"Apakah Mama akan memakan nya?" Tanya Lena, melihat aku sedang menatap sosok Naira yang sedang tertidur - pingsan, tepatnya.
"T-tidak mungkin Mama akan m-melakukan hal itu, bukan? M-mama sudah berjanji ta-tadi..."
Aku berusaha untuk menyangkalnya, namun Lena malah memberiku tatapan dingin, "Tapi wajah Mama mengatakan hal yang sebaliknya."
"E-eh?!"
Aku segera memeriksa wajahku, tapi aku tidak menemukan liur atau apapun disana seperti yang dikatakan oleh Lena.
"Aku hanya bercanda, Mama."
"Eh... ah?"
Jika Lena memiliki wajah manusia, kuyakin saat ini dia sedang tersenyum pada ku. Dia sepertinya senang karena aku mendengarkan perkataannya.
"Aku sayang Mama."
Ugh!!
ANAKKU TERLALU MANIS!!
-Day 13.
"Oi, apa-apaan semua ini?"
Lena dan aku saling memandang mendengar pertanyaan dari Naira.
""... Bak mandi?""
"SIALAN!!"
Jdarr!!
""... Oh?""
Naira menghentakan kaki nya dengan keras, melobangi tanah sambil membuat ekspresi marah, "Aku juga tau hal itu, bajingan! Yang aku ingin ketahui adalah... KENAPA AKU ADALAH ORANG YANG HARUS MENGISI BAK MANDI SEBESAR INI SENDIRIAN, HAAAAHHH?!??"
"Itu karena Mama tidak bisa menggunakan sihir air."
"Aku juga."
Aku dan Lena sekali lagi mengatakan itu secara serempak.
"WUUAAAGGHHH!!!" Naira berteriak, meludahkan semua kekesalannya.
Semua ini bermula dari pagi hari ini, pada saat Naira akhirnya terbangun.
Dia awalnya terlihat kebingungan, namun segera senyuman muncul diwajahnya, mungkin karena dia selamat dan tidak terbunuh oleh ku.
"Hah! Dasar payah! Ada apa? Bukankah kau bilang kau akan memakanku?! Dimana?! Dimana kau akan mengigitku?! Apakah disini, Pupu?!" Sambil melakukan tarian aneh, Naira meneriakan itu lalu membuka celana nya dan memamerkan miliknya pada kami yang pada saat itu juga baru saja terbangun dari tidur kami, "BWAHAHAHA!!!"
Karena kesal, aku benar-benar menggigit burung pipit kecil miliknya itu. Sampai terputus.
"Aagghh!!"
"Tenang saja, lagipula itu tak lama lagi akan segera beregenerasi kembali, bukan?"
"BE-BEDEBAH!! I-ibu macam apa kau ini, sialan?! Dasar monster!"
"Terima kasih atas pujiannya."
"Kuhh!!!"
Lagipula aku memanglah seekor monster, sih.
Sambil memegangi selangkangan nya yang kehilangan sesuatu untuk sementara, Naira pun menangis terisak di lantai sementara aku mengelus-elus kepalanya dengan lembut.
Dia menatapku dengan tajam, namun aku mengabaikan nya.
"Sudah, sudah, itu akan segera tumbuh kembali, jadi jangan menangis, ya~"
"Uwaah~!! Tolong! Seseorang tolong selamatkan aku! Aku ingin berhenti menjadi anak dari bajingan gila ini~!!"
Itu juga pasti hanya imajinasi ku bahwa setelah itu kepala Naira berdarah hanya karena usapan lembut dari ku. Ya, benar-benar hanya imajinasi ku!
KAMU SEDANG MEMBACA
[Remaked On Another Book]
Fantasy[Sedang diRemake. Check Bio.] Seorang pria lajang menemukan dirinya terbunuh oleh junior nya di dalam rumah nya sendiri seusai bekerja. "J-jangan salahkan aku, ya kak~? Ini semua salah kakak~ Ya~ salah kakak~!" Namun, ketika dia berpikir dia sudah...
![[Remaked On Another Book]](https://img.wattpad.com/cover/346562180-64-k45968.jpg)