5. LDR

1.9K 49 0
                                    

Kurang lebih satu bulan akhirnya chika bisa berjalan walaupun pelan-pelan tapi setidaknya ia bisa berjalan kembali tidak seperti waktu itu. Seperti sekarang ini ia berjalan menghampiri suaminya yang sedang mengobrol lewat telpon membelakangi dirinya.

Samar-samar chika mendengar obrolan satria yang berkata tegas pada lawan bicaranya lewat telpon. Jujur chika penasaran apa yang mereka bicarakan.

"Saya tidak mau tau pria itu harus segera ditangkap enak saja dia membawa kabur uang perusahaan yang jumlahnya besar, dia tidak tau siapa saya sebenernya" marah satria.

Chika berdiri di samping satria reflek satria menoleh tersenyum tipis sambil mengusap pipi chika. "Kakak kenapa marah-marah?" Tanya chika pelan.

Satria tidak langsung menjawab ia langsung memutuskan sambungan telponnya, dan mengotak-atik ponselnya. Menatap chika yang masih menunggu jawaban.

"Pria bodoh itu mengambil uang perusahaan yang jumlahnya tidak sedikit" jawab satria.

Chika terneyum tipis. "Kalau begitu selesaikan dengan baik-baik jangan marah-marah gitu" kata chika.

Satria mengangguk ia menatap chika dari atas sampai bawah. Kembali khawatir melihat netta yang kembali bisa berjalan seperti ini. "Ck! Kenapa keluar dari kamar sih, kamu baru sembuh" kata satria.

Chika menatap dirinya dari bawah sampai atas. "Kata dokter harus digerakkan supaya tidak kaku" ucap chika.

Satria membungkuk tubuhnya menyamakan tingginya dengan chika. Memajukan wajahnya lebih dekat, mengendus-endus leher chika. "Kenapa pakai parfum keluar kamar? Saya tidak suka kamu pakai parfum keluar kamar, bagaimana kalau pria lain mencium harum tubuh kamu.....makdunya parfum kamu" kesal satria.

Chika memegang kedua pundak satria. "Kak jangan berlebihan gini men----"

Drett...drettt.

Ponsel satria bunyi satria mendengus kesal ganggu saja, dengan terpaksa ia menjawab telpon, sebelum itu ia mengangkat tubuh chika. "Apa lagi sialan? Kau tidak menemukan dia?" Marah satria.

Chika terlonjat kaget ia langsung turun. "Aku takut jatuh" kata chika melihat tatapan satria menatapnya datar.

Satria menjauh dari chika. "Saya tidak mau tau hari ini juga kamu harus tangkap dia"

°^°°

"Italia? Kenapa dia cepat sekali berada di sana" heran satria.

°^°^

"Nanti saya pikirkan lagi, kamu telepon teman-teman saya beritahu mereka untuk segera kesana nanti saya segera kesana"

Setelah mengatakan itu satria langsung memutuskan sambungan telponnya ia menghampiri chika yang sedang melihat-lihat hiasan bunga. "Kita siap-siap pergi ke Italia" ajak satria.

Chika melotot sempurna. "E-enggak aku enggak mau ikut" tolak chika cepat.

"Kenapa? Kamu berani bantah saya? Kamu mau saya hukum?" Tanya satria marah.

Chika menggeleng. "E-enggak. Aku tidak mau ikut kesana karena kaki aku masih sakit, jika banyak gerak aku takut kaki aku makin parah. Aku di sini saja" alasan chika.

Satria menarik chika lebih dekat. "Kau berniat kabur, hmm?" Tanya satria tersenyum miring.

Chika menggeleng cepat. "T-tidak mana mungkin aku kabur, aku tidak akan kabur, kak" jawab chika.

"Apa jaminannya?" Tanya satria mengambil kater kecil di laci dekatnya mengelusnya di depan wajah chika membuat chika gemetar ketakutan.

Chika mundur dua langkah. "Aku tidak punya barang untuk jadi jam---"

protective Devil [TAMAT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang