20. Kencan Dadakan? [Revisi]

43 7 4
                                        



Di kafe

Alunan musik jazz dan aroma kopi memenuhi setiap sudut ruangan. Niko, Jovian, dan Olivia duduk di dekat jendela—tempat favorit mereka.

Olivia membuka percakapan dengan nada jahil.

"Eh, mau tahu nggak kenapa Koukopedia punya buku itu?"

Niko mendesah. "Langsung aja, Liv. Ntar Ocha nyariin."

"Hehe..." Olivia mencondongkan tubuh sedikit, lalu berbisik. "Dia lagi belajar soal cinta."

"Ha?"

Niko langsung mengernyit. Reaksi bingungnya membuat Jovian tersenyum geli.

"Gak percaya, ya?" kata Jovian sambil menepuk punggung Niko. "Aku awalnya juga gitu."

"Ma-Maksudnya?"

Jovian mengangguk. "Tadi siang dia dateng ke kelas kami, sambil bawa tu buku. Ya... emang susah dipercaya sih, tapi kalau ngeliat niatnya, dia emang serius belajar soal cinta,"

Olivia ikut menimpali. "Kalau dia sampe segitunya, berarti dia lagi suka sama seseorang, kan?"

Niko diam. Matanya bergantian memandang dua temannya, tapi tak satu pun kata keluar.

Untungnya, pesanan mereka datang. Cukup untuk mengalihkan suasana—sebentar saja.

Lalu tiba-tiba...

"Kau suka Kouko, kan?" Jovian nyeletuk, nyantai.

Niko nyaris nyembur minuman.

"Jov! Jangan ngawur!"

"Hehe... sori. Gak tahan soalnya," kata Jovian, nyengir puas.

Niko terdiam. Sempat bingung, sempat ingin ngeles. Tapi akhirnya...

"Ya... kayaknya aku emang suka sama Kouko."

Jovian sumeringah. "Nah! Bener dugaanku!"

"Hihihi... akhirnya ngaku juga," kata Olivia sambil menutup mulut, menahan tawa.

Wajah Niko memerah. Tapi yang membuatnya kaget... bukan reaksi mereka. Tapi dukungan itu. Dukungan yang terasa tulus.

Jovian menyesap minuman. "Ah... aku dukung, kok!" katanya, sambil menepuk pundak Niko dengan hangat.

Olivia ikut tersenyum. "Tenang aja... kamu cocok kok sama dia, aku jamin! Fix!"

Niko sempat membalas senyum, walau samar. Hatinya hangat. Tapi tetap ada satu hal yang belum ia tahu: apa Kouko juga punya perasaan yang sama dengannya?

Apalagi... Kouko bukan tipe gadis yang terbuka soal perasaannya, dia lebih misterius dan cenderung seperti puzzle, penuh teka-teki yang rumit. Namun hanya Niko yang mampu memecahkannya.

***

Pukul 17:30

Niko sampai di rumah dan disambut oleh sosok yang selalu menantinya di balik pintu: Ocha.

Adik perempuannya yang enerjik, selalu punya cara membuat rumah terasa hidup. Namun kali ini—bukan dengan senyum hangat, melainkan dengan omelan khasnya.

"Lama banget! Nyangkut di mana sih?" cibirnya, sambil bersedekap.

Niko mengerang pelan, menahan kesal. "Sembarangan. Nih, belanjaannya." Ia menyodorkan kantong plastik dari swalayan.

Ocha segera mengambilnya dan mulai memeriksa isi kantong dengan ekspresi dramatis, seperti detektif yang mencari petunjuk.

"Uhm..."

Forbidden Book [Rewrite]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang