29. Asmaraloka [Revisi]

42 7 6
                                        



Pukul 9:10

Dari gerbang sampai ke belakang sekolah, semuanya penuh kesibukan. Tak ada celah sedikit pun bagi yang sekadar ingin bermalas-malasan.

Niko akhirnya tiba di gerai mereka, yang berupa tenda semi tertutup—terletak di samping lapangan olahraga, dihimpit oleh gerai ekskul seni dan geografi. 

Lokasinya strategis, dekat dengan panggung musik, area mini game, dan tempat cerdas cermat.

"Good." Ia mengangkat ponsel, memotret gerai dan sekitarnya, lalu mengirimkannya ke grup WA yang dibuat Jovian bersama Olivia.

Balasan datang cepat. Olivia menanggapi lebih dulu, disusul oleh Jovian beberapa detik kemudian. Ketiganya puas—gerai mereka tak akan tenggelam di antara yang lain.

Saat hendak kembali, langkah Niko terhenti. Matanya menyipit, waspada. Seseorang datang tergesa-gesa, menerobos kerumunan murid.

Kouko.

"Ko! Ngapain ke sini?" keluh Niko.

"Jovian sama Olivia belum datang. Jadi... aku bantuin kamu dulu, Darling."

"Ssstt!" Niko buru-buru menutup mulut Kouko, melirik sekitar dengan panik. "Ko! Ntar ada yang dengar gimana?!"

Kouko tersenyum, matanya menyipit nakal. "Darling," ulangnya dengan nada menggoda.

"Ko ih!" Niko kembali menutup mulutnya. Di balik telapak tangannya, ia bisa merasakan bibir Kouko bergerak—tertawa diam-diam."Udah deh... gak lucu tau!"

"Iya-iya, maaf ya, Niko."

Sebelum kembali, Niko mengajak Kouko menengok gerai tempat mereka akan berjualan besok. Kehadiran Kouko sangat membantu.

Dari mata biru lautnya yang tajam, ia bisa langsung menangkap tata letak terbaik untuk perlengkapan mereka.

"Darl— eh, maksudku, Niko." Kouko buru-buru membetulkan ucapannya, sembari melirik pipi Niko yang mulai bersemu merah. "Maaf ya... refleks, hihi."

Ia menunjuk ke beberapa sisi tenda. "Di situ bagus buat tempat masak. Di bawahnya bisa untuk dus mi dan bucket nasi."

"Oke! Aku catet di kepala nih. Biar besok tinggal sat set sat set!"

Kouko mengangguk mantap. "Kita pulang, yuk?"

"Ayo, ntar Jovi sama Oliv keburu nyampe lagi."

Keduanya pun melangkah menjauh dari sana. Walau tak berpegangan tangan dan malah sedikit menjaga jarak, itu adalah cara mereka mempertahankan hubungan ini tetap rahasia.

Ketika sampai di gerbang dan hendak menyeberang, sebuah mobil hitam berhenti di depan mereka. Kacanya turun perlahan, menampakkan wajah seseorang di balik kemudi.

Bu Rita.

"Oi, mau ke mana tuh..." katanya, nada suaranya setengah menggoda.

"Mau pulang," jawab Kouko dengan senyum kecil.

"Udah liat gerainya?"

Kouko hanya mengangguk. Bu Rita lalu menoleh ke Niko. "Well... banyak yang mau Ibu tanya ke kalian, kenapa kok bisa kepikiran buat pacaran."

Wajah Niko mulai memerah, namun ia selamat kali ini. "Ya... tapi nanti aja deh, kalau ada waktu." tambah Bu Rita.

"Bagus!" sahut Niko cepat, memberi gestur mengusir. "Yaudah sana-sana!"

Dari balik mobil, Bu Rita menyeringai nakal. "Hati-hati di jalan." Ia lalu menaikkan kaca jendela dan tancap gas.

Saat mobil itu menghilang dari pandangan, Kouko menoleh ke Niko. "Bu Rita punya mobil, ya?"

Forbidden Book [Rewrite]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang