22 September
Ada apa dengan tanggal itu? Bukankah itu... hari terakhir festival? Ya, tak sepenuhnya salah. Tapi lebih tepatnya—itulah hari di mana ramalan itu akan terjadi.
Namun hari itu, tak ada kegelisahan. Tak ada tanda-tanda bencana. Niko, Jovian, dan Olivia masih bersama. Dan Kouko... juga ada di sana. Ia tak pergi ke mana-mana, tak bersama siapa-siapa... kecuali mereka.
Setelah memenangkan mini game Ranking Satu, Kouko mulai mendapat banyak perhatian. Tapi bukan karena tampilan sempurnanya. Melainkan kekaguman mereka pada kemampuan Kouko—pintar, tenang, dan sulit ditebak.
Dan itu... cukup membuatnya merasa benar-benar dilihat, sebagai dirinya sendiri.
Kouko menatap langit sore itu, matanya berbinar, seperti baru menemukan sesuatu yang selama ini ia lewatkan.
"Langit... indah, ya?" gumamnya.
Ketiganya sontak menoleh, heran. Jovian mengernyit. "Emang indahnya di mana?"
Kouko tersenyum kecil. "Aku jarang lihat ke atas. Tapi aku yakin... langit lebih biru dari lautan."
Olivia dan Jovian saling melirik, tak benar-benar paham. Tapi Niko—dia tahu apa maksudnya. Dan meskipun tak berkata apa-apa, senyum tipisnya cukup untuk menjawab.
Kouko kemudian menatap mereka satu per satu. Dalam, perlahan, dan penuh arti. Seolah ingin menyimpan wajah mereka di memorinya... untuk waktu yang sangat lama.
"Koukopedia? Kamu nggak apa-apa?" tanya Olivia, melihat keringat di leher Kouko.
"Nggak apa-apa kok. Cuma... agak lelah. Dan sedikit pusing," ucap Kouko, sambil memijat pelipisnya pelan.
Niko menghela napas. "Kirain kenapa..."
"Penutupannya jam tujuh malam, kan?" tanya Jovian tiba-tiba, menyeringai penuh rencana.
"Hooh, kenapa? Mau ngilang lagi?" cibir Olivia dengan mata menyipit.
"Ya enggak lah! Justru pen ngajak keliling. Emang lu mau disini terus? Sampe jam tujuh?"
Olivia mengangguk paham, kemudian menoleh ke Niko, tanpa perlu berkata-kata... keduanya tersenyum.
Ketiganya pun kini menoleh ke Kouko.
"Koukopedia?" tanya Olivia.
Kouko sempat diam beberapa detik, lalu mengangguk kecil. "Boleh."
"Asik!" Olivia hampir melompat. "Akhirnya bisa bareng sama kalian!"
Dan begitu, keempatnya menyusuri area festival. Musik masih menyelip di udara, mini game yang tersisa masih bergulir meski tak seramai tadi siang, dan panggung drama mulai dipersiapkan sebagai acara besar terakhir di festival.
Pukul 16:00
Kouko terus memegangi kepalanya, padahal saat itu mereka tengah menyaksikan pertunjukan drama di aula sekolah. Di sekeliling mereka, tawa dan tepuk tangan bersahut-sahutan, tapi Kouko tampak diam dan sesekali memejamkan mata.
Niko menoleh, rautnya berubah. Ia meraih bahu Kouko perlahan dan membisik, suaranya nyaris tenggelam di antara sorak penonton.
"Honey, kamu kenapa?"
Kouko membuka mata sebentar, lalu menggeleng pelan. "Gak apa-apa, cuma pusing aja."
Niko mendekat sedikit. "Kamu yakin? Mau keluar?"
Kouko menyingkirkan kedua tangan Niko dari bahunya, meski gerakannya lemah. "Jangan khawatir... aku gak apa-apa kok."
Niko tak menjawab. Ia hanya menatapnya, menyembunyikan kekhawatiran yang menggumpal di dadanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Forbidden Book [Rewrite]
Novela JuvenilSetelah dapet izin dari author aslinya, Wulan bakal revisi ni cerita jadi lebih menarik lagi, hehe. Jangan lupa pantengin aja terus, ya! Pokoknya bakal Wulan Revisi habis-habisan❤️❤️❤️ Niko Dheiman, remaja introvert yang menemukan kenyamanan di perp...
![Forbidden Book [Rewrite]](https://img.wattpad.com/cover/351357539-64-k311162.jpg)