26. Jiwa, Waktu, Perasaan, dan Masa Depan [Revisi]

45 7 5
                                        


"Aku paham sekarang!" Olivia menatap Kouko, matanya memicing jahil. "Kamu suka Niko, ya?"

Kouko spontan tersedak udara. "O-Oliv! Bisa kita ganti topik?"

"Hehe, jadi bener, dong..." Olivia terkekeh. "Mukamu merah kayak tomat sekarang."

Kouko menutup wajahnya dengan kantong roti.

Pukul 16:30

Langit kota mulai memerah, seolah terbakar perlahan. Jalanan dipenuhi suara klakson, langkah kaki, dan cahaya lampu toko yang menyala satu per satu. 

Dunia terasa ramai, namun keduanya berjalan perlahan, tanpa arah, seperti ingin menjauh dari semuanya.

Mereka berhenti di sebuah toko roti kecil. Aroma manis langsung menyambut mereka.

"Melonpan!" seru Kouko lirih, matanya berbinar seperti anak kecil yang menemukan harta karun.

Beberapa menit kemudian, Kouko keluar sambil memegang dua kantong kertas. Ia menyodorkan satu pada Olivia.

"Oliv, kamu mau roti?"

Olivia menerimanya dengan senyum lebar. "Makasih! Btw... aku suka banget sama tiramisu, sih."

Kouko hanya mengangguk sambil menggigit melonpan miliknya.

Mereka kembali berjalan di tengah trotoar yang mulai dipenuhi orang-orang. Tak ada arah jelas, tapi ada ketenangan yang jarang datang di hari-hari biasa.

Tiba-tiba Kouko berhenti di depan sebuah toko sembako. Tatapannya terpaku pada etalase penuh beras dan mi instan.

Olivia mengerutkan dahi. "Koukopedia? Ada apa?"

"Besok kita harus belanja, kan?" gumamnya.

"Oh iya! Jadi... mau beli di sini aja, atau yang deket sekolah?"

Kouko mengamati lebih dalam. Barang-barangnya lengkap. "Iya, toko ini sangat lengkap."

"Tapi... gak kejauhan, ya?" Olivia melirik, khawatir.

Kouko terdiam. Baru sadar, toko itu jauh sekolah. "Aku tidak terpikir sampai situ."

"Gak apa-apa," Olivia langsung merangkul pundaknya. "Kalau toko deket sekolah gak lengkap, baru kita balik ke sini. Sip?"

Kouko mengangguk. Senyumnya lembut, meski hatinya belum sepenuhnya tenang.

Saat mereka hendak berpaling, Kouko memanggil pelan.

"Oliv..."

"Iya?"

"Yang tadi... jangan bilang-bilang ke Niko, ya?"

Dengan senyum jahil, Olivia mengacungkan jari telunjuknya. "Iya-iya, rahasia! Santai aja!"

Kouko menarik napas lega, tapi tetap saja... dadanya masih sesak oleh keraguan.

Saat mereka berpisah, Kouko menatap langit yang kini mulai berwarna ungu kebiruan. Lampu jalan menyala, menyinari wajahnya yang tak sepenuhnya yakin.

Jika terus seperti ini, tidak menutup kemungkinan salah satu dari mereka akan pergi. Namun... siapa yang akan mulai duluan? Dia atau Niko?

*

*

*

Keesokan harinya.

Niko duduk menyendiri di bangku taman, di tengah riuh rendah persiapan festival sekolah. Suara-suara riang, tawa, dan dentingan alat dekorasi terdengar dari kejauhan—kontras dengan kesunyian yang membungkus dirinya.

Forbidden Book [Rewrite]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang