Kota mulai senyap bersama turunnya malam. Toko-toko menutup diri satu per satu, dan para pejalan kaki mempercepat langkah, seolah tahu gelap menyimpan sesuatu yang sebaiknya tak ditemui terlalu lama.
Di sebuah rumah di dalam gang kecil, cahaya temaram masih menyala dari ruang tamu—mungkin satu-satunya cahaya yang tersisa di lingkungan itu.
Niko, Jovian, Kouko, dan Olivia duduk bersisian di sofa, menyaksikan film dengan lampu yang diredupkan.
"Eh, kalau gak salah... tuh orang bakal mati, deh," celetuk Jovian sembari menunjuk layar.
"Jov ih!" tegur Olivia cepat.
Jovian hanya nyengir, kembali fokus sebentar sebelum mengucapkan, "Ntar tuh cewek makan kodok, lho—"
"JOV!" bentak Olivia, membuat Niko dan Kouko tergelak tertahan.
Film berakhir seiring malam yang makin larut. Udara mulai menurun suhunya, membawa dingin dan embun yang merambat diam-diam. Mereka pun berpisah ke tempat tidur.
Niko dan Jovian tetap di ruang tamu, berselimut tebal yang sudah disiapkan Kouko. Sementara Olivia tidur di kamar atas bersama Kouko, yang lebih hangat dan tenang.
Pukul 01.20
Niko terbangun. Lampu sudah mati sepenuhnya. Rumah itu kini dibungkus kegelapan dan keheningan, hanya disela suara dengkuran lembut Jovian dari arah karpet.
Ia duduk perlahan, mengambil gelas dari meja dan berjalan ke dapur. Setelah meneguk air, ia kembali ke sofa. Tapi matanya tak kunjung terpejam.
Beberapa menit terlewat dalam diam...
Cklek
Sebuah suara dari arah kamar membuatnya menoleh. Pintu terbuka.
Olivia? pikirnya. Tapi tidak. Sosok yang muncul adalah Kouko.
Rambut pirangnya berantakan, menutupi sebagian wajah. Dengan tenang, ia menuju dapur, memanaskan air, membuat teh, lalu membuka pintu belakang.
Niko hampir tak bereaksi, tapi rasa penasarannya lebih kuat dari kantuk. Ia pun bangkit perlahan, berjalan mengendap ke arah pintu belakang, berhati-hati agar tidak mengejutkan gadis itu.
Ketika pintu terbuka perlahan, Kouko sedang duduk di bangku kecil, menulis sesuatu di atas meja kayu halaman belakang.
"Hmm... Honey?"
Gadis itu menoleh cepat, lalu menutup bukunya dan menyibakkan rambutnya ke belakang.
"Kamu ngapain di sini?"
"Nggak apa-apa kok. Cuma nulis resep," jawabnya ringan.
"Resep? Malam-malam gini?" tanya Niko, setengah percaya.
"Iya," sahut Kouko sambil tersenyum kecil, misterius.
Hening.
Harum teh chamomile yang mengepul dari cangkir menciptakan ruang tenang di antara mereka, seakan membawa kembali kenangan yang sudah lama tertidur.
Niko duduk di sampingnya.
"Kouko..." panggilnya pelan.
Gadis itu diam, matanya seolah-olah menghindar.
"Honey," ralat Niko dengan canggung, membuat Kouko langsung menoleh dengan senyum lebar.
"Ada apa, Darling?" sahutnya lembut.
Niko diam sejenak. Lalu akhirnya bicara, suaranya sedikit menegang. "Aku cuma... mau tanya. Kamu nyaman gak sih... sama hubungan kita?"
Kouko terdiam sebentar, menatap wajahnya. "Darling, kenapa kamu nanya gitu?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Forbidden Book [Rewrite]
Fiksi RemajaSetelah dapet izin dari author aslinya, Wulan bakal revisi ni cerita jadi lebih menarik lagi, hehe. Jangan lupa pantengin aja terus, ya! Pokoknya bakal Wulan Revisi habis-habisan❤️❤️❤️ Niko Dheiman, remaja introvert yang menemukan kenyamanan di perp...
![Forbidden Book [Rewrite]](https://img.wattpad.com/cover/351357539-64-k311162.jpg)