Angin siang bertiup lembut, membawa serta beberapa helai daun yang jatuh berguguran di taman kecil sekolah.
Niko dan Kouko duduk berdampingan di bangku kayu, menikmati suasana sambil membahas isu yang tengah panas.
"Gila sih... baru aja 271T, sekarang satu kuadriliun?" Niko menggeleng tak percaya. "Udah gila ya? Pejabat zaman sekarang."
Kouko, yang masih asyik mendengarkan, merespons santai, "Mau gimana pun, korupsi itu kerjaan profesional."
"Sepakat!"
Sejenak, mereka terdiam. Hanya angin siang yang berbicara, menyapu wajah mereka dengan sejuknya.
Tatapan Niko kemudian beralih ke sudut sekolah, tepat ke arah perpustakaan tua yang berdiri kokoh di sana. Tempat itu... sudah menyimpan banyak cerita baginya. Dari anak baru yang canggung, sampai kini, seorang senior yang mulai paham apa arti tanggung jawab yang besar.
Namun, lamunan itu tak bertahan lama.
"Hoi!"
Suara nyaring membuatnya tersentak. Ia menoleh dan menemukan sosok yang sering muncul di saat yang tidak diharapkan.
Bu Rita.
Wanita lajang itu menyeringai jahil. "Ngapel, ya?"
Niko langsung mendelik. "Ck! Apa sih!"
Bukannya berhenti, Bu Rita malah semakin semangat. "Halah... kalau iya, ibu dukung deh." Lalu, ia menatap Kouko yang masih tenang seperti biasa. "Nak, kamu mau jadi pacarnya Niko?"
Mati aku!
Niko buru-buru berdiri, merasa ini terlalu berlebihan. "Udah, ah! Mau pergi!"
Tanpa menunggu lebih lama, ia melangkah pergi dengan wajah panas, sementara Bu Rita terkekeh puas. Kouko? Dia hanya menatap kepergiannya dengan ekspresi datarnya yang khas.
***
Pukul 14:00.
Jovian melangkah terburu-buru ke dalam perpustakaan, melewati beberapa murid yang tenggelam dalam buku-bukunya.
"Niko!" panggilnya setengah panik.
Niko menoleh cepat, alisnya berkerut. "Apaan sih?! Jangan teriak-teriak ngapa!"
Jovian mengabaikan teguran itu, langsung menyodorkan bukunya. "Ramalannya muncul! Lihat nih."
27 Juni, Putus asa.
Kening Niko mengerut, tatapannya berpindah dari halaman buku ke wajah Jovian. "Putus asa? Maksudnya?" gumamnya, hampir tak terdengar.
Jovian mengangkat bahu. "Aku kira kau yang tahu."
"Ya nggak lah!" Niko menepis cepat, suaranya naik setengah oktaf.
Ia menatap tulisan itu lebih lama. "Besok, ya..."
Hening. Tak ada yang bicara. Seolah kata itu—putus asa—mengendap pelan-pelan di antara mereka, menunggu untuk dipahami.
Tak lama, Olivia muncul di ambang pintu.
"Nah! Itu dia!" serunya, lalu cepat-cepat bergabung dengan mereka. "Hei! Ada ramalan, ya?"
Niko hanya menatap sekilas, lalu mengangguk. "Ya... jujurly, ini pasti ngarah ke seseorang 'kan? Orang yang putus asa?" tanyanya sambil menunjuk tulisan itu.
Keduanya cuma diam, membuat Niko kesal. "Lupakan!" semburnya.
Mereka bertiga menarik napas dalam-dalam. Sekali. Dua kali.
KAMU SEDANG MEMBACA
Forbidden Book [Rewrite]
Novela JuvenilSetelah dapet izin dari author aslinya, Wulan bakal revisi ni cerita jadi lebih menarik lagi, hehe. Jangan lupa pantengin aja terus, ya! Pokoknya bakal Wulan Revisi habis-habisan❤️❤️❤️ Niko Dheiman, remaja introvert yang menemukan kenyamanan di perp...
![Forbidden Book [Rewrite]](https://img.wattpad.com/cover/351357539-64-k311162.jpg)