[Sedang diRemake. Check Bio.]
Seorang pria lajang menemukan dirinya terbunuh oleh junior nya di dalam rumah nya sendiri seusai bekerja.
"J-jangan salahkan aku, ya kak~? Ini semua salah kakak~ Ya~ salah kakak~!"
Namun, ketika dia berpikir dia sudah...
Aku kehilangan kata-kata ku dihadapan pemandangan damai itu.
Angin pantai yang sejuk menyentuh kulitku. Meniup dengan lembut helaian demi helaian rambutku kebelakang.
Dihadapan pemandangan yang bahkan lebih seperti bukan Dungeon daripada lantai pertama yang saat ini ada didepan mataku, aku hanya dapat mengagumi nya dari tempat ku berdiri selama beberapa saat.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
<Aze: "Aku bisa gambar lebih detail lagi... Tapi gk punya waktu dan akan sangat melelahkan... Jadi kurasa segini cukup, yak.">
"Anyla~ kesini, kesini~!"
Menyebarkan butiran cahaya disana-sini, Flarrea melambaikan kedua tangannya kearahku dengan senyuman di wajahnya yang kecil seperti biasa. Seolah sedang mencoba mengundangku juga kedalam tempat tanpa konflik ini.
"... Ah, ya." Menggeleng-gelengkan kepalaku untuk mendorong kemampuan beradaptasi dalam diriku pada betapa tidak masuk akalnya Dungeon, aku pun melangkahkan kakiku ke pasir putih dari pantai yang ada di hadapanku.
Hangat. Telapak kakiku(manusia) dapat merasakannya. Sensasi menginjak pasir yang hangat dan lembut penuh kerikil mikro.
Merasa kagum didalam hati karena dapat melihat pantai lagi setelah sekian lama, hatiku sedikit bergetar dengan rasa nostalgia ketika aku menghampiri Flarrea yang menunggu di tepi pantai.
"Selamat datang di lantai 5! Tempat paling aman di Dungeon ini!"
Flarrea mengatakan itu secara bersamaan dengan saat kawanan burung Camar dan Pelikan yang terbang rendah melewati kami berdua dengan ikan hasil tangkapan mereka sebelum menghilang di puncak tepi bukit bebatuan yang ternyata ada di belakang tempatku berdiri saat ini.
Eh, apa yang harus aku lakukan sekarang?
Sementara Flarrea mulai bermain-main ke sekitar dengan mengumpulkan beberapa cangkang kerang yang mati dan batuan-batuan kristal yang indah, aku kehilangan mumentum dari apa yang ingin aku lakukan setelah dihadapan dengan lantai yang sangat tidak terduga ini.
Selain pantai, laut, tebing-tebing terjal batuan, dan hutan, aku hanya dapat menemukan bahwa satu-satunya hal yang aneh di dalam lantai ini adalah sebuah menara batu yang menjulang tinggi hingga menembus langit dan beberapa dataran subur yang tersebar di atas lautan dalam bentuk yang sedikit tidak realistis dan terlihat seolah hampir melayang.
"Flarrea... Apa kau mengetahui bagaimana cara untuk menuju ke lantai 6?" Karena merasa bahwa mungkin lantai ini tidak akan berguna bagiku yang berniat untuk menjadi lebih kuat, aku pun menanyakan itu kepada Flarrea yang sepertinya memiliki cukup banyak pengetahuan tentang Dungeon ini.
Namun, "Hm? Aku tidak tau." Flarrea segera memadamkan bahkan harapan terakhir ku itu.
"... Serius?"
"Hmn!"
****
"Haa~... Apakah aku harus kembali ke lantai 4?" Dihadapan api unggun yang membara dan memberikan aku dan Flarrea kehangatan serta sumber cahaya untuk menangkal gelapnya malam, aku menggumamkan itu tanpa sadar sementara Flarrea sedang tertidur di pangkuanku. Tubuh kecilnya masih tetap mengeluarkan cahaya samar ketika dada kecilnya bergerak naik turun secara teratur untuk memasok oksigen ke dalam tubuhnya.