sama, dari tadi mereka gak sadarkan diri!" Bu Rita terisak dari balik panggilan itu. "Kalian bisa datang ke rumah sakit?"
"BISA!" Jawab tegas Ryan.
Setelah panggilan berakhir, kepanikan menghampiri Olivia. Wajahnya pucat dan napasnya tak karuan, begitu juga dengan Jovian yang tatapan kosong mengarah ke dinding ruangan. Kecelakaan ini yang dari tadi membuat perasaan Ryan tak tenang sepanjang hari, dan dia merasa menyesal tak menghalangi Mira lebih kuat lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Forbidden Book [Rewrite]
Teen FictionSetelah dapet izin dari author aslinya, Wulan bakal revisi ni cerita jadi lebih menarik lagi, hehe. Jangan lupa pantengin aja terus, ya! Pokoknya bakal Wulan Revisi habis-habisan❤️❤️❤️ Niko Dheiman, remaja introvert yang menemukan kenyamanan di perp...
![Forbidden Book [Rewrite]](https://img.wattpad.com/cover/351357539-64-k311162.jpg)