Chika terus menangis di pelukan satria ia masih trauma dengan kejadian kemarin, ditambah lagi ia mendengar jelas suara peluru yang keluar dari pistol satria.
Satria mengelus punggung chika yang bergetar ketakutan, ia sungguh marah dengan maling yang membuat istrinya trauma seperti ini. "Jangan nangis lagi, makin jelek nanti" goda satria mengusap air mata chika yang terus mengalir.
Chika memukul pelan lengan satria. "Aku masih takut kak, hiks. Berani banget itu penjahat mau maling di rumah penjahat yang lebih jahat darinya. Hiks" isak chika.
Satria terkekeh kecil mendengar ucapan chika yang kelewat polos. "Tenang saja abis ini tidak ada yang berani masuk rumah ini, bahkan melihatnya saja tidak berani." kata satria kembali memeluk chika.
"Aku mau nginep di rumah aku bol---"
"Enggak! Gue enggak ngizinin lo nginep maupun main ke rumah lo" potong satria cepat dengan tatapan tajamnya.
Chika menunduk sedih. "Aku rindu sama kedua orang tua aku, kak. Masa nginep satu mal---"
"GUE BILANG ENGGAK YA ENGGAK! LO NGERTI BAHASA MANUSIA ENGGAK SIH SIALAN!" Bentak satria mencengkeram pipi chika.
Chika mengangguk takut ia berusaha melepaskan cengkraman satria. "I-iya m-maaf" cicit chika takut.
Satria melepaskan cengkeramannya masih dengan tatapan tajamnya. "Berani lo keluar rumah gue bunuh kedua orang tua lo" ancam satria kesal.
Chika terisak ia mengangguk takut. "I-iya. Aku tidak akan keluar rumah hiks, Kenapa nasib aku jadi seperti ini hiks aku cuma ingin ke rumah aku doang bukan kabur, hiks. Kenapa kak satria jahat sama a-aku, hiks" isak chika.
Satria yang mendengar itu menarik napas panjang. "Fine! Untuk kali ini gue bolehin lo nginep di rumah lo asalkan gue ikut, titik." Pasrah satria tidak tega melihat istrinya yang masih trauma gara-gara maling dan harus mendengar marahnya.
Chika menatap satria dengan wajah merah akibat menangis yang sialnya menambah cantik dan menggemaskan di mata satria. "Makasih kak satria, arghhh aku bahagia banget" teriak chika memeluk satria erat.
Dag...dig...dugg.
***
Satria dan chika masuk kedalam rumah yang langsung disambut kedua orangtuanya chika, satria duduk di kursi jelek menurutnya. Menatap istrinya yang berpelukan dengan orang tuanya.
"Kamu nginep sayang?" Tanya rania mengelus rambut chika.
Chika mengangguk. "Ya, aku sama kak satria nginep satu malam" jawab chika.
Ciko melirik sinis satria yang menatapnya mengejek. "Menantu sombong" sinis ciko.
Satria tidak menyahut ia menarik chika duduk di sampingnya. "kita tidur, yuk" ajak satria.
Chika mengangguk. Ia langsung berpamitan pada orang tuanya Menuju kamarnya diikuti satria dari belakang. "Waktu itu kakak enggak jadi nginep di sini, jadi sekarang kakak yakin mau tidur di sini?" Tanya chika sambil memasang seprai.
"Y-yakin karena ada lo" jawab satria sambil merebahkan tubuhnya di kasur kecil.
Chika merebahkan tubuhnya di samping suaminya, kasur yang hanya muat dua orang itupun harus berdempetan tidak seperti kasur mereka di Jakarta.
Satria menatap chika yang mulai memejamkan matanya, memeluk chika erat. "Panas banget" lirih satria.
Chika menatap satria yang penuh dengan keringat di wajahnya dan tubuhnya, bahkan bajunya saja basah karena keringat. "Aku nyalain kipas dulu" kata chika melepaskan pelukan satria ia langsung menyalakan kipas namun masih sama satria masih kepanasan.
"Masih panas" kesal satria melepaskan pakaiannya melemparnya asal. "Dari kecil gue hidup terus berdampingan dengan AC tapi malam ini gue jauh dari AC demi lo" sinis satria.
Chika menatap satria merasa bersalah. "Yaudah kalau gitu kita pulang saja" ajak chika bersiap-siap beranjak dari duduknya.
Satria menatap wajah istrinya yang terlihat sedih ia jadi tidak tega. "Eh jangan, di sini aja gue bisa ko tidur" tahan satria merebahkan kepalanya di paha chika. Menarik tangan chika. "Usap-usap" pinta satria.
Chika mengangguk ia mengusap-usap rambut satria lembut. "Kakak tidur dulu nanti aku nyusul" kata chika yang langsung diangguki satria.
Satria mengelus perut rata chika. "Perut lo rata banget gimana kalau gue buncitin, gue isi anak gue di dalam" kata satria asal.
Chika tidak merespon ia hanya mengiyakan apa kata satria yang menurutnya tidak penting. Menatap satria yang tidur pulas sambil memeluk pinggangnya. "Seandainya kakak lemah lembut mungkin aku bisa mencintai kakak" lirih chika mengusap pipi satria.
**
Satria menatap teman-temannya sengit, meneguk minuman alkohol yang sudah disediakan oleh tuan rumah, karyo. Mereka saat ini di rumah Karyo atas kemauan karyo.
"Jangan banyak minum nanti si chika susah punya anak" tegur regel.
Satria terkekeh kecil. "gue enggak butuh anak, gue cuma butuh chika" sahut satria.
"Jangan bicara seperti itu, nanti lo nyesel sendiri sebagai permepuan chika juga pasti ingin memiliki keturunan. Kalau dia tidak bisa mendapatkan itu dari lo, dia pasti cari suami lagi, alhasil lo ditinggalkan Chika" sahut melati---istri regel.
Satria melepaskan kancing baju atasan memperlihatkan dadanya. "Asal kalian tau chika enggak bakal ninggalin gue, dia harus bersama gue selamanya apapun itu yang terjadi" ucap satria terus meneguk minuman alkohol.
Jaka menatap satria. "Sekarang kemana istri lo?" Tanya jaka.
"Lagi tidur abis gue gempur semalaman" jawab satria.
"Stress" sinis Mereka.
Satria memejamkan matanya. "Gue kadang aneh sama diri gue sendiri kenapa gue bisa suka sama chika, padahal dia bukan tipe cewek yang gue inginkan, tapi setelah gue tatap pertama ketemu gue langsung jatuh cinta. Jantung gue berdegup kencang" ungkap satria keheranan.
"Secara chika cewek cantik umurnya masih muda banget, nurut, siapa sih yang enggak suka" kata melati.
"Kasihannya sering di kdrt sama suaminya sendiri" ucap regel.
"Bacot!" Sinis satria.
Mereka kembali mengobrol sedangkan satria mengotak-atik ponselnya menghubungi istrinya kalau ia sedang di luar. "Sial! Gue mabuk gini" dengus satria.
"Lo minum ngabisin stok alkohol gue anjirt" sinis regel.
"Lo yang ngundang gue" kata satria.
"Lo jangan pulang dulu sat, lo lagi mabuk nanti chika marah lagi sama lo" tahan karyo menarik satria yang hendak berdiri.
Satria mengangguk ia duduk kembali memejamkan matanya, biasanya ia tidak mabuk seperti ini tapi kenapa ia jadi mabuk gini m mungkin efek kurang tidur gara-gara menginap di rumah mertuanya. "Chika" gumam satria.
"Pelet apa yang si chika jampi-jampi sampai satria cinta gitu. Jutaan cewek di tolak mentah-mentah tapi giliran si chika dia langsung ke pincut. Padahal si chika masih muda banget untuk ni orang, dia aja baru lulus sekolah SMA." Heran mereka menatap satria yang tidur terus bergumam memanggil nama chika.
**

KAMU SEDANG MEMBACA
protective Devil [TAMAT]
Genç KurguSatria Kalandra biasa dipanggil satria pria berprofesi sebagai CEO muda di perusahaan miliknya, Satria official. Sekaligus mafia terkejut. Terobsesi dengan gadis cantik yang tidak sengaja ia temui. Chika kayara gadis berusia 21 tahun harus menerima...