32. Suara Yang Lama Menghilang! [Revisi]

40 7 3
                                        


"Makasih, Bu," ucap Kouko sambil menyerahkan pesanan Bu Rita.

"Sama-sama," jawab Bu Rita. Sebelum pergi dari gerai, ia membisikkan sesuatu pada gadis pirang itu. "Nanti, kalau udah siap jualannya, jumpai Ibu di kantor, ya?"

Kouko mengangguk, meski wajahnya tampak sedikit ragu.

Setelah Bu Rita pergi, gerai kembali sepi. Hanya beberapa orang tampak lalu lalang sambil membawa camilan dan minuman. Sementara itu, di tengah lapangan, keriuhan masih belum juga mereda.

Di dalam gerai, Jovian, Olivia, dan Niko duduk memeriksa persediaan yang kini mulai menipis.

"Paling cuma cukup buat lima menu lagi," gumam Olivia cemas, sambil menggenggam toples bumbu terakhir.

"Kalau dipakai setengah-setengah, bisa jadi sepuluh tuh," celetuk Jovian dengan senyum lebar.

"Yeee... ntar beda dong rasanya!"

Jovian memajukan bibir. "Cuma saran, jangan dianggep serius."

Tak lama, Kouko masuk ke dalam gerai. Ketiganya langsung menoleh, menyambut kedatangannya dengan senyum hangat, seperti menyambut seorang pahlawan.

"Koukopedia! Gimana nih? Bumbu kita tinggal segini doang!" tanya Olivia, masih cemas.

"Buat lagi," jawab Kouko singkat.

"Hah? Emang masih ada bahannya?"

Kouko melangkah ke dapur kecil di belakang, memeriksa bahan-bahan yang tersisa. "Cabai merah, cabai hijau, bawang merah, bawang putih... lengkap."

Ia menatap Olivia, lalu menunjuk toples di tangannya. "Aku giling bumbu dulu, ya?"

"O-Oke... Tapi pakai apa? Kita nggak bawa chopper loh."

"Tenang saja." Kouko menarik sebuah cobek batu dari plastik hitam yang ia selipkan di bawah meja.

Ketiganya sontak berdiri, menatap takjub saat Kouko mulai mengulek bahan-bahan di atas cobek itu. Kagum. Itulah yang mereka rasakan—melihat gadis itu begitu tenang, cekatan, dan gigih memanfaatkan sisa bahan seadanya.

Pukul 13:30

Festival dipenuhi wajah-wajah baru. Beberapa murid dari sekolah lain turut mampir, termasuk anak-anak SMP.

Momen yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba—kedatangan Ocha dan teman-temannya.

"Halo!" sapa Ocha ceria pada Jovian yang duduk di depan gerai.

"Widih... dateng juga lu, Cil," ejek Jovian.

"Sembarangan!" Ocha manyun kesal.

Mendengar suara adiknya, Niko keluar dari dalam gerai. "Lama banget."

"Jelas! Adikmu yang imut ini kudu ngumpulin massa dulu!" jawab Ocha, bangga sambil menunjuk rombongan yang ia bawa. "Aku bawa sekelas, btw."

Niko menggaruk tengkuk, sedikit panik melihat banyaknya anak-anak yang datang. Tapi sebelum ia sempat khawatir soal stok bahan, Ocha buru-buru menenangkan:

"Tapi kak... mereka pada mau beli jajan, yang bener-bener mau beli cuma beberapa doang."

Niko menghela napas lega. "Oke, jadi siapa aja yang mau pesan?"

Ocha menunjuk dirinya sendiri dan beberapa temannya. Total delapan orang.

"Nasi goreng tiga, mi goreng lima!"

"Oke," Niko mengangguk, mencatat pesanan. "Tunggu di luar, ya?"

"Siap! Kalau udah jadi, telepon aku ya!"

Forbidden Book [Rewrite]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang