Jungkook tertidur sampai sore. Tenggorokannya terasa sakit karena tidak merasakan air sedari pagi.
Lengannya juga sakit, begitu juga kepalanya.
Air mata jatuh membasahi pipinya, membuat hidungnya yang mungil memerah.
"Eh? Kau sudah bangun? Apa kau lapar? Ada bubur di dapur, aku akan meminta pelayan untuk membawakannya ke sini."
Melihat air mata Jungkook menetes, Tarra menjadi panik. "Jangan menangis! Apa ada yang sakit? Bersabarlah sebentar..."
Dia belum pernah melihat seseorang menangis seperti ini sebelumnya.
Jungkook tidak mengeluarkan suara, tapi air matanya terus mengalir seperti manik-manik yang pecah.
Tarra merasa ingin menangis juga. Bukan karena melihat air mata Jungkook, tapi karena takut dengan pamannya.
Buk!
Tarra melebarkan matanya dan menatap pemuda itu. "Kauー"
Jungkook memukul tempat tidur dengan air mata yang semakin deras mengalir di pipinya. "Di mana Jimin?"
"Hah? A-Apa?"
Dia terlihat sangat galak, berbanding terbalik dengan suaranya yang lembut dan lemah.
Jungkook mengertakkan giginya. "Di mana Jimin, sialan?!"
"Dia..." Tarra menunjuk ke arah pintu dengan bingung. "Dia seharusnya ada di luar..."
Jungkook melempar selimutnya dan bangkit dari tempat tidur. Tarra yang takut dengan apa yang akan terjadi, dia bergegas mendekat dan memeluk pinggang pemuda itu dengan erat.
"Jungkook... Tidak! Bibir kecil! Kau mau pergi kemana? Kau masih sakit. Kata Dokter Liu, kau tidak boleh terkena angin, jadi sebaiknya istirahat dulu! Entah itu cinta atau benci, kau bisa mengurusnya setelah kau sembuh nanti!"
"Cinta?"
Jungkook mengerutkan keningnya. "Tidak ada cinta! Hanya benci!"
Sangat benci hingga dia ingin sekali membunuh Jimin.
Tarra bisa merasakan niat membunuh yang membara keluar dari tubuh Jungkook. Dia semakin takut dan tanpa sadar melepaskan pelukannya.
Begitu dia melepaskannya, Jungkook segera keluar dari pintu.
Cklek!
Pintu terbuka.
Tarra berpikir setelahnya akan terjadi adegan yang menakutkan, sampai dia melihat Jungkook terdiam.
Dia buru-buru berlarian dan mencoba menarik pemuda itu masuk kembali.
Detik berikutnya, sebuah tangan besar melingkari pinggang Jungkook dan menggendongnya ke dalam kamar
Tarra yang kini terdiam ketika melihat kehadiran pamannya.
Di luar jendela, sinar matahari memenuhi seluruh ruangan. Namun, meski dengan cahaya hangat menyinari tubuhnya, seseorang tidak dapat merasakan kehangatan sama sekali. Sebaliknya, seluruh tubuhnya dipenuhi aura dingin, keras, dan mematikan.
Taehyung berjalan melewati Tarra dan segera membaringkan Jungkook di tempat tidur.
Tatapan tajam pria itu membuat Tarra bahkan ragu untuk bernapas.
"Astaga..."
Jungkook mendongak. Wajahnya begitu polos hingga membuat hati seseorang luluh.
"Kenapa hyungie pulang?"
Kelopak mata tipis Taehyung terkulai, dan jari-jarinya dengan lembut menyentuh pipi pemuda itu. "Pekerjaan saya sudah selesai, jadi saya kembali."
Jungkook menarik ujung kemejanya ketika dia menyadari bahwa Taehyung mungkin tahu apa yang telah terjadi.

KAMU SEDANG MEMBACA
CRYBABY #4: End Of Story
Teen Fiction𝗦𝘁𝗮𝘁𝘂𝘀 » On-Going Pairing: Taekook; [toptae x bottkook] Summary: Kisahnya bukanlah drama romantis saat pertemuan di resort pegunungan menjadi cerita yang menyenangkan, happy ending! » top;Tae bot;Kook » perjodohan » angst? maybe. Start; 22 M...