Pukul 21:00
Di sebuah kamar dengan lampu redup, Niko duduk di tepi ranjang. Di tangannya, buku harian yang ia temukan tadi siang kini terbuka lebar, tiap lembarnya diusap perlahan, seolah takut merusak sesuatu yang rapuh.
Bagian awal buku itu tampak biasa—penuh catatan harian ringan, cerita-cerita sekolah, dan kekaguman terhadap langit.
Tapi makin ke belakang, kalimat-kalimatnya berubah. Tak lagi ceria, tak lagi jujur pada kebahagiaan. Semua tulisan di akhir buku seolah menggambarkan seseorang yang sedang... runtuh.
Namun alasannya? Masih misteri.
Niko memijat keningnya. Ini entah keberapa kali ia melakukan itu hari ini. Rasa lelah tak hanya di tubuhnya, tapi juga menumpuk di benaknya. Jika ramalan yang mereka dapatkan benar, maka besok—27 Juni—seseorang bisa saja...
Mati.
Mungkin itu baru tiga puluh persen dari dugaannya. Tapi isi tulisan-tulisan itu... terasa seperti surat wasiat tanpa penerima.
Kata-kata yang dirangkai begitu indah, padahal isinya seperti teriakan sunyi dari seseorang yang sedang dikikis habis oleh dunia. Seolah sang penulis mencoba bertahan dengan kata-kata, tapi ujung puisinya hanyalah keheningan.
Niko menatap langit-langit kamarnya. Kosong. Diam. Dan selalu ada di sana. "Apa mungkin... dia dirundung?" bisiknya pelan.
Bisa jadi. Tapi bisa juga bukan. Yang jelas, siapa pun penulisnya, ia sedang sangat... putus asa.
Dan entah kenapa, setelah menemukan buku ramalan itu, Niko merasa ia tak bisa diam saja. Seolah-olah takdir memaksanya untuk peduli. Untuk ikut turun tangan, walau seharusnya ia tak perlu.
*
*
*
Keesokan harinya.
Sebelum bel berbunyi di pukul 08:00, Niko, Jovian, dan Olivia sudah berkumpul di koridor lantai dua. Mereka bertiga sepakat—hari ini bukan hari biasa. Ada sesuatu yang harus dicegah.
Respons Jovian dan Olivia selaras. Mereka sama-sama tak ingin ada hal-hal mengerikan terjadi di tempat mereka belajar setiap hari.
Niko membuka secarik kertas yang mereka temukan kemarin. Tangannya sedikit gemetar saat membaca kembali kalimat itu.
"Di sini tertulis, 'Saat matahari ada di atas kepala.' Itu artinya siang hari... mungkin sekitar jam dua belasan,"
"Jam segitu biasanya istirahat kedua," sahut Jovian cepat.
"Yup!" Niko menatap Olivia, mencari kepastian. Wajah gadis itu sedikit pucat, tapi matanya tajam.
"Kita harus cegah ini, 'kan?" tanyanya pelan.
Olivia mengangguk, awalnya ragu, namun perlahan berubah mantap. "Iya,"
Semuanya terasa lebih nyata sekarang. Mereka tahu apa yang harus dilakukan. Mereka akan kembali ke atap sekolah pada siang hari nanti.
Meski harus menyelinap, meski harus melanggar aturan, meski harus berhadapan lagi dengan pengawas yang siap mengusir mereka kapan saja.
Karena kali ini, taruhannya bukan sekadar sanksi sekolah. Tapi mungkin... nyawa seseorang.
***
Pukul 11:55
Ketiganya kini sampai di lantai empat, lantai paling sepi di sekolah. Tapi entah kenapa... tempat itu terasa lebih ramai dari biasanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Forbidden Book [Rewrite]
Teen FictionSetelah dapet izin dari author aslinya, Wulan bakal revisi ni cerita jadi lebih menarik lagi, hehe. Jangan lupa pantengin aja terus, ya! Pokoknya bakal Wulan Revisi habis-habisan❤️❤️❤️ Niko Dheiman, remaja introvert yang menemukan kenyamanan di perp...
![Forbidden Book [Rewrite]](https://img.wattpad.com/cover/351357539-64-k311162.jpg)