37. Speaker Sekolah [Rewrite]

53 7 1
                                        


Alarm berbunyi nyaring, menembus selimut tebal yang membungkus tubuh Niko.

Dengan gerakan malas, tangannya menjulur keluar, meraba-raba ponsel yang tergeletak tak jauh dari tempat tidur.

"Jam tujuh?" gumamnya. Matanya nyaris tak terbuka dengan suara serak.

Ia bangkit. Selimut melorot hingga menyentuh lantai. Dengan langkah gontai dan kesadaran yang belum sepenuhnya kembali, ia berjalan ke kamar mandi dan membasuh wajah.

Beberapa menit kemudian, ia duduk di sofa dan menyalakan televisi. Jemarinya menekan-nekan remote, mengganti saluran secara acak, hingga mematikannya lagi.

Dalam kesunyian itu, ia menatap layar hitam televisi yang sudah mati, seolah-olah ada yang mengganggu perasaannya.

Dengan gelengan pelan, ia meraih ponselnya dan menghubungi dua nama yang langsung terlintas di benaknya.

"Jov? Udah bangun?"

"Apaan? Lagi di WC gue," balas Jovian.

Olivia bergabung beberapa detik kemudian. "Ya Tuhan..." ucapnya jijik. "Jorok banget sih! Eh pasti lu aneh-aneh kan? Ngaku aja deh..."

"Sembarang lu! Boker gue, mau PAP?"

"Gak usah! Gak perlu!" bentak Olivia.

Niko menarik napas panjang. "Udah-udah! Pagi-pagi juga," ia pun menjelaskan kegusarannya. "Perasaanku gak enak nih, mau ke sekolah sekarang, atau nggak?"

"Aku kira cuma aku doang," balas Olivia sepaham.

"Sama," sahut Jovian.

Pada akhirnya, ketiganya memutuskan untuk pergi ke sekolah lebih awal. Mencari tahu apa yang sedang mengganjal di hati mereka.

***

Pukul 7:15

Ketiganya tiba di gerbang sekolah, disambut sirine ambulans, garis polisi, mobil damkar yang terparkir di halaman sekolah, serta beberapa jurnalis yang sibuk meliput berita.

Asap mengepul dari balik gedung sekolah, tepat di lapangan olahraga yang menjadi tempat pelaksanaan festival sekolah. 

Garis kuning polisi membentang, mengelilingi kehancuran di lapangan. Panggung ambruk, beberapa tenda meleleh, bau gosong yang menyengat, dan ada lubang besar di sisi lapangan.

Olivia membeku. Tangannya menutup mulutnya rapat. "Demi apa... aku gak nyangka bakal jadi kayak gini!" bisiknya, nyaris pingsan.

Beberapa murid disana tampak panik dan kaget, tak menyangka acara megah yang mereka ikuti kemarin, kini berubah menjadi... tak bisa dikenali.

Niko terpaku. Tapi tak lama.

"Nik! Koukopedia mana!?" teriak Olivia panik.

Deg.

Niko tersentak, tubuhnya secara spontan berbalik dan berlari. Jovian dan Olivia tak punya waktu untuk bertanya, mereka ikut berlari, di belakang Niko.

Perasaan mereka campur aduk, seperti ada firasat buruk yang hinggap di hati mereka.

Ketiganya berlari tak kenal lelah, sampai mereka tiba di rumah Kouko, rumah yang tampak tenang dengan lampu teras yang masih menyala. 

Niko langsung maju.

Tok. Tok. Tok.

"Ko? Kamu udah bangun?" 

Jovian berdiri di sampingnya. "Kouko? Kamu di dalam?"

Forbidden Book [Rewrite]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang