Pukul 17:30
Matahari nyaris tenggelam di barat, namun kota masih padat oleh wajah-wajah lelah yang berjalan pulang.
Langit jingga menggantung rendah, menyisakan siluet gedung dan suara-suara jalanan yang tak kunjung hening.
Di tengah riuh itu, Niko, Kouko, Jovian, dan Olivia berjalan menyusuri gang kecil menuju sebuah rumah, rumah dimana semua kisah manis mereka dimulai.
"Serius? Cilok buatan ekskul seni gosong?" Olivia mengernyit curiga. "Terus Jov, kok kau bisa tau?"
Jovian nyengir santai. "Aku sempat keluyuran tadi siang."
"Wah, parah sih!" Olivia menoleh ke samping dan mulai menarik-narik kaos olahraga Niko. "Nik! Nih orang kurang aja banget deh! Yang lain kerja, dia malah keluyuran!"
"Ck! Pengadu!" balas Jovian sambil cemberut.
"Udah-udah, kalian nggak capek apa? Berantem mulu dari tadi." sela Niko, letih.
Begitu sampai di rumah itu, Kouko maju dan membukakan pintunya. Seketika lampu menyala, menampakkan ruangan dingin, nyaman, dan rapi. Keempatnya melangkah masuk, tubuh mereka nyaris tumbang karena lelah.
"Aku duluan!" seru Jovian, buru-buru menjatuhkan diri ke sofa. "Gila! Capek banget!"
"Cipik bingit!" cibir Olivia, lalu berjalan ke dapur bersama Kouko, membawa sisa bahan dari festival.
Beberapa menit kemudian, mereka berkumpul kembali di ruang tamu. Di atas meja, Niko meletakkan sejumlah uang dari hasil penjualan hari itu, dengan nominal yang beragam.
"So... itu hasil penjualan hari ini," katanya pelan, lalu membuka buku catatan kecil di tangannya.
"Widih... serius sebanyak ini?" Olivia menatap uang itu tak percaya.
"Hooh," angguk Niko. "Tadi yang udah kejual sekitar... enam puluh lima porsi."
"Edan! Gak nyangka bakal sebanyak ini!" Jovian menyeringai.
"Kita jualnya 15 ribu per porsi. Jadi..." Niko menghitung.
"975 ribu," sahut Kouko cepat.
Olivia melotot. "Ih! Seriusan? Udah balik modal dong!"
Jovian menepuk-nepuk tangannya dengan takjub. "Gila, gila... ayo gajian!"
"Et! Ntar dulu!" Niko menahan mereka. "Besok kita buka lagi, kan?"
Jovian dan Olivia saling berpandangan, lalu mengangguk. "Iya sih..."
"Stok mi sama beras sisa berapa?"
Olivia segera ke dapur, lalu kembali dengan laporan singkat. "Mi tinggal enam bungkus, terus beras satu kilo lebih. Belum dimasak."
"Bumbu?" tanya Niko.
Olivia melihat lagi. "Hmm... sekarat!"
Niko menggaruk belakang kepalanya. Ada dilema—lanjut atau cukup hari ini saja? Tapi mereka sudah janji ke Bu Rita untuk ikut sampai akhir festival.
Kouko, yang sedari tadi diam di ujung sofa, akhirnya bicara.
"Kita belanja bumbu aja. Besok pagi, di pasar." Nadanya tegas, penuh keyakinan.
"Terus? Mi sama berasnya?" tanya Niko, sedikit heran.
"Gak usah," jawab Kouko mantap. "Satu kilo beras cukup buat delapan porsi. Tambah mi, total empat belas."
"Dikit banget," gumam Jovian.
"Logika aja. Kelompok lain yang dananya terbatas, pasti gak mau buka lagi kalau udah dapat untung di hati pertama." jelas Kouko.
KAMU SEDANG MEMBACA
Forbidden Book [Rewrite]
Fiksi RemajaSetelah dapet izin dari author aslinya, Wulan bakal revisi ni cerita jadi lebih menarik lagi, hehe. Jangan lupa pantengin aja terus, ya! Pokoknya bakal Wulan Revisi habis-habisan❤️❤️❤️ Niko Dheiman, remaja introvert yang menemukan kenyamanan di perp...
![Forbidden Book [Rewrite]](https://img.wattpad.com/cover/351357539-64-k311162.jpg)