AUI-Chapter Dua Lima

981 22 24
                                        

Udah lama gak up, karena sekolah lagi libur jadi aku sempetin up deh!!

Terima kasih yang sudah menunggu, dan untuk yang sudah vote. Vote dari Kelian bener-bener bikin aku seneng, hehe.

Happy Reading, all!!

𖩩𖩩𖩩𖩩𖩩𖩩𖩩𖩩𖩩𖩩𖩩𖩩𖩩𖩩𖩩𖩩𖩩𖩩𖩩𖩩

Iaesha dan Bi Isna kembali fokus dalam memasak. Namun, tiba-tiba sebuah pikiran muncul. Ia merasa aneh dengan dirinya ketika bersama Arfathan..

apakah dirinya, sudah mencintai Arfathan?

Iaesha menggelengkan kepalanya ketika pikiran itu muncul, tidak mungkin. Toh, mana mungkin ia begitu cepat mencintai Arfathan?

"Tuan muda juga seperti tulus banget sama kamu, Sha. Dia benar-benar cinta kamu, terlihat dari saat tuan menatap kamu," ujar bi Isna lagi.

Iaesha mengerut dahinya,"Maksudnya, bi?" tanya Iaesha.

"Ibu saya pernah ngomong, jika mata itu adalah jendela jiwa. Mata tidak bisa menutupi sesuatu, dan mata juga bisa untuk mengungkapkan sesuatu," jelas Bi Isna.

Iaesha mengangguk sepakat dengan ucapan Bi Isna, memang seperti itu kan? terkadang banyak sekali emosi didalam diri, dan mulut tidak bisa berkata, satu-satu cara adalah mengungkapkan dengan mata entah itu dengan tatapan atau air mata.

"Saya tau menjalankan pernikahan itu tidak mudah. Namun, saya hanya bisa bantu doa yang terbaik saja," Ujar Bi Isna.

Iaesha tersenyum sehingga matanya menyipit,"Terima kasih, Bi."

Bi Isna mengangguk. Hingga beberapa menit masakan telah matang. Lalu menyajikannya kedalam piring.

Iaesha membawa piring yang berisi makanan ke meja makan tidak jauh dari dapur. Kakinya kembali melangkah menuju ruang keluarga, dimana Arfathan menunggu dirinya.

Disana, terlihat Arfathan sedang fokus dengan laptopnya dan jari yang bergerak di keyboard laptopnya. Iaesha mendekat lalu berdiri dibelakang Arfathan yang sedang duduk.

Ide jail terlintas dipikirannya, Iaesha menghitung dalam hati dengan ancang-ancang untuk mengagetkan Arfathan. Ketika ingin teriak suara Arfathan tiba-tiba terdengar membuat Iaesha mengurungkan niatnya.

"Kamu ngapain?" tanya Arfathan membuat Iaesha berdehem canggung.

"Gak ngapa-ngapain," elak Iaesha.

Arfathan terkekeh kecil, lalu menutup laptopnya.

"Kemari, duduk disebelah saya," titah Arfathan kepada Iaesha yang masih berdiri dibelakangnya.

Iaesha mengangguk menurut, lalu duduk tepat disebelah Arfathan. Keduanya hanya diam, dan Arfathan kembali fokus dengan laptopnya.

Iaesha berdecak sebal melihat Arfathan yang kembali fokus dengan laptopnya.

"Gue kaya diselingkuhin," gumam Iaesha.

"Siapa yang selingkuh, Echa?" tanya Arfathan yang sempat mendengar gumaman Iaesha. tetapi tidak terlalu jelas.

"Kamu lah," jawab Iaesha tanpa sadar karena saking kesalnya. Dahi Arfathan mengerut.

"Kok saya?"

"Iya, aku didiemin. Kamu fokus sama laptop kamu, kayanya laptop emang pacar kamu," jelas Iaesha dengan nada sebal.

lagi, Arfathan berkekeh dengan tatapan matanya menjadi fokus kearah Iaesha, pandangan mereka bertemu,"Kamu cemburu dengan laptop?"

Arfathan tersenyum,"Dengar, tidak usah cemburu dengan laptop karena laptop hanya untuk kebutuhan saya bekerja dan kamu sudah berada di hati saya. Hati saya sudah penuh terisi dengan kamu."

A UNTUK I Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang