[Sedang diRemake. Check Bio.]
Seorang pria lajang menemukan dirinya terbunuh oleh junior nya di dalam rumah nya sendiri seusai bekerja.
"J-jangan salahkan aku, ya kak~? Ini semua salah kakak~ Ya~ salah kakak~!"
Namun, ketika dia berpikir dia sudah...
"Buku harian... Beck?" Aku membuka laci meja tua dan menemukan sebuah buku tua yang menggunakan kulit binatang sebagai covernya.
Aku sudah berhasil naik ke puncak menara batu itu. Perjalanan nya cukup sulit dan lama. Bahkan malam tak terasa telah tiba sementara aku sedang memanjat pijakan demi pijakan batu.
Aku tidak tahu pasti sampai setinggi apa menara ini tumbuh. Namun, satu hal yang pasti adalah bahwa aku tidak dapat melihat permukaan lagi dari ketinggian ini. Hanya awan-awan putih dan langit malam yang menghiasi penglihatan ku selama aku sedang memanjat.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ketika aku berhasil memanjat sampai puncak nya, sebuah jalan setapak yang mengarah ke sebuah pondok kayu pun menyambutku. Bahkan sebuah sungai yang sepertinya akan terus mengalirkan air nya pun terlihat membuat gerimis air hujan ke bawah.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Pulau itu tidak terlalu besar, tetapi aku melihat beberapa pohon yang tumbuh di sekitar. Jujur, tempat itu memang cocok untuk tinggal jika kau menanyakan itu kepadaku. Kecuali soal makanan, tentunya.
Dengan deritan pintu kayu, aku membuka pintu pondok kayu itu.
"Apakah karena ini Flarrea terlihat sedih sebelumnya...?"
Aku berjonggok. Menyentuh sebuah kerangka dengan kaus usang yang terlihat seperti sedang tertidur di atas kursi sebelum akhirnya jatuh ke lantai.
Aku berdiri. Berjalan ke dinding pondok dan mengetuk nya sebanyak beberapa kali karena itu telah membuatku penasaran sejak tadi.
"Sudah kuduga, kayu nya entah mengapa tetap kokoh. Bahkan pelapukan minimal pun tidak terlihat sama sekali." Aku terkagum setelah mendengar dan merasakan kekerasan dan kekokohan dari kayu-kayu yang menjadi dinding pondok ini.
Dari cara Flarrea mengatakan nya, seharusnya pria ini telah tinggal dan akhirnya mati sejak lama. Aku tidak tahu seberapa lama, tapi kurasa itu pasti sangat lama. Mengingat ini adalah dunia dimana sihir ada, mungkin pria ini menggunakan suatu metode khusus untuk memperpanjang dan menambah ketahanan dari kayu-kayu ini.
Sembari terus memikirkan hal-hal semacam itu didalam pikiranku, kakiku membawa ku ke sebuah pintu yang sepertinya mengarah ke ruangan lain.
Dengan suara deritan yang lain, aku membuka pintu itu.