[Sedang diRemake. Check Bio.]
Seorang pria lajang menemukan dirinya terbunuh oleh junior nya di dalam rumah nya sendiri seusai bekerja.
"J-jangan salahkan aku, ya kak~? Ini semua salah kakak~ Ya~ salah kakak~!"
Namun, ketika dia berpikir dia sudah...
"... Jadi, karena itu... Sungguh, terima kasih banyak karena telah membunuh cacing raksasa itu!" Peri kecil itu menundukkan kepalanya ketika berterimakasih kepada ku.
Sebelumnya, gadis peri itu telah menceritakan kepada ku bahwa sepertinya makhluk yang kubunuh sebelumnya telah menguasai lantai 4 sebagai sang terkuat sejak lama.
Gadis peri itu bilang bahwa dirinya hanya bisa menyembunyikan dirinya di lantai selanjutnya meskipun dia berasal dari lantai 4 sebelum aku mengalahkan makhluk itu.
Eh, tunggu...
"Kau bilang lantai selanjutnya?"
"Ah, hmn." Gadis peri itu menganggukkan kepalanya atas pertanyaan ku. Memiringkan kepalanya dengan bingung.
Serius? Gadis ini tahu jalan menuju lantai selanjutnya?! Sungguh beruntung nya aku!
Sejauh yang aku lihat, sepertinya tidak ada monster lain lagi di lantai ini selain para Salamander. Jadi, daripada terus membunuh mereka secara terus-menerus, kurasa menjelajah ke lantai selanjutnya akan lebih efisien.
"K-kalau begitu, apakah kamu bisa membawa ku ke lantai berikutnya?"
"Hm?" Gadis peri itu memiringkan kepalanya sambil tersenyum, "Tentu bisa!" Ucap gadis peri itu. Mengacungkan jempol kearah ku.
"Sungguh?!"
"Ya! Jika hanya itu, aku sama sekali tidak keberatan!"
Dengan gadis peri itu yang mulai terbang ke suatu tempat seraya mengatakan "Kesini! Kesini!" Dengan cerianya, aku pun berjalan(terbalik) mengikuti di belakang gadis peri itu.
"Ngomong-ngomong, nama ku Flarrea! Siapa namamu, manusia?" Dalam perjalanan, gadis peri itu menanyakan itu kepadaku sementara dia memperkenalkan dirinya sendiri.
Karena aku tidak memiliki satupun alasan untuk menyembunyikan namaku darinya, aku pun juga segera memperkenalkan namaku pada Flarrea.
"Namaku Anyla. Salam kenal, Flarrea." Aku secara alami tersenyum ketika aku mengatakan itu karena betapa lucunya Flarrea terlihat ketika dia melayang kesana-kemari sembari terus menyebarkan butiran-butiran cahaya yang terlihat seolah memyembul keluar dari bawah roknya yang imut.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Anyla!"
Flarrea berseri-seri ketika dia mengulangi namaku sebanyak beberapa kali setelah itu seolah dia sedang berusaha untuk mematri nama itu di dalam kepalanya agar tidak pernah terlupakan.
Ah~ Apapun yang dia lakukan, dia sangat lucu~...
"-!!" Merasakan cairan mulai mengalir keluar dari dalam organ pernapasan utama ku, aku langsung menutupi wajahku dengan kedua tanganku.
"...?" Dengan sebuah senyuman manis di wajah kecilnya, Flarrea memiringkan kepalanya dengan bingung seolah bertanya-tanya dengan alasan kenapa aku saat ini sedang menutupi wajahku.